Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar yang pernah dilahirkan Indonesia pernah berpesan. Singkatnya; menulislah maka kau akan abadi.
Pram memang hidup pada sebuah generasi yang penuh gejolak. Media sosial yang kita nikmati hari ini, di masa lalu, berbentuk penangkapan dan pembungkaman melalui moncong kekuasaan. Tapi Pram adalah Pram, ia masih terus harum, dibanggakan bahkan diperdebatkan hingga ketika ia telah lama tiada.
, sebuah komunitas kreatif yang bergerak dengan ragam pendekatan, kerap melahirkan gagasan, melukiskan keresahan sosial, menyayikan jeritan ketidakadilan, hingga membukukan harapan-harapan atas apa-apa saja yang ingin diwujudkan. Jika pun tak kunjung menjadi kenyataan, sebuah karya yang telah mereka perbuat dan bukukan, akan menjadi saksi bahwa mereka tak hanya sekadar ada, tapi, berisi lagi peduli.
Kemarin, saat meet up KSI Chapter Banda Aceh sedang berlangsung, saat para kurator; ,
,
, sedang asyik-asyiknya memberikan materi. Para punggawa komunitas
memanggil saya sembari basa-basi haha-hihu dan langsung to the point dengan pertanyaan: "Kiban, kacok buku saboh? (Gimana, ambil (beli) buku satu?)" Begitu tanya bang Idrus
. Ia dan rekan-rekan the genk yang lain;
,
menimpali dan turut mengundang agar saya hadir dipeluluncuran buku mereka, yang mereka beri judul: "Judul di Belakang". Saya, dengan berat hati meminta maaf bahwa tak bisa hadir lantaran harus berpergian ke suatu tempat.
Sebagai sebentuk apresiasi dan ihwal selebrasi, tulisan ini tak ubahnya parsel atas selamat dan sukses untuk peluncuran buku "Judul di Belakang". Buku itu, saya rasa layak dibaca dan dimiliki segenap insan, istimewa para steemians.
Acara yang berlangsung kemarin (Minggu, 14/01/2018), sekalipun saya berhalangan, tapi saya tau dan yakin digarap sarat pesan dan makna. Seorang abang lagi kolega saya, bang Putra Hidayatullah, lelaki sederhana dengan otak cemerlang ini menjadi pembedah buku tersebut. Ini Putra bukan sembarang putra. Aceh tulen, lulusan SOAS London University. Tak kalah hebat, kurator senior steemit kak juga bagian dari pembedah buku tersebut. Keduanya, sore tadi, dalam bayangan saya, laksana dua mempelai bernas yang suka menggauli bacaan dan tulisan.
Seorang steemian yang berhadir mencatat salah satu pesan yang disampaikan oleh Bg Putra Hidayatullah:
Pesan di atas menjadi alarm atau warning untuk segenap kita, bahwa, ada tanggung jawab moral atas nama kemanusiaan, untuk mau menulis apa-apa saja yang tidak tersampaikan dari orang lain. Untuk apa? Agar pena kita menjadi corong pembela kebaikan dan kebenaran diatas ketidakadilan, sekaligus sebagai sebuah upaya pemenuhan hak-hak manusia sebagai entitas yang utuh.
Dari buku tersebut, ada salah satu benang merah yang menarik untuk ditarik. Dimana, jika buku tak ubahnya sebuah lukisan utuh, maka steemit menjadi sketsa awal menuju kesempurnaan sebuah lukisan. Artinya, untuk membukukan sebuah tulisan, steemit sudah cukup banyak menjadi ruang untuk belajar dan meningkatkan kualitas maupun kapasitas sebuah tulisan, hingga pada akhirnya layak dan sah-sah saja sebuah tulisan dari steemit terbukukan.
Maka, atas kelahiran buku ini diharapkan kelak, akan lahir lebih banyak lagi buku, terutama dari para steemian pemula, yang konon pengen sekali demikian, sayangnya ya begitu. Maksudnya, mau hebat tapi kurang berani dengan alasan klise, merasa belum pantas nan malu-malu. Akhirnya karena! Selamat atas buku barunya. Iqra!
Not:
Foto pertama bersumber dari kak , bang
diapit oleh dua bidadari. Foto kedua saya ambil dari fb-nya
. Sedangkan foto ketiga saya screenshoot dari histori WA-nya bang
.