via pixabay.com
Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia cerita pertelevisian 2007 - 2017--khusus untuk skenario, saya tahu benar ada banyak kendala ketika sebuah naskah dieksekusi menjadi tayangan. Tapi ketika naskah itu sedang dalam proses, Stemians tahu nggak, apa yang kami hadapi? Segala hal yang terkait dengan proses penulisan.
Tetap ya yang namanya penulisan cerita itu nggak boleh yang namanya asal-asalan. Harus dipikirkan sebab-akibat, logika berpikir, karakter sesuai dengan cara bicara, bertindak, dan berpikir si tokoh, jalan cerita yang nggak bisa langsung ditebak, twist, dan sebagainya. Itu tetap ada dalam cerita.
Dan setelah setelah ekskusi lapangan, masih saja suka ada kesalahan. Tapi ini bukan artinya semua naskah yang lolos dan akhirnya sampai ke tangan kru film itu dinyatakan sudah perfect, ya. Karena terkadang, banyak hal yang membuat naskah ini diloloskan juga. Toh nantinya diharapkan kekurangan dalam naskah bisa diperbaiki dalam tayangan.
Kenyataannya ternyata nggak selamanya sesuai yang diharapkan. Beberapa hal dari hasil shooting sering kali menjadi sebuah pertanyaan besar untuk para penonton. "Kok begini?" atau "Kok begitu?" Meski sebenarnya ada beberapa hal yang bisa sangat diperbaiki cara pengadeganannya.
Well, karena tadi saya habis nonton film serial episodik di salah satu stasiun televisi (walau nggak secara utuh), tetap pertanyaan "Kok begini?" dan "Kok begitu?" bergelayut di kepala.
Saya akan singkat memberikan penjelasan. Jadi keluarga itu merupakan keluarga sederhana, bukan perkomplekan dengan interior bagus. Berarti ini nantinya berpengaruh pada apa yang dikenakan si penghuni rumah tersebut dong, ya. Yang menjadi pertanyaan besar, kenapa gigi salah satu perempuan di sana sangat putih? Dia melakukan bleaching (selaku artis), tapi benar-benar nggak sesuai sama karakter.
Jelas ini salah casting, menurut saya. Kalau memang ada karakter seperti itu, kenapa nggak mencari artis dengan gigi yang non-bleaching. Ada kok perawatan gigi yang nggak akan buat gigi putih banget, karena memang warna asli gigi normal itu putih tulang atau putih gading. Dan efek ini, bisa sangat diterima untuk penempatan si karakter perempuan itu.
Satu lagi, masih di cerita yang sama. Saat pengadeganan seorang laki-laki berkelahi dengan sebuat saja preman. Sebelumnya si laki-laki ini datang dengan supir atau asistennya. Karena si supir ditahan oleh anak buah preman, makanya si laki-laki ini berhasil mengejar preman dan berkelahi di satu tempat. Begitu si laki-laki menang, preman kabur. Itu kenapa si laki-lakinya diam saja? Padahal tujuan dia ke sana mau bawa preman itu ke kantor polisi!
Lucunya, ketika si supir akhirnya berhasil melepaskan diri dari anak buah preman, dia mendekati si laki-laki. Si supir bertanya keadaan si laki-laki dengan wajah khawatir. Si laki-laki bilang, kalau preman sudah kabur. Lalu, apa yang diucapkan si supir? "Kita kejar saja sekarang!" Seketika si laki-laki sadar dengan lamunannya melihat kepergian preman dan mengiyakan ajakan si supir. Aduuuh, itu ke mana saja? Kenapa jadi telat mikir? Hihihi
Dua hal itu, benar-benar hal simple yang sangat bisa diperbaiki. Karena memang nggak terkait dengan budget produksi yang hampir selalu menjadi kendala sebuah cerita dalam naskah ketika di-shooting-kan. Tapi, lagi-lagi ternyata itu terlewatkan begitu saja dan mampu membuat penonton geregetan.
So, apapun minus dari sebuah tayangan televisi, memang harus terus diperbaiki. Saya sendiri sebagai salah satu penulis skenario yang pernah berkecimpung (dan entah kapan turun gunung lagi, hehehe) dalam dunia pertelevisian, merasa masih banyak harus belajar untuk menciptakan karya yang keren.
Tanpa mau melakukan perbaikan, kita bukan pelajar kehidupan yang baik. Kalau sudah begitu, kehidupan kita akan terus mengulang kesalahan. Artinya kita termasuk orang yang merugi. Betul?