HARI ini, (23 Juli 2018) sebagian warga di belahan planet bumi memperingati hari anak. Hari dimana menurut sebagian orang yang menjalaninya sebagai hari untuk mengingat masa-masa yang paling berkesan dan bersejarah dalam kisah perjalanan hidupnya.
Termasuk di Indonesia, beberapa acara dan kegiatan yang bertema tentang anak digalakkan. Di sekolah Sukma Bangsa Pidie, hari anak diperingati oleh para guru dengan cara menggunakan baju-baju unik yang khas, dan mirip dengan idola anak. Mulai dari Goku, Peri, Superman, Harry Potter, dan lain-lain.
Anak, di hari berbahagia ini mendapat kesempatan yang luar biasa perhatiannya dari orang tua, lingkungan sekitarnya dan juga negara. Namun harapannya, dan yang patut kita jadikan sebagai catatan, perhatian yang luar biasa itu tidak hanya bermula dan berhenti di hari ini saja. Melainkan harus diteruskan saban harinya dengan semaksimal mungkin.
Wabilkhusus para orang tua, hak setiap anak itu harus dipenuhi. Jika tidak, bukan tak mungkin anak tersebut --yang haknya terenggut dimasa kecil-- menjadi bumerang bagi orang tuanya dihari kelak.
Hari ini, coba kita renungi, berapa banyak anak yang lebih nyaman hidup dalam komunitas yang menyimpang dengan nilai dan norma yang berkembang. Itu tak bisa dimungkiri korelasinya dengan keluarga (orang tua) mereka.
Adanya komunitas Punk, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), dan komunitas "berandalan" lainnya, salah satu variabel penyebabnya ya karena orang tua: yang kurang memahami hak anaknya.
Semoga saja, kita menjadi orang tua yang mampu memenuhi hak anak. Dan untuk seluruh anak di seluruh dunia, selamat berkarya dan meninggikan cita-cita. Kalian merupakan harapan bagi semua warga dunia untuk melanjutkan peradaban manusia agar lebih beradab lagi. Nyanban