Parkirannya luas, nyaman dan megah. Jamaahnya tak pernah sepi. Masjid Syuhada, Gampong Lamgugob Kecamatan Syiah Kuala, dinilai paling tertib dan bersih di seluruh kecamatan dalam wilayah Banda Aceh.
Penilaian terhadap masjid kecamatan dilakukan oleh Dinas Syariat Islam Banda Aceh pada 2016 silam. Hanya untuk masjid kecamatan, tidak untuk masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Oman Lampriet. Saat itu masing-masing kecamatan memasukkan masjidnya untuk dinilai dan pemenangnya adalah Lamgugob.
Penilaian berlaku untuk semua fasilitas, seperti tempat wudhu, toilet dan tentunya kondisi di dalam masjid yang nyaman. Juga pengelolaan kemakmuran masjid, keaktifan pengurus, serta fasilitas penunjang lainnya seperti adanya mukena pustaka kecil yang memuat Alquran, kitab dan buku-buku tentang agama.
Saban waktu termasuk di bulan Ramadan, masjid ini rutin aktivitas. Dari pengajian sampai gelar musabaqah antar gampong. Berbuka puasa bersama juga digelar oleh warga di sana. Masjid yang tak jauh dari Darussalam, tempat dua kampus terbesar di Aceh menjadi primadona bagi mahasiswa, akademisi untuk jamaah di sana. Itu juga yang membuatnya selalu ramai.
Dari luar masjid ini belum sepenuhnya siap, setelah direhabilitasi untuk mempercantik. Sebagian dindingnya masih belum bercat dan sebuah pengumuman di sana tertempel untuk mengajak warga menyumbang dana bagi pembangunan masjid.
Masjid Syuhada Lamgugob belum berumur lama. Tempat ini dibangun pada tahun 1989 saat pembangunan proyek Krueng Aceh, kala Gubernur Ibrahim Hasan memimpin. Masjid dibangun untuk memindahkan pusat kegiatan ibadah dari masjid lama yang terletak di pusat pasar Lamnyong. Yang lama masih difungsikan sebagai mushala oleh warga.
Dulunya bangunan tak semegah saat ini. Perlahan diperluas karena banyaknya jamaah seiring pertumbuhan penduduk di kawasan Kecamatan Syiah Kuala tersebut. Dananya bersumber dari sumbangan warga yang tinggal di sekitarnya. []
Materi terkait masjid lainnya:
- Zuhur Sejenak di Masjid Tuha
- Jejak Perang di Masjid Lueng Bata
- Masjid Ulee Lheu: Saksi Perang dan Tsunami
- Kisah Bar Belanda di Masjid Raya