Hubungan antara laki-laki dengan perempuan selalu menarik dicermati. Dan entah mengapa, sejak dulu saya kurang suka dengan ungkapan 'di balik laki-laki yang sukses pasti ada seorang istri yang luar biasa'. Lo, bukankah seharusnya saya senang karena ada sebutan 'luar biasa' di sana? Iya, tapi penempatan kata 'di balik' itu yang membuat saya kurang sreg.
Kata 'di balik' mengesankan peran perempuan yang hanya berfungsi dan bekerja di balik layar. Melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik untuk menunjang kesuksesan (karier atau apa pun namanya) seorang lelaki atau suami. Sampai akhirnya, dalam sebuah seminar kepemimpinan yang saya ikuti, saya melihat seorang pria yang notabenenya sebagai suami, naik ke panggung sambil menggandeng istrinya, lalu merangkul bahunya, kemudian ia mengatakan; seorang suami yang sukses pasti didampingi dan berdiri di sisinya istri yang sukses juga.
Wow! Saya terkesima dengan pernyataan itu. Saya mengamati wajah pasangan suami istri itu. Dalam banyak hal mereka pantas dijadikan contoh. Dalam konteks hubungan suami istri, mereka adalah pasangan yang tumbuh bersama. Mereka membaca buku dan banyak menerima informasi yang sama. Di luar konteks pekerjaan, mereka sering mengikuti berbagai acara bersama. Memiliki banyak teman yang mayoritas saling dikenal oleh satu sama lain. Kondisi ini membuat mereka setara tanpa mengabaikan peran masing-masing sebagai istri maupun suami. Justru lebih memahami peran mereka, bukan hanya sebagai pasangan melainkan sebagai leader atau pemimpin di muka bumi. Sebagai khalifah!
Mereka tak pernah mengatakan pada pasangannya, inilah duniaku kamu tak bisa memasukinya. Tidak, mereka tidak pernah begitu. Mereka sukses bersama.
Di air terjun Kuta Malaka, Samahani, Aceh Besar.
Setiap orang memiliki definisi sukses yang berbeda. Memiliki standar sukses yang berbeda-beda. Bagaimana pun kondisinya sebuah pasangan idealnya tumbuh bersama agar tidak ada yang jomplang. Bukankah perempuan diciptakan dari rusuk pria? Dalam pandangan awam saya, itu bermakna setiap pasangan haruslah saling bersisian atau berdampingan. Tak ada yang di depan atau di belakang, tak ada yang lebih unggul atau terbelakang.
Saya pernah menyaksikan seorang istri yang tanpa merasa bersalah enggan pulang dengan alasan 'capek' karena jarak yang lumayan jauh. Pernah juga seorang pria dengan rasa kurang percaya diri mengatakan pasangannya 'hanya' ibu rumah tangga. Masalahnya bukan itu, masalahnya mereka tidak tumbuh bersama. Dampaknya jadi kurang memiliki satu sama lainnya, merasa tak bersalah jika salah satunya saling cuek. Ya, bagaimana mau memiliki kalau salah satunya sudah tak terjangkau.[]
Posted from my blog with SteemPress : https://senaraicinta.com/2018/07/12/honey-lets-grow-up-with-me/