Entah dari mana asalnya, tiba-tiba aku melihat seekor caplak (Ixodida) di pangkal lengan kiriku. Oh ya, caplak ini sering juga kita kenal dengan nama kutu babi. Dalam bahasa Aceh disebut piet.
Kukira awalnya itu semacam daging lebih (asoe leubeh) karena ketika kusentuh sangat sakit dan warnanya merah menghitam. Aku pun jadi berpikiran macam-macam. Bagaimana kalau itu bukan daging lebih biasa. Ingin kucabut tapi aku juga takut, bagaimana kalau itu malah memperburuk gejalanya. Akhirnya kubiarkan saja dia di situ sampai malamnya aku tahu bahwa yang menempel itu ternyata caplak.
Oh caplak. Dari mana engkau berasal? Sebagai anak ladang aku pernah beberapa kali digigit caplak di masa kecilku. Sebagai anak kampung, bermain di hutan adalah kebiasaan kami. Kadang-kadang tanpa sepengetahuan kami si caplak itu telah hinggap di kelopak mata. Yang lebih parah kalau dia menempel di dalam rongga telinga. Mengambilnya sangat susah karena dia menempel dengan sangat kuat.
Dan setelah sekian lama, bisa merasakan digigit kembali oleh caplak di Banda Aceh ini rasanya aneh. Tapi ya normal-normal saja, sebab di Banda ini pun masih ada hutannya walau tak seberapa. Bisa saja makhluk mungil itu diterbangkan angin. Lalu hinggap di lenganku.
Walaupun kecil mungil, gigitan caplak ini sangat sakit. Yang kurasakan sekarang ini misalnya, walaupun sudah dua hari dia kulepaskan dari kulitku, rasa sakitnya masih terasa sampai hari ini. Bekas gigitannya juga belum hilang.
Caplak oh caplak...[]
Posted from my blog with SteemPress : https://senaraicinta.com/2018/07/29/caplak/