Lahir dan tumbuh besar di desa Mutik, dengan tanah berpasir. Masa kanak-kanak dihabiskan di tanah coklat, tempat ayahnya bertugas, menjadi abdi negara. Pulang ke kampung Buni, tempat tugas ayahnya yang baru. Karena kakeknya telah tua keronta. Satu persatu Orang kesayangan Ligat kembali menghadap ilahi, tidur di alam kubur. Nenek dari pihak ayahnya yang duluan meninggalkannya. Setelah itu disusul dengan kakek dari pihak ibunya, saat Ligat di rantah tanah bertuah ibu kota provinsi, nenek dari pihak ibunya meninggakannya. Terakhir masih ketika diperantauan, ayah kesayangan yang menjadi tumpuan hidup si Ligat pun telah pergi untuk selamanya. Semua telah pergi sekarang, ketika dia mula memutuskan menetap bersama ibunya yang di bawa si Perantau, dan ikut merantau membuang tanah asalanya jua. Hingga sekarang dia pun memilih tak berdiam bersama ibunya, dia lebih memilih menetap di desa orang, meski masih tak terlalu jauh berjarak dari ibunya.
Sungguh tak mengapa bila semua menganggapnya asing. Bahkan tak mau tahu-menahu, biarkan saja. Dia anak si perantau yang ikut merantau yang tak sempat memangku dan mengantarkan bisik pada telinga kanan orang kesayangannya. Kecuali ayahnya yang sempat dia lihat hembusan nafas sengkak terakhir kalinya.
Kau anak si perantau, teruslah tegar. Karena bagaimanapun di dunia ini kita adalah bak perantau yang mencari bekal lalu pulang menghadap ilahi, di sana tempat kekal abadi.
Ini, tanah tuhanku yang kupijak. Ketika kau berkata ini tanah moyangmu. Aku akan bertanya, nenek moyangmu milik siapa? Kau anak si perantau yang terus merantau, kembalilah bila kau ingin, karena berjuta kisah, baru engkau turunkan pada generasi selanjutnya yang siap menjadi si perantau jua. Kau asoe lhok tak usah berlagak hebat dihadap mereka, karena kau berani begitu karena di sana banyak ahli warismu. Sempatkanlah hidup di tanah rantau dan berpindah-pindah, maka kau adalah asoe lhok yang sebenar.
Anak si Perantau yang ikut merantau bersama manis, pedas tanah rantau. masih banyak kisah yang ingin ku bagikan bersama imaginasi ini, tapi mereka berkata "Cukup, cukup, cukup." Dan sudah semestinya aku mencukupinya. Dan, aku akan mulai merayapkan pikiran ini untuk terbang bersama alam hayal yang lebih tinggi. Mencapai rasa di atas rasa. Bermain dalam hayal fikirku.
Dia anak si perantau dan akan merantau mengikuti jejak si perantau. Yang di tanah kelahirannya dia tak dikenal, di tanah ibunya menetap dia dianggap perantau, pada tanah tinggalnya dia pendatang, pada pikirannya dia adalah perantau.
TAMAT.
Love you All.
Terima kasih kepada sahabat yang terus mendukungku dalam semangat jemu, kau tak berhenti meyemangati. Dalam harga kau buat aku bangga.
Ini adalah coretan pertama diriku melatih diri. Maaf jika banyak yang salah, maklumi saja jika banyak yang hambar. Karena pena ini baru saja bermula.
Image Source: Image 1 | Image 2 | Image 3
Posted from my blog with SteemPress : http://jubagarang.epizy.com/wp/2018/08/06/tanah-tak-berasal-anak-si-perantau-the-end/