Pernahkah kamu melihat orang yang membawa cermin kemana-mana? Tentunya pernah bahkan sering, bukan?
Jika yang dimaksud adalah cermin hias maka kebanyakan wanita akan membawanya dalam tas dan itu jarang diketahui umum. Kecuali di angkutan umum dan kebetulan memakainya.
Pembawa cermin yang aku maksud adalah mereka orang-orang yang selalu menilai penampilan orang. Mengkritisi apapun atribut atau gaya orang lain.
Senang sekali memberi masukan. Mengingatkan orang untuk berkaca akan perbuatan, perkataan bahkan kehidupan mereka secara pribadi. Dan tanpa diminta pun mereka dengan senang hati menggunakan cermin itu dimana pun kaki mereka berpijak. Mulut dan mata mereka akan aktif dengan sendirinya.
Dan orang-orang yang suka menjadi penenteng cermin seperti itu lupa untuk bercermin sendiri. Karena sibuk mencerminkan orang lain.
Apa mereka untung? Tentu tidak. Malah bisa jadi kerugian yang mereka terima imbasnya lebih besar untuk kehidupan mereka secara umum maupun pribadi.
Contohnya mereka akan kehilangan orang terdekat. Karena orang dekatlah yang sering terkena dampak cerminnya. Dijauhi, tidak dihargai lagi. Akan banyak orang bertopeng baik di depannya tapi memburuk-burukan dirinya di belakang. Yang paling berpengaruh adalah dia lupa mengoreksi diri sendiri dan memperbaiki kesalahannya. Waktunya hanya diisi untuk menilai orang lain. Hidupnya hanya sebagai komentator tanpa bayar. Rugi, serugi-ruginya.
Karena tidak semua orang suka diberi kritik maupun saran apalagi terlalu sering.
Pembawa cermin bisa juga dikatakan tukang ukur badan. Mereka bisa mengukur badan orang lain tapi tidak dengan dirinya sendiri. Akan kesulitan secara keseluruhan. Tapi dengan leluasa mengukur tiap centi tubuh orang lain.
Sama bukan? Yah, pribadi tipe ini bisa dikatakan sakit jiwanya. Mengapa? Karena kepedulian yang berlebihan akhirnya mendekati sifat suka mencampuri urusan orang lain, perfectionist, egois dan sederetan sikap ini adalah momok buruk bagi pemiliknya. Diasingkan dari suatu pertemanan, bahkan lingkungan.
Bukankah setiap orang tidak suka privasinya diusik? Pasti jawabnya iya.
Jadi jika ada pembawa cermin dan tukang ukur bertipe seperti ini anggap saja pengingat. Bahwa, jika kita melihat orang berkelakuan seperti itu tidak suka maka kita harus menerapkan pada diri untuk tidak berkarakter buruk seperti mereka.
Menjadi cermin yang memantulkan kebaikan, memberi pantulan senyum. Maka aura positif akan didapatkan. Keuntungan berlipat. Dari diri sendiri diterapkan membawa cermin untuk keperluan pribadi. Agar kita tahu bahwa perbuatan dan perkataan kita tidak sampai menyakiti yang lain. Bukan sebaliknya.
Begitu pula mengukur kemampuan diri sendiri dalam menghadapi problematika kehidupan. Warna warni hidup untuk dijadikan pelajaran. Bukan malah mengukur dan mengurusi orang lain terlampau jauh.
Semua berawal dari pola pikir dan hati nurani.
Mari bercermin!
Posted from my blog with SteemPress : http://ucizahra.epizy.com/2018/10/23/pembawa-cermin/