Cerita sebelumnya: Nyawa Taruhannya - Lanjutan
“Apa jawabanmu?” Lelaki di sebelahku mulai melonggarkan genggamannya, dan kini berada tepat di hadapanku.
Wajahnya direndahkan hingga pandangan mata kami menjadi sejajar.
“Tidak!” ucapku tegas sembari menghentak tangan dan membalik badan, berlari secepat yang aku bisa.
Aku tak mau ambil risiko berkelahi dengan mereka. Jika harus lawan satu orang saja mungkin tak masalah, tapi jika dua orang dengan salah satu berkekuatan jauh di atasku … itu sama saja bunuh diri.
Kedua lelaki itu mengejarku hingga begitu dekat. Hampir saja aku putus asa ketika napas yang tersenggal mulai membuatku batuk. Untung saja terlihat seseorang yang kukenal, sedang menerima uang dari orang lain yang baru saja turun dari motornya.
Seketika kekuatanku berkumpul kembali. Kuhirup napas yang tersisa sembari berteriak kencang, “Cil! Kancil!!”
Lega rasanya ketika sahabat lamaku itu menanggapi dengan tangan kanan yang diangkatnya ke atas. Sepertinya dia sudah membaca keadaan, sehingga langsung memutar kepala motornya ke arah yang berlawanan sembari mengengkol benda tua itu. Tepat saat aku melompat ke boncengannya, kendaraan ini berbunyi memekakkan telinga dan melaju jauh meninggalkan kedua pria itu.
“Hah … hah …” Aku mulai mengatur napas yang berantakan sembari menyandarkan kening pada punggung Kancil. Sudah bertahun lamanya kami tak bisa lagi berkomunikasi seperti saat pertama kali bertemu, kini ia menyelamatkan nyawaku di saat yang tepat.
“Itu orangnya Togap, kan?” tanya lelaki yang berusia sebaya denganku itu.
“Iya,” jawabku lemas. Tenagaku sudah habis digunakan untuk berlari.
“Kalo gitu, kita harus cepat ke pasar, mereka nggak mungkin berdua aja.”
“Iya, kah?”
Belum sempat kukeluarkan gawai untuk menghubungi si kembar, Kancil menghentikan motornya tiba-tiba, sembari berbelok ke arah yang lain.
“Itu mobil anak buahnya.” Nada suara mantan sahabatku itu terdengar bergetar. Pantas saja dia langsung putar haluan, memasuki perumahan dengan jalanan kecil yang tak akan bisa dimasuki mobil. Setidaknya, kami bisa melarikan diri dari anak buah Togap yang berada di mobil itu.
“Panggil kawan-kawan lainnya! Aku tunggu di Pasar Siteba!” Perintahku tanpa banyak basa-basi pada Fajar yang baru saja mengangkat telepon.
Tak bisa kutebak ada berapa orang anak buah Togap yang saat ini berada di wilayah Siteba. Mereka yang berada di mobil tadi pastinya tidak termasuk dua orang yang menghampiriku di sungai. Belum lagi saat ini ada tiga motor di belakang kami yang mengikuti hingga ke gang senggol menuju pasar.
“Kamu masuk duluan! Bang Jun ada di tempat biasa. Aku langsung ke tempat Bang Budi,” ucap sahabatku itu sembari mengurangi kecepatan motor, tepat ketika kami sampai di bagian belakang pasar.
Separuh melompat, aku segera turun dan memasuki pasar dari tempat pemotongan daging. Bau anyir darah sapi dan ayam membuat jantungku semakin berdegup tak karuan. Saat ini, aku tak hanya mengkhawatirkan diriku sendiri, tapi juga Kancil. Namun, sarannya untuk segera meraih Bang Jun dan Bang Budi yang tak pernah berkumpul di satu titik, sangatlah tepat. Perhitungannya sudah sangat matang, kami berdua saja tidak akan cukup untuk melawan enam orang yang tadi mengikuti. Jikapun bisa meraih salah satu di antara Bang Jun atau Bang Budi, kemungkinan juga tak akan cukup untuk melawan personil mereka yang pastinya akan bertambah dengan sejumlah orang yang berada di mobil tadi. Belum lagi jika datang musuh beratnya Chandra itu ... Ah! Pikiranku jadi berlarian kesana kemari.
***
Adakah yang penasaran sama cerita-cerita sebelumnya? Mampir sebentar ke sini, yuk!Prolog
BAB 1 Hidup yang Kuperjuangkan dan Lanjutannya
BAB 2 Perjamuan dan Lanjutannya
BAB 3 Teman Lama dan Lanjutannya
BAB 4 Ingin Tahu dan Lanjutannya
BAB 5 Bersamanya dan Lanjutannya
BAB 6 Kau Pikir Aku Siapa? dan Lanjutannya
BAB 7 Get Ready dan Lanjutannya
BAB 8 Break Shot dan Lanjutannya
BAB 9 Let's Play dan Lanjutannya
BAB 10 Tentang Dia (yang Tak Bisa Bersama Lagi) dan Lanjutannya
BAB 11 Triple Ace? dan Lanjutannya dan Lanjutannya
BAB 12 (Masih) Tentang Dia dan Lanjutannya
BAB 13 Real Match dan Lanjutannya dan Lanjutannya
BAB 14 Dunia Baru dan Lanjutannya
BAB 15 Salah Sasaran dan Lanjutannya
BAB 16 Nyawa Taruhannya dan Lanjutannya
Posted from my blog with SteemPress : https://endanghadiyanti.com/2018/11/01/ayana-part-36-nyawa-taruhannya-lanjutan-2/