Barusan sepulang dari warkop, pas melewati depan meunasah Uteunkot, lampu motorku menangkap sesosok manusia dalam kondisi tangannya terikat di sebatang tiang listrik. Mirip-mirip dengan terpidana mati yang sedang bersiap dihabisi di hadapan eksekutor regu tembak.
Aku menghentikan motorku dan mendekat. Kusenter ke arah mukanya. Oh ternyata seorang bocah ingusan yang kutaksir umurnya sekitar 13 - 14 tahun. Pikirku ini pasti pencuri yang baru saja diamankan orang kampung. Kalau saja benar seperti dugaanku, maka ingin kusumbangkan sebuah bogem mentah untuknya.
"Neutuloung lon Bang!" (Tolong saya Bang!) Katanya mengiba, tampak keringat bercucuran dari wajah bocah ini.
"Pakoun kah Gam? Peujeut kah sampe diikat, peu na kaceumeucue?" (Kenapa kamu Gam, kok bisa diikat, apa karena kamu mencuri?) Tanyaku kepada si bocah.
"Pane na, aneuk haram jadah paleh dijak ikat lon, ipeugah lon kuplueng-plueng karu lam meunasah." (Mana ada, anak haram jadah bangsat ikat saya, dibilang saya lari-lari bikin keributan dalam menasah.) Jelas si bocah padaku. Aku masih belum percaya. Kemudian dari pintu menasah keluar seorang anak yang umurnya sebaya dengan bocah yang terikat tadi.
"Hai pakoen sigam njoe diikat? Peu iceumeucue?" (Hai, kenapa sigam ini diikat? Apa dia mencuri?) Aku mencoba cari tau.
"Kamoe ikat karena ji plueng-plueng lam meunasah, gob teungouh dibeut, jih ipeuget karu!" (Kami ikat karena dia lari-lari dalam menasah, orang lagi tadarus, dia bikin ribut!) Jelas si bocah yang berdiri di pintu menasah.
"Pungo awak kah! Kaikat aneuk gob bak tiang listrek, njoe kontak mate jih soe tem tanggoung jaweub?!" (Edan kalian! Kalian ikat anak orang di tiang listrik, kalau sampai mati tersengat listrik mati dia siapa yang mau tanggung jawab?!) Belum lama aku ngomong, disambung oleh si bocah yang terikat tadi, "Njoe matee kee, pane na, kujak bak yah dih!" (Kalau mati aku, mana ada, aku datangi orang tuanya.)
Aku ketawa mendengarnya, udah mati gimana mau tuntut orang tua mereka. Akupun membantu si bocah melepaskan ikatan kantong plastik ditangannya. Kulihat ikatannya lumayan kuat, tiga kantong plastik, sampai membuat tangan si bocah membekas kemerahan.
Setelah ikatannya berhasil kulepas, si bocah pun berterimakasih kepadaku, dan aku menyuruhnya pulang.
Edan! Bercanda anak jaman now, sungguh terlalu sampai tidak memperdulikan nyawa orang lain. Get that teuboih akai!