Waktu terus berlalu, seiring waktu kau beranjak remaja. Remajamu aneh. Sangat berbeda dengan remaja kami. Pergelokan masa remajamu lebih banyak tantangan dan rintangan. Rasa pedih yang kau rasa pun lebih pedih dari pada rasa perihku. Namun, biar pun begitu. Manjamu telah membuatmu merasa lebih berada di luar batas norma-norma dan kewajaran.
Sebuah masa yang seharusnya dilewati dengan bimbingan. Namun, semua itu seakan hilang kontrol. Entah aku yang tak lagi memiliki waktu untuk bersamamu. Karena iya, aku telah pun berada jauh dari dirimu.
Tak sempat aku melihat tumbuh kembangmu, tak sempat aku berkomuniksi denganmu. Karena itu engkau melunjak. Bahkan entah didikan dari mana yang engkau dapat, sekarang kau ganas bak seekor harimau kelaparan.
Sekarang kucoba berikan perhatian dan konsekuensi yang memang harus kumulai meski itu berat untuk kuterapkan karena jika pun diibaratkan seperti kayu, engkau telah pun menjadi ranting yang sedikit besar, terlalu sulit untuk kubengkokkan. Dan jika diibaratkan rotan, mungkin harus ku layu, agar dia bisa bengkok dan jadi seperti yang diinginkan.
Apalah daya dia bukanlah rotan ataupun kayu melainkan seorang insan yang lagi mencari jati diri. Kutak ingin nanti engkau salah langkah juga salah arah dan menemukan jati diri yang salah menurut agama atau norma-norma.
Akan kucoba semampuku dan akan kucoba bersabar. Karena tugas kita hanya berusaha dan bukankah segala usaha itu hanya perantara atau penyebab. Dan hanya Allah lah sebaik-baik tempat berserah diri.
Jika aku tak mampu lagi maka setidaknya aku telah mencoba merawut rotan.
Saleum meutaloe syedara sahabat steemian's & bloger's.
Semoga hari-hari kita selalu dalam lindungan beserta rahmat sang maha kuasa.
Posted from my blog with SteemPress : http://jubagarang.epizy.com/wp/2018/09/17/haruskah-menyerah/