Saya coba ikutan kontes KHANZAYUMIDI ini yah, kk :)
Suatu Hari di 2009
“Aku mau putus,” ucapku akhirnya. Sudah hampir setengah jam kami duduk di ruang tamu ini tanpa suara.
“Hm ...,” jawabnya begitu saja.
Aku menghela napas panjang. Apa-apaan ini? Nanya nggak, ngejawab nggak, cuma bersuara sedikit gitu aja.
“Ini sudah hampir dua tahun, dan kamu belum bisa kasi kepastian tentang hubungan kita. Biasanya aku nggak bisa pacaran lebih dari satu tahun tanpa kejelasan begini.” Aku menjelaskan, walau tanpa diminta.
Tak ada selaan, bantahan ataupun jawaban.
“Balikin motor aku, kan kita udah nggak pacaran lagi.” Aku mengulurkan tangan, meminta kunci motor yang sedari tadi dia mainkan di tangannya.
Selama pacaran dengannya, memang aku hampir tak pernah lagi membawa motor sendiri, selalu dia yang siap sedia mengantarku kemana-mana. Daripada repot mengantar jemput, kubiarkan saja motor itu bermalam selalu di rumahnya.
“Kamu jadi liburan di Padang, Idul Adha ini?” Akhirnya dia bersuara.
“Ya,”
“Aku pinjam motormu dulu, nanti biar aku jemput kamu di Padang.”
Aku terkesima. Bukannya aku barusan minta putus? Kenapa tanggapannya malah begitu? Jika dia ke Padang nanti, berarti dia akan kenalan dengan orang tuaku. Apakah ini berarti serius? Akan menikahkah kami tak lama lagi?
Suatu Hari di 2010
Pekerjaan berat kami akhirnya tuntas. Dengan bantuannya, aku berhasil mengurai masalah lahan sawit yang menenggelamkan uang orang tuaku sejak tahun 2006. Sulit memang mempercayai orang begitu saja, apalagi jika sudah bersinggungan dengan uang.
“Ini tahun ketiga kita. Aku udah wisuda dan kamu belum. Kamu maunya gimana?” tanyaku sembari mengaduk air akar yang berwarna hijau segar. Entah mengapa, sudah menjadi kebiasaanku mengevaluasi hubungan setiap kali setahun berlalu. Hanya dia yang berhasil bertahan sejauh ini bersamaku.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, dia tak banyak bicara dan hanya diam. Menikmati air akarnya sembari menatap kendaraan yang lalu lalang di hadapan kami.
“Sebentar lagi juga aku selesai,” jawabnya sembari berdiri. Ia sudah menyelesaikan minumannya dan hendak membayar pada Ajo.
Aku tak mau beranjak. Aku sudah tak sabar mendengar jawabannya. Jika memang tak bisa dengannya, aku akan mencari cowok lain yang siap menjadi suamiku.
“Percayalah, jika tiba waktunya nanti ... masalah kita akan selesai, sama seperti kasus sawit kemarin,” bisiknya lembut sembari mengulurkan tangan. Jarang sekali dia romantis begini. Jangan harap dapat melihat kami bergandengan tangan, duduk berdekatan saja hampir tidak pernah, kecuali di atas motor.
2011
Aku sudah kehabisan kesabaran. Aku akan menikah di Bulan November tahun 2011 ini, tak peduli dengan siapapun itu. Niatku itu sudah kubahas dengannya sebelum keberangkatanku ke Rengat untuk bekerja selama seminggu. Berharap akan ada sebuah kepastian darinya setelah aku pulang nanti. Alhasil, ketika harus menghadapi sikap diamnya untuk yang kesekian kali, emosiku pun memuncak.
“Yuk, kita ke rumah Pakdemu,” ucapannya bagaikan air yang disiram pada tanah kering. Seketika amarahku hilang. Di Kota Pekanbaru ini, Pakde adalah perwakilan dari kedua orang tuaku.
Pada akhirnya ... kami putus juga!
18 November 2011, janji suci yang disaksikan para penghuni langit dan bumi, terucapkan sudah. 20/11/2011 kami menjadi raja dan ratu sehari di rumah kedua orang tuaku, di Padang.
Posted from my blog with SteemPress : https://endanghadiyanti.com/2018/07/23/kontes-mantan-terindah/