Saya sendiri setidaknya memiliki dua hobi yang sudah tak pernah saya geluti lagi, yaitu bersepeda dan naik gunung. Dulunya, kedua hobi ini adalah candu. Saya selalu punya agenda khusus untuk menekuninya.
Namun saat ini, saya harus berbesar hati karena hobi tersebut tak bisa saya lakukan lagi. Kondisi saya sekarang telah membuat segalanya tampak begitu sulit. Ada banyak hal yang harus saya prioritaskan. Maka mau tidak mau, saya pun harus merelakan untuk meninggalkan kedua hobi tersebut.
Pensiun Dini dari Dunia Pendakian
Saya mulai jatuh cinta pada dunia pendakian mulai tahun 2014, saat saya tinggal di Jakarta. Saya ingat betul hari pertama kali mendaki. Ketika itu gunung pertama yang saya tapaki adalah Gunung Merapi di Jawa Tengah. Semua terasa berat. Baru beberapa ratus meter mendaki, tubuh saya sudah terasa lelah.
Tapi begitulah, semakin lama saya semakin menikmati pendakian itu. Apalagi saat saya sampai di puncak gunung. Saya tak kuasa menahan takjub saat berdiri di atas gumpalan awan. Ada kebahagiaan yang tak terlukiskan.
Hingga saat itu, saya pun kian candu dengan dunia pendakian. Saya pun mulai bergabung dengan komunitas pendakian. Ikut nge-trip bersama mereka.
Lalu, saat harus kembali ke Aceh. Hobi yang satu inipun haru saya tinggalkan. Sebab dunia pendakian di Aceh tak semudah di Pulau Jawa. Belum lagi akses yang sulit. Lagi pula, saat ini saya terikat dengan pekerjaan sehingga tidak bisa sesuka hatinya untuk pergi mendaki.
Apa boleh buat, saya pun akhirnya pensiun dini. Semua peralatan pendakian kini menjadi artefak, menjadi saksi dari sepotong episode yang paling mengesankan dalam hidup saya.
Mengayuh untuk yang Terakhir kalinya.
Setelah pensiun dari dunia pendakian, saya pun mencari hobi baru yaitu bersepeda. Saya membeli sebuah sepeda baru. Setiap akhir pekan saya selalu gowes. Mulai dari jarak yang dekat sampai yang lumayan jauh.
Sama seperti mendaki, perlahan saya pun mulai jatuh hati dengan hobi yang satu ini. Saya pun tidak peduli apakah harus bersepeda sendiri ataupun bersama teman. Karena bagi saya keduanya sama saja, yang penting saya bisa memuaskan dahaga batin saya terhadap hobi ini.
Namun, setelah saya menikah. Hobi ini pun dengan berat hati harus saya tinggalkan. Sebab setiap akhir pekan, yang merupakan jadwal bersepeda, telah menjadi waktu khusus bersama istri. Apalagi saat ini saya telah memiliki anak, maka praktis hobi ini kian sulit saya geluti lagi.
Begitulah, seiring berjalannya waktu. Hobi-hobi tersebut akhirnya hanya tinggal kenangan. Cerita nostalgianya hanya terekam dalam lembar-lembar foto.
Apakah saya menyesal? Jawabanya adalah tidak.
Karena sedari awal saya sadar betul. Bahwa cepat atau lambat masa seperti ini akan tiba juga. Saya justru bersyukur karena sepotong episode hidup saya, telah saya jalani dengan sepenuh hati. Saya isi dengan hal-hal yang begitu saya cintai.
Jadi, meskipun hal tersebut kini hanya tinggal kenangan. Perasaan bahagianya tetap membekas.
Pengalaman ini pun akhirnya menjadi pelajaran bagi saya. Bahwa setiap kesempatan hidup memang harus kita manfaatkan sebaikmungkin. Lakukanlah hal-hal besar dalam hidup kita, sesuatu yang membuat kita bergiarah menjalani hidup.
Sebab kita tidak pernah tahu apa yang terjadi ke depannya. Waktu itu sangat misterius. Ada saja cerita yang tak bisa kita tebak.
Maka jalanilah setiap episode hidup ini dengan sepenuh hati. Sebab, jika suatu saat nanti kita harus meninggalkan semua hal yang kita cintai, maka kita tidak terlalu kecewa dengan waktu yang telah berlalu.
Setidaknya, kita masih bisa mengatakan: