TAK ada Opor Ayam, daging rendang, ketupat, ataupun segala hidangan yang berkaitan dengan lebaran. Menjalani lebaran di perantauan, jauh dari sanak saudara adalah salah satu resiko yang harus diterima. Seperti yang saya rasakan hari ini. Selepas kerja hanya bisa menelphone keluarga dan memberi ucapan Selamat Lebaran serta minta maaf atas segala kesalahan kepada Bapak dan Ibu tercinta. Maaf, karena belum bisa menemani disaat senja, meracikan teh atau secangkir kopi hangat di pagi hari. Berkumpul bersama keluarga dan menikmati kebersamaan merupakan hal yang paling dirindukan.
BERELEBARAN di tanah orang pastinya berbeda dengan di negeri sendiri. Di sini tidak ada masakan ibu,atau jajan dalam toples cantik yang tertata di atas meja. Entah berapa kali lebaran, suasana tersebut tidak pernah saya rasakan. Kendati demikian, aka nada hikmah di balik sebuah peristiwa. Dengan semakin bertambahnya lebaran dan waktu yang dilalui, kualitas kesabaran kian bertambah. Segala kenangan di kampung halaman adalah obat rindu saat baying-bayang keluarga datang menyergap. Samakin memupuk rasa rindu dan sayang pada keluarga di yang ditinggal di kampung halaman.
Menjadi perantau, akan lebih menghargai rasa kebersamaan dan hangatnya hubungan keluarga. Mengerti bagaimana hidup seorang diri dan memaknai moment lebaran secara eksklusife dari Allah. Serta lebih bersyukur dan bersabar, karena semua demi kebaikan di masa depan.
Taiwan, 22 Agustus 2018
**
Posted from my blog with SteemPress : https://aksaradiallova.org/2018/08/22/memaknai-lebaran-di-perantauan/