Bermula saat seorang gadis di lamar seorang pria. Dan pada akhirnya menikah. Suatu keputusan berani yang diambil sigadis demi menyelamatkan kehormatan nya dan orang tua nya. Dia rela ikut tinggal bersama suami, dan mendampingi suaminya.
Mulai dari menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, membersihkan rumah dan halaman, menyiapkan makan siang, menyetrika pakaian, menyiapkan makan malam, hingga melayani suami pada malam hari nya. Suatu pekerjaan yang sebelumnya selalu dia kerjakan bersama saudaranya (kecuali melayani suami), atau bahkan tidak pernah ia kerjakan, sekarang harus ditanganinya sendiri.
Hari berganti bulan, saat itu ia mengandung. Ia tetap pada rutinitas harian nya. Tidak berkurang atau berubah. Malah tambah lelah. Dengan membawa 'genderang' besar di perutnya ia tetap melaksanakan tugasnya. Apa kita semua tau rasanya membawa 'genderang' itu..? Rasanya sungguh lelah,berat, dan terkadang sulit bernafas. Tapi ia tetap menikmati peran nya. Demi si buah cinta yang nantinya akan disambut kehadirannya.
Disaat bayi itu akan lahir, rasanya cukup sakit. Bahkan jika pun kita hanya menyentuh sedikit tubuhnya, rasa itu teramat sakit. Ibarat puluhan tulang yang dipatahkan secara serentak dibadan. Bayangkan lah..nyawa taruhan nya. Dan ketika bayi itu lahir kedunia, kita berfikir semua telah selesai. Belum...
Disinilah awal mula perjalanan kisah hidup seorang IBU.
Selamat pagi ibu..!
Ia memulai aktifitas seperti biasa. Dan dengan tambahan ekstra memandikan anak, menyiapkan makannya dan terus menggendong dalam dekapnya agar si anak tidak menangis. Dengan penuh kasih sayang ia merawat anaknya, bahkan jika nyamuk menggigit pun dengan sigap ia memusnahkan nyamuk itu. Malam ia begadang, tidur tak nyenyak, untuk menyusui si anak. Tapi esok dia harus tetap bangun pagi untuk mengurusi kebutuhan suaminya.
Ketika sianak sudah mulai besar, perhatian bertambah besar. Ia semakin lelah dengan tanggung jawabnya. Bahkan dia harus rela dan sabar dengan keadaan. Keadaan dimana dia harus menebalkan telinganya dengan kritikan orang disekitarnya. "Ih kenapa anak nya luka, atau ih...jorok banget anaknya, atau belum mandi lagi uda jam segini..? Atau kok bisa.. Kok gini...kenapa...gimana..bla bla bla"
Ya...mereka semua hanya bisa mengkritik dan berkomentar. Tanpa tau apa yang dirasakannya, dan apa yang dialaminya.
Rumah berantakan salah ibu, cucian menumpuk salah ibu, tidak ada makanan dirumah salah ibu, anak sakit pun salah ibu, ini itu salah ibu. Sekalian saja harga pangan naik juga salah ibu. Yuk....dicoba menggantikan posisi si ibu. Sanggupkah..? Mampukah...?
"Apa capek nya sih, lagian cuma dirumah saja."
Hello.... Memangnya si ibu dirumah cuma ongkang kaki. Apa karena pekerjaan ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan tanpa gaji, jadi seenaknya orang-orang berkata bahwa yang 'dirumah' itu tidak lelah..?
Resiko jadi seorang ibu itu, harus tahan banting, tahan batin oleh suara sumbang diluar sana, tidak boleh bilang lelah, tidak boleh bilang sakit dan apa lagi silahkan tambah saja sendiri.
Hargailah jasa ibu, tidak usah di bayar, cukup hanya dengan berikan cinta, kasih sayang serta pedulimu saja. Sesekali tanyakan ingin dan maunya. Tanyakan kegiatan nya, tanyakan lelahkah dia hari ini..?
Untukmu para suami...
Cintailah istrimu, hargai ia. Seharusnya engkau yang mengurus istrimu. Bukan istri yang mengurusmu. Bantu ia menyiapkan tugasnya. Sesekali ajaklah istrimu piknik, agar istrimu tidak senantiasa panik dan syirik dengan kehidupan orang lain.
Dan untukmu duhai anak...
Jangan pernah jadikan ibumu babu..!
Dia yang melahirkanmu, sayangi dia sebagaimana dia menyayangimu. Dijaman rupa seperti sekarang ini susah mendapatkan ibu yang benar-benar tulus mencintaimu you know..! Lihatlah berapa banyak anak yang dibuang di panti dan jalanan.
Serta untuk kalian sang penyinyir..
Posisi mereka tidak sama dengan kalian meskipun serupa. Lain orang lain pula sifat, nasib, serta tanggung jawab. Tidak perlu mengkritik dan nyinyiri hidup mereka seperti komentator bola. Sesekali ikut masuk kelapangan dan rasakan ikut bermain dan berjuang. Apa anda semua sanggup bertahan.
Tulisan ini saya buat dengan emosi yang cukup terkendali, walau layar hape sedikit retak. Kenapa....?
Karena saya seorang IBU...