Setiap yang bernyawa pasti merasai mati, sayangnya dalam dari 24 jam seharinya sedikit sekali ada orang yang memanfaatkan 1 atau 2 menit saja untuk mengingat akan kematian. Padahal, coba kita sekali-kali kita mengingat bagaimana seandainya kita tersadarkan dalam kondisi tidak bisa bergerak, habis sudah kesempatan kita lewatkan.
Pelajaran kecil lainnya yang berdampak besar, mungkin dengan mengunjungi rumah sakit, baik itu dengan kita sendiri yang sakit ataupun sekedar mengunjungi kerabat dan sahabat. Kemudian, lihat lah tubuh-tubuh yang terbaring lemas, dari bayi, anak-anak, muda, tua, nyaris saban hari ada saja mantan pasien naik pangkat menjadi jenazah di keluarkan dari ruangan.
Tangisan dan air mata bukan lagi pemandangan langka. Berbagai macam penyakit diderita, mulai dari kronis, sedang sampai yang ringan, berikut peluang kesembuhan yang pastinya kita tidak sanggup mendengarnya. Allahu Akbar,..andai kita sedikit saja mencoba merasakannya, tak usah sakitnya, tapi rasakan saja apa yang sedang dipikirkan oleh mereka.
Mereka yang kaya, miskin, tua, muda, pejabat dan rakyat jelata tidak lagi membutuhkan apa-apa selain kesembuhan. Bayangkan saja kita yang berbaring di sana. Walaupun memang hidup dan mati ada di tangan Yang Maha Kuasa Allah SWT, tetapi mari kita resapi, seberapa jarak antara kita dan kematian.
"Rupanya, sangat tak penting kapan aku dilahirkan jika kubandingkan dengan kapan aku dimatikan"
Posted from my blog with : https://rizal-sahabat.000webhostapp.com/2018/09/hari-jadi-dan-hari-mati