Markas Militer Belanda di Embong Ijuk, Rejang Musi, circa 1876
Ekspedisi 1819 merupakan perjalanan pertama orang Eropah memasuki wilayah pedalaman Rejang, sekaligus yang terakhir hingga tahun 1830........
Ekspedisi ini merupakan perjalanan pertama orang Eropah memasuki wilayah Rejang, sekaligus yang terakhir hingga tahun 1830. Hingga Sumatera sepenuhnya dalam kekuasaan Belanda hasil dari Traktat London Maret 1824, Rejang Musi-Tengah berikut Empat Lawang masih merupakan negeri-negeri yang merdeka. Militer Belanda pun masih dikonsentrasikan untuk Perang Diponegoro dan masa peralihan di Bengkulu pasca Traktat London.
Belanda mulai merencanakan untuk merintis jalan dari Bengkulu menuju Palembang pada 1831, karena dengan Traktat London akibat utamanya Palembang dan Bengkulu harus memiliki koneksi. Asisten Residen Bengkulu J.H. Knoerle juga mempertimbangkan, bahwa dari segi efektivitas militer, hubungan darat Bengkulu-Palembang lebih menguntungkan dan cepat dibandingkan dengan jalur laut. Hubungan melalui laut itu juga berarti sama dengan harus memutari hampir setengah pulau Sumatera.
Adanya jalan itu nanti juga, maka Belanda bisa menjaga kestabilan keamanan di semua wilayah-wilayah di Sumatera, dengan cara pengerahan militer yang lebih cepat untuk menundukkan semua wilayah-wilayah pedalaman yang berpotensi menentang dan melawan Belanda. Seperti salah satunya adalah orang Pasemah, yang dari masa kekuasaan Inggris dahulu telah menjadi duri dalam daging bagi orang Eropa untuk penguasaan di wilayah Selatan Sumatera. Dengan pembukaan jalan, maka pengerahan militer pun menjadi lebih cepat dan efektif untuk menundukkan wilayah Pasemah. Dengan dapat dikuasainya wilayah Rejang Musi-Tengah dan Pasemah pada 1870 serta wilayah-wilayah pedalaman lainnya di Sumatera, terbukti efektif militer Belanda dapat berkonsentrasi dalam upaya menundukkan Aceh.
Bengkulu – Palembang pada masa kekuasaan Inggris tidak memiliki koneksi dengan Rejang Musi-Tengah. Pada 1748, Inggris pernah mencoba membuat jalan menuju Palembang via Tebing Tinggi, yang ditempuh mulai dari Pasemah Ulu Manna. Ekspedisi ini berhasil mencapai Palembang dalam waktu 12 hari. Namun, selanjutnya jalur ini tidak terdengar lagi. Jalur lain yang pernah dicoba dipakai Inggris untuk menuju Palembang adalah melalui jalur sungai Ketahun-Kerinci selanjutnya menuju ke Jambi.
Dalam usaha untuk menembus jalur darat menuju Palembang itu, pada 1831 Belanda mulai merealisasikannya dengan melakukan terlebih dahulu mengumpulkan informasi dari orang-orang pribumi tentang jalur-jalur ke arah pedalaman, karena ternyata dokumen-dokumen yang ditinggalkan Inggris tidak ada informasi tentang wilayah pedalaman, kecuali keterangan lisan Charles Miller yang dicatat oleh William Marsden. Pengumpulan informasi ini bertujuan untuk menentukan jalur mana yang paling baik dan cepat untuk menuju Tebing Tinggi untuk selanjutnya menuju Palembang. Hasil semua itu kemudian tertuang dalam peta sketsa Schets van de Palembangsche Landschappen Redjang en Ampat Lawang, bertahun 1831.
Beberapa jalan atau jalan setapak untuk menghubungkan Bengkulu dan Tebing Tinggi pada waktu itu yang dicoba untuk dipetakan berdasarkan informasi dari orang-orang pribumi adalah:
- Dari Bengkulu ke Rindu Hati (Dusun perbatasan di wilayah Bengkulu) melalui wilayah Rejang.
- Dari Bengkulu melalui Bukit Kalut menuju Rejang Musi-Tengah lalu menyusuri Sungai Lamur melewati wilayah Proatin Duabelas.
- Melalui wilayah Seluma menyusuri sungai menuju Bukit Kemuning lalu ke Sindang dan Empat Lawang.
- Dari Bengkulu ke Manna kemudian menyusuri sungai dari Dusun Lubuk Tapu di Pasemah Ulu Manna.
- Melewati wilayah Kedurang menyusuri Bukit Bandakaro kemudian menuju wilayah Pasemah
Tiga cara pertama yang adalah jalur tradisional yang telah sering dilewati oleh masyarakat dengan berjalan kaki atau menggunakan kerbau. Dari hasil pemetaan dan informasi pribumi, maka diperoleh jalur yang paling baik adalah jalur Bengkulu, Rindu Hati, wilayah Rejang Musi-Tengah dan Pasemah-Empat Lawang. Jalur ini sebenarnya merupakan jalur tradisional yang telah lama dikenal penduduk setempat dan dipergunakan untuk hubungan antara masyarakat Rindu Hati dengan Rejang Musi-Tengah. Pada hari-hari dagang, jalur ini akan ramai dilalui para pedagang dari Taba Penanjung, Bengkulu, bahkan Seluma. Jalannya cukup terpelihara, walaupun badan jalan sempit dan medannya juga begitu berat, namun memungkinkan untuk dilalui kerbau yang membawa meriam-meriam atau menarik kereta-kereta bekal. (Bersambung)
| Referensi | |
|---|---|
| Bastion, Adolf. Indonesien Oder Die Inseln Des Malayischen Archipel. Berlin: Ferd. Dümmlers Verlagsbuchhandlung Harrwitz und Gossmann. 1886. | |
| Colombijn, Freek, A Moving History of Middle Sumatra, 1600–1870 dalam Modern Asian Studies 39, 1 (2005) pp. 1–38. 2005. Cambrige: Cambridge University Press. | |
| Gids: Nieuwe Vaderlandsche Letteroefeningen, Amsterdam: NV Weekblad De Groen, 1837 | |
| Panitia Penyusunan Sejarah Kepahiang, Rejang Musi-Tengah, 400 Tahun Kepahiang, Dikbud Kabupaten Kepahiang, 2017 | |
| Marsden, William. The History of Sumatera. London: T. Payne & Son. 1811. | |
| Van Rees, W.A. De Annexatie der Redjang. Rotterdam: H.Nijgh. 1860 |
| Arsip | |
|---|---|
| Schets van de Palembangsche Landschappen Redjang en Ampat Lawang, 29 Juli 1832. ANRI KG.63. |