Foto: Pixabay
Banyak anggapan yang muncul dari kepala seseorang tentang hal negatif. Dia bisa saja datang dari berbagai sebab dan musabab, meskipun hal klise sekalipun.
Tapi, apakah kita tahu? Pikiran negatif yang kita bawa dalam berbagai kesepatan akan menghancurkan diri kita sendiri?
Saya punya contoh gampang mengapa pikiran negatif itu mampu merobek cita-cita yang kita bangun. Sebab ketika kita memikirkan hal negatif sebenarnya kita telah menggali kubur kita sendiri: bagaimana seseorang berani mengatakan suatu hal yang mereka tidak ketahui dengan penilaian yang bukan-bukan?
Misalnya begini, ada seorang lelaki yang datang ke rumah sahabatnya. Saat sampai di rumah itu, dia menunggu begitu lama hingga bolak-balik berkali-kali tapi tak pernah bertemu dengan sahabatnya itu. Pada suatu kesempatan lain, dalam sebuah pertemuan dengan alumni, terjadilah sebuah percakapan.
Foto: Pixabay
A: Kemarin main ke rumah Mawar, tapi susah sekali bertemu dengannya. Bahkan berkali-kali aku datang tak juga bertemu. Sombong banget dia sekarang, mentang-mentang sudah kaya, tak lagi mau bertemu dengan orang sepertiku.
B: Masa sih Mawar, sahabat kita yang baik itu dan tak pernah sombong berubah begitu drastis. Ah. Memang uang membutakan!
A: Iya betul. Uang dan kekayaan membuat orang lain akan malas bertemu dengan kita. Dia takut kedatangan kita ke rumahnya palingan ingin pinjam duit! Padahal kan tidak begitu!!!
Di satu sudut lain dalam pertemuan yang sama itu, terjadi pula percakapan antara dua orang wanita.
A: Kemarin aku main ke rumah Mawar. Wah, dia menyambutku dengan begitu hangat. Dia sekarang semakin sukses ya. Auranya juga sudah berubah. Lebih berwibawa dan begitu lembut. Dia juga masih seperti dulu, tidak sombong.
B: Mawar adik kelas kita itu, kan? Hm.. Dia memang anak yang baik. Dia juga pernah menolongku dulu, saat aku melahirkan. Dia yang membiayai uang persalinan di rumah sakit. Karena saat itu suamiku kebetulan lagi kena PKH. Dia masih tinggal di Jakarta?
A: Owalah. Kita beruntung ya punya sahabat meski adik kelas tapi baik hati. Dia sekarang tinggal di Surabaya. Rumahnya yang di Jakarta sekarang ditempati asiknya, Kamboja.
Foto: Pixabay
JLEB BANGET!!!
Begitulah akhirnya jika kita tak mau berusaha lebih keras untuk sekedar bertanya. Kita hanya beragumen dengan asumsi-asumsi negatif yang menjerat leher kita sendiri. Padahal banyak cara untuk menemukan jawaban yang paling kita inginkan, yakni bertanya!
Begitupula halnya yang terjadi di Steemit.com. Tentu saja banyak hal negatif yang bermunculan ke permukaan. Misalnya, kenapa para kurator membiarkan ikan teri (30) berenang sendiri tanpa bimbingan? Tapi di sisi lain mereka memberikan kekuatan pada komunitas yang dibawahinya saja?
Atau, kenapa curator sibuk membuat postingan dan kebanyakan di vote oleh ikan teri, yang seharusnya mendapatkan vote dari mereka? Tidakkah mereka punya malu? Dapat SBD $0.00 dari ratuan plankton?
Begini saudara-saudara!
Steemit ini adalah ruang creative yang sangat luas dan dapat berkembang sesuai dengan tingkat keaktifan para steemian. Syarat rendah untuk menjadi steemian adalah hanya dengan membuat account. Selebihnya, kita harus mau berusaha lebih keras untuk mencapai level tertentu di dalam dunia crypto ini.
Tingkat keaktifan ini caranya hanya satu, yakni terus menulis tanpa iming-iming vote dan berharap sbd. Jika sudah berharap, pantas saja banyak orang akhirnya kecewa dan terpaksa lempar handuk karena menganggap bahwa dia tak mendapatkan porsi seperti harapannya.
Meskipun manuasiawi, tapi ada etika yang harus kita ketahui untuk mendapatkan cita-cita. Jangan baru gabung sudah berharap jadi Paus! Gila itu namanya, bro! Wong jadi sarjana aja harus sekolah dulu. Engga mungkin baru masuk sekolah dasar langsung mau minta pake toga! Hahahaha.
Jadi bagaimana?
Jadilah pibadi yang baik. Konsisten menulis meskipun satu hari perartikel. Biat jaringan. Saling berikan dukungan ke steemian yang selevel dengan memberikan vote dan komen yang wajar. Setelah itu, berusahalah lebih keras.
Kalau sudah? Tunggu saja beberapa Paus yang mungkin senang dengan tulisan yang kita bagi. Syukur-syukur di vote. Dibaca saja sudah baik.
Selain itu, jangan pernah jadikan Steemit ini sebagai pekerjaan tetap, melainkan kegiatan sampingan. Sebab, Friendster saja bisa gulung tikar. BBM juga hampir merenggang nyawa. Sedangkan keabadian hanya dimiliki oleh Khairil Anwar, yang ingin hidup seribu tahun lagi.
Salam!
Steemian Jakarta, GO!
KSI Chapter Jakarta
Akun Grup Whastapp:
(https://chat.whatsapp.com/6nntswYesuq6kjUdshNXTk)
Buat Steemian yang merasa dirinya telah membuat akun di steemit.com tapi belum tergabung dalam KSI ChapterJakarta, silakan follow link GrupWhatsapp di atas. Link tersebut akan langsung mengintergrasi Steemian ke dalam grup (KHUSUS JAKARTA). Setelah tergabung di dalam grup, silakan isi poin di bawah ini:
Perkenalan diri singkat:
Nama akun:
Facebook:
Twitter:
IG:
Atau, bisa pula menghubungi kami di 081269404123 (Whatsapp).