MEMANJAKAN MURID
Lulus sebagai sarjana pendidikan akan menjadi seorang guru, tak membuat saya tertarik untuk mengabdi di lembaga formal. banyak alasan yang membuat saya enggan untuk terlibat didalamnya. sampai akhirnya, saya membaca sebuah tulisan di spanduk yang bertuliskan" tidak ada anak yang bodoh, mereka adalah hebat dan juara" yang ternyata milik sekolah milik sekolah yang saya mengajar, yaitu sekolah dengan strategi kecerdasan . dengan keyakinan bahwa sekolah ini beda dan mampu perubahan, saya pun tertarik untuk mengajar di sekolah tersebut dengan mengajar pelajaran kitab, dan alhamdulillah berhasil.
Pengalaman pertama membawa kesan bahwa sekolah ini memanjakan murid. Terbukti saat saya masuk gerbang sekolah, sudah disambut oleh beberapa guru dan kepala sekolah. Servis pun berlanjut ketika pembelajaran belajar mengajar dilaksanakan. berbeda dengan sekolah umum lainnya. sekolah ini guru dituntut untuk membuat persiapan belajar mengajar yang sangat rumit dan kreativitas yang tinggi. ini hanya untuk satu tujuan, yaitu bagaimana proses belajar "Raja" kecil itu menyenangkan dan materi yang disampaikan mampu menyentuh memori jangka panjang mereka.
Lalu beginilah hasil sampai saat ini, saya masih kurang puas dengan pencapaian saya. Artinya, walaupun perangkat itu dipersiapkan sedemikian rupa dengan harapan siswa mampu mencapai kompetensi sesuai yang diharapkan, apabila siswa belum siap dengan cara yang saya berikan, maka hasilnya pun kurang maksimal. Harapan untuk menjadi mereka juara sesuai dengan kecerdasannya menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan, khusus bagi siswa yang punya keunikan sendiri dalam berfikir untuk kecerdasan. makanya untuk memanjakan murid kita harus membebaskan cara berfikir untuk murid dalam memanjakan murid.