Hai Sahabat , semoga selalu dalam keadaan sehat!
Selamat malam menjelang pagi dan selamat beristirahat.
Mungkin sahabat pernah mendengar kepanjangan dari GSM atau "Geser Sedikit Menghilang" istilah ini cocok untuk di Desa Buraga Kecamatan Alor Barat Daya NTT. Sebelum ada Tsel (Telkomsel) Merah Putih, warga setempat harus mencari signal pada tempat - tempat tertentu. Setelah mendapatkan signal telpon mereka akan meletakan handphone pada titik tersebut dan jika begeser sedikit sudah menghilang. Besyukur yang tinggal dikota besar masih menikmati signal handphone dimanapun kita mau dengan akses internet cepat dan banyak pilihan operator seluler.
Untuk menuju Desa Buraga tidaklah mudah, dengan medan yang cukup berat. Melewati jalan bertebing dengan kiri - kanan jurang, jalan mendaki dan menurun yang begitu tajam. Belum lagi harus melewati sembilan anak sungai. Sebenarnya rute ini lebih cocok dengan jenis mobil adventure atau jenis motor trail/off-road.
Alternatif lain akses menuju ke Desa Buraga bisa melalui laut dengan menyewa perahu motor atau bisa juga dengan kapal penumpang satu kali dalam seminggu pada saat hari pasar ke Kalabahi. Berhubung sesuatu dan lain hal, saya berangkat menggunakan motor "bebek" dengan empat jam perjalanan menuju lokasi. Hampir setiap anak sungai berhenti dan berjalan kaki, ditakutkan perangkat elektronik yang saya bawa basah dan bisa berakibat fatal sesampai dilokasi tidak bisa berkerja.
Sesekali harus berhenti turun dari motor untuk bertanya arah jalan ke penduduk setempat. Ada yang janggal pada suatu desa pada saat bertanya arah jalan ke pada mama - mama yang sudah tidak muda lagi dengan seorang anak perempuannya, sedang berjualan satu ikat ikan dan beberapa botol air nira. Mama - mama tersebut seperti menghindar dan setengah berlari menjauh dengan menggandeng anaknya tampak dari raut mukanya begitu gelisah. Bang Jek memberi isyarat melanjutkan perjalanan, sambil menceritakan kejadian aneh tadi diatas motor. Menurut cerita Bang Jek, zaman dahulu di desa tersebut ada seorang "penyamun" yang bengis dan tak segan memenggal korbannya jadi mengapa mama - mama tersebut pergi menghindar karena melihat paras saya yang asing dengan logat yang berbeda. Tapi sekarang sudah aman dan tidak perlu dihawatirkan lagi, ucap Bang Jek menutup ceritanya.
Setelah melewati anak sungai yang besar dan arusnya sedikit kencang. Saya meminta Bang Jek untuk beristirahat sebentar, sambil menikmati air sungai yang begitu jernih dan terasa segar saat membasahi muka dan rambut. Udaranya begitu lembut dengan alamnya yang hijau dan gemericik air sungai menjadi suasana lebih damai terasa. Tak lama kemudian tampak kakek yang bertelanjang dada dengan celana pendek dibawah lutut dengan sebilah parang tergantung disamping pinggangnya, akan menyebrangi sungai. Sambil menyapa dan bertanya arah Desa Buraga, Kakek yang ramah tersebut menceritakan begitu detail dan jelas menuju desa Buraga. Setelah berpamitan dengan si Kakek, saya dan Bang Jek melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian, akhirnya tiba juga di Desa Buraga dengan bertanya pada warga setempat untuk menunjukan kediaman Pak Kepala Desa. Sesampai di rumah Pak Kepala Desa disambut dengan hangat, disuguhkan minuman teh dan diajak makan siang bersama. Suasana tampak akrab, Pak kepala Desa banyak menceritakan tentang kondisi desa dan semangat membangun desanya yang perlu diacungkan jempol. Setelah beristirahat cukup, saya diantar oleh warga menuju lokasi tower BTS di atas bukit. Tower BTS (Base Transceiver Station) ini menggunakan triangle dengan panel solar (panas matahari) sebagai sumber energi BTS. Tsel Merah Putih di Desa Buraga memanfaatkan teknologi VSAT-IP ( Very Small Aperture Terminal-Internet Protocol) berbasis satelit.
Setelah melakukan pengecekan hampir satu jam, Alhamdulilah bisa mengudara dan melakukan tess call ke NOC (Network Operations Center) untuk memaksimalkan kualitas reciver dan transmiter perangkat dilokasi. Tahap selanjutnya adalah monitoring, sambil menuju ke rumah Pak Kepala Desa kembali. Beliau menceritakan betapa susahnya tidak ada signal telpon, jika ada undangan rapat dari Kabupaten terkadang surat tiba di rumah Kepala Desa acara rapatnya pun sudah selesai, ini terjadi karena tidak adanya signal telpon dan akses jalan yang belum memadai. Lain cerita dengan penjual pulsa dan orang tua yang harus putus komunikasi dengan anaknya bersekolah di pulau Jawa. Alhamdulillah semua pekerjaan dan perjalanan lancar, semoga bisa mengambil hikmah dan pengalaman setiap perjalanan hidup ini dan bermanfaat untuk orang banyak. Amiin