Setelah lima hari pemberlakuan status darurat militer (DM) di Aceh, aparat keamanan mulai menyasar kampus darussalam. Kampus IAIN Ar Raniry mendapat giliran kedua yang digerebek setelah Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Saat itu, kawasan kampus gelap gulita karena listrik padam. Aparat kepolisian datang ke kampus secara bertahap. Awalnya berupa lima mobil reo plus dua kijang kapsul dan berhenti tepat di Simpang Galon atau keude Darussalam. Tak lama kemudian, datang tiga reo lagi dan langsung ke arah jalan lingkar di samping Masjid Fathun Qarib.
Personil yang turun di Simpang Galon rata-rata memakai sebu, dan langsung merayap di jalan Inong Balei. Mereka bergerak pelan-pelan menuju Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN Ar Raniry. Aku memantau mereka dari lantai dua toko Stallion, di mana aku menjadi sukarelewan dadakan di toko rental komputer tersebut. Simpang Galon yang biasanya ramai mendadak sepi. Aku ingat, lima menit setelah mobil reo berhenti, aktivitas penjual dan pengunjung warung di kawasan itu segera berhenti: penjual langsung memindahkan gerobak jualan, sementara para pengunjung masuk ke dalam toko atau pulang ke kost masing-masing. Aktivitas di kawasan ramai itu mati. Hanya beberapa lembu yang tampak berkeliaran di jalan.
Sekitar pukul 23.15 menit, suara mobil reo menderu-deru dan memutar balik ke arah kota. Aku yang mematung di balkon toko sempat mendengar beberapa jeritan dari dalam mobil 'hantu' itu. Saat itu aku belum mengetahui kalau 16 mahasiswa IAIN Ar Raniry, termasuk M Rizal Falevi, sudah diangkut polisi. Berita penangkapan itu baru aku ketahui beberapa jam kemudian setelah muncul melalui media online detik.com. Seperti biasa aku mengirim email ke siapa pun malam itu melalui komputer di warnet Stallion. Setelah cukup lelah, aku pun tidur di bilik warnet berkarpet hijau. Aku tak ingat, apakah aku dapat tidur nyenyak malam itu.
Besoknya, pagi-pagi sekali datang Fuadi, seorang aktivis HANTAM dan membangunkanku. Lalu, aku dan Syahrul Huda yang bertemanan dengan pemilik Stallion bergegas ke PKM. Setiba di sana, aku langsung ke lantai dua, dan sejak dari tangga aku melihat darah berceceran. Pintu UKM Salam sudah hancur dan semua barang-barangnya berserakan di lantai. Hampir semua ruang di lantai dua itu bernasib sama. Bahkan, panggung pentas di aula PKM sudah bergeser tidak karuan. Di bawah panggung itu kami menyimpan bendera REFERENDUM yang pernah dikibarkan saat Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU MPR) Aceh, 8 November 1999. Baca: Ketika Darurat Militer Diumumkan dan Hari-hari Setelahnya. Jika ada yang bertanya di mana bendera "pusaka" REFERENDUM itu, kalian pasti tahu siapa yang merampoknya, bukan?
Sewaktu berada di PKM, aku menerima beberapa telepon masuk melalui HP Syahrul Huda, di mana si penelepon meminta agar bisa berbicara denganku. Mereka semua tampak khawatir dengan nasib kami semua di PKM. Mereka menanyakan nama-nama mahasiswa yang ditangkap, dan kami menghitung satu-persatu anggota PKM. Saat itu, tercatat ada 16 mahasiswa yang diangkut polisi dalam penggerebekan semalam.
Aku memutuskan pergi Masjid Fathun Qarib. Soalnya, setiap pagi ada pengajian untuk anak-anak di dalam masjid. Aku memilih ke masjid karena kemarin malam aku salat Magrib di sana. Selain itu, aku memakai peci haji, jadi sangat pas berpura-pura jadi ustadz dadakan. Tak ada yang curiga. Di masjid aku sempat bertemu dengan Teuku Zulyadi, adik leting satu Fakultas. Dia menanyakan soal kabar penggerebekan PKM dan nasib mereka yang ditangkap.
Entah karena iba atau bersimpati, dia memberiku uang Rp20 ribu untuk ongkos berangkat ke kota. Tapi, sebelum berangkat ke kota, aku sempat singgah sekali lagi ke PKM dan mengambil beberapa baju kotor yang belum sempat kubawa ke laundry. Marzuki, anggota PMI, memberiku tas ransel karena kasihan setelah tas milikku bersama buku dan kliping koran ikut dibawa aparat. Aku memasukkan beberapa potong baju kotor ke dalam tas pemberian Marzuki, dan segera berlalu dari sana. Seorang teman mengantarku hingga ke Simpang Galon, dan dari sana aku pun naik mobil labi-labi jurusan kota.
Ada beberapa pilihan tempat yang ingin aku datangi: kantor Iskada Banda Aceh di menara selatan Masjid Raya; kantor Pemraka di Kampung Laksana; kost orang kampung di pertokoan Jalan Diponegoro; dan Apotek 46 Merduati di mana seorang temanku bekerja di sana.
Akhirnya, aku memilih turun di Apotek 46 di Merduati. Aku berharap bisa menginap di sana. Temanku yang juga tidur di apotek itu mengizinkan aku menginap bersamanya. Hatiku sedikit lega. Aku menunggu malam tiba dengan hati yang was-was. Jarum jam seperti bergerak cukup lambat.
Seusai Magrib aku mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan. Pengelola apotik yang juga orang satu kampung denganku tidak mengizinkan aku menginap di sana. Dia tak mau menanggung risiko jika tiba-tiba aparat menyisir kawasan itu. Aku ingat, dia memberiku uang Rp5000 untuk ongkos becak dan memintaku mencari tempat lain yang aman untuk menginap. Aku sempat bingung mau ke mana lagi. Malam sudah mulai gelap, dan sama sekali tidak aman berkeliling dengan becak di malam hari. Status Aceh sudah beda, tidak lagi normal, dan orang bisa ditangkap kapan saja tanpa surat perintah.
Lalu, aku memutuskan pergi ke kantor Posko Mahasiswa dan Rakyat keu Aceh (Pemraka) di Kampung Laksana. Setiba di sana, sekali lagi aku menerima perlakuan yang tidak menyenangkan. Marwan, seorang aktivis di sana begitu ketakutan setelah melihatku mengetuk pintu. Awalnya dia tak mau membukakan pintu. Tapi, aku mendesak dan bilang kepadanya bahwa cuma malam ini saja menginap di sana. Akhirnya dia menyerah dan mau membukakan pintu.
Di kantor itu aku bertemu dengan dengan Abdul Manan. Selain aktivis, Abdul Manan juga dikenal sebagai Gubernur GAM Wilayah Sabang dan Pulo Aceh. Bersamanya juga ada seorang anggota GAM Sabang, entah Nazaruddin namanya, aku tidak ingat pasti. Mereka rupanya mencari aman di tempat itu.
Terus terang, malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Pikiranku melayang ke mana-mana, termasuk merancang jalur pelarian diri jika tiba-tiba kantor itu digerebek. Saat itu, hampir semua lembaga aktivis menjadi sasaran aparat, apalagi setelah muncul pernyataan dari Pangdam Endang Suwarya, bahwa Kontras, SIRA dan lembaga aktivis lainnya yang diduga membantu GAM bakal disikat abis. Malam itu berlalu begitu saja dan mataku sama sekali tidak bisa terpejam. []