Menjadi Korwil
Kongres di Makassar 2011 menjadi pengalaman baru saya sebagai aktivis AJI, baik selama kongres berlangsung maupun sesudahnya. Seusai kongres, kepengurusan Eko “Item” Maryadi mengajak saya menjadi koordinator AJI wilayah Sumatera, sebuah jabatan baru yang menjadi perpanjangan tangan AJI Indonesia di daerah. Waktu itu ada 10 AJI Kota di bahwa Korwil AJI Sumatera, mulai dai AJI Kota Banda Aceh sampai Lampung.
Saya senang dengan tugas baru ini. Saya mendata dan memetakan kondisi AJI kota yang berada di Pulau Sumatera. Banyak AJI kota yang belum memiliki sekretariat permanen, ada juga yang jumlah anggotanya belum mencapai syarat minimum karena setelah ditetapkan sebagai AJI kota, ada anggota yang kemudian tidak lagi bekerja sebagai jurnalis. Banyak masalah lain yang dihadapi AJI kota di Sumatera, sama seperti AJI kota lainnya di seluruh Indonesia. Masalah penguatan organisasi dan kesejahteraan jurnalis, selain merawat kebebasan jurnalistik, menjadi isu bersama.
Selama menjabat Korwil AJI Sumatera, saya mengikuti dua pelatihan yang sangat bermanfaat, yakni advokasi kreatif di Padjajaran Suites Hotel di Bodor, Maret 2012, dan regional Forum in Media Ethics and Elections in Southeast Asia, 25 -27 Februari 2014 (diselenggarakan Southeast Asian Press Alliance, Swedish International Development Agency, dan The Alliance Independent Journalists). Setelah itu, saya menjadi anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Utara sehingga harus mengundurkan diri dari kepengurusan AJI Indonesia.
Itulah dua pelatihan terakhir yang saya ikuti atas nama AJI Indonesia. Selama bergabung dengan AJI pada 1998, sudah puluhan pelatihan, seminar, workshop, dan sejenisnya yang saya ikuti. Saya akui, berbagai kegiatan tersebut selain menambahj ilmu juga menambah jaringan di berbagai kota di seluruh Indonesia, bahkan di beberapa negara karena AJI merupakan satu-satunya organisasi profesi di Indonesia yang berafiliasi dengan International Federation of Journalists (IFJ) yang berpusat di Brussel, Belgia. Petinggi IFJ beberapa kali mengontak saya ketika terjadi kekerasan terhadap wartawan di Aceh. AJI memang tekun mendata kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia.
Tetap independen
Begitu banyak frasa “independen” dalam hidup saya. Selain pernah menjadi ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Lhokseumawe yang pernah membawahi daerah dari Aceh Tengah sampai Aceh Tamiang sebelum lahir beberapa pecahan AJI kota, juga pernah menjadi redaktur harian Aceh Independen yang pernah terbit di Aceh, tetapi kemudian syahid muda karena masalah manajemen. Selain itu, saya juga anggota Komisi Independen Pemilihan Aeh Utara.
Makanya, ketika ada mempersoalkan keanggotaan saya di KIP Aceh Utara, saya memberikan sedikit catatan bahwa ini lebih baik daripada sejumlah petinggi AJI di Jakarta yang jelas-jelas mendukung salah satu pasangan calon presiden Republik Indonesia. Mereka menulis di status media sosial, bahkan ada yang terlibat langsung menjadi bagian dari tim kampanye atau kelompok yang mendukung kandidat presiden. Lantas, di mana independensinya, di mana netralitasnya yang menjadi rohnya AJI?
AJI ketua AYI?
Tak ada organisasi yang sempurna, demikian juga dengan AJI. Tapi saya tetap bangga kepada organisasi ini meski beberapa keputusan blunder yang dilakukan seperti memberikan penghargaan kepada kelompok yang melakukan penyimpangan seksual. Saya menganggapnya sebagai selera sejumlah dewan juri yang kontroversial dan tidak mewakili AJI secara keseluruhan. Meski keputusan blunder tersebut lahir ketika saya tidak aktif di AJI, saya tetap menyayangkan keputusan ini dan tidak ikut-ikutan mem-bully AJI seperti yang dilakukan beberapa anggota di media sosial. Saya pikir itu sikap yang tidak terpuji, lebih baik mundur saja dari anggota daripada menggembosi organisasi.
Sampai sekarang, saya merindukan suasana bersama kawan-kawan AJI seperti dulu, meski banyak kawan seangkatan saya sudah memilih karier masing-masing di luar jurnalistik. Canda di AJI begitu segar dan mencerdaskan, juga penuh keakraban. Setiap ada kegiatan sebagai komisioner di berbagai kota, saya selalu mengontak rekan AJI. Bahkan ada yang menjemput di hotel, menemani ke sana kemari, sepertinya memiliki guide di berbagai kota. Seorang staf secretariat KIP Aceh Utara sampai berucap; “Pak Ayi ke mana pun pergi, selalu ada kawan.”
AJI adalah sebuah keluarga besar yang sesekali betengkar mengenai sebuah permasalahan, berbeda pendapat secara tajam, tapi tidak saling melukai.
Inilah antara lain yang membuat saya tetap bangga menjadi bagian dari AJI. Sebegitu melekatnya saya dengan AJI, sampai sekarang kalau berjumpa dengan mantan narasumber mereka bertanya; “Masih ketua AJI?”
Padahal setelah saya, sudah ada empat ketua yang berganti.
Yang lebih menggelikan, sampai sekarang pun ada yang memanggil saya Pak AJI, seperti ketua Bawaslu Aceh, DR Muklir. Syukurnya, belum ada yang menyebut saya Pak AJI yang ketuanya AYI.[]