Sore itu suasana Taipei Main Station berubah menjadi lautan umat Islam. Berduyun-duyun, muslim dan muslimah Indonesia menghadiri Tabligh Akbar yang diselenggarakan sebuah organisasi keagamaan yang tengah merayakan Hari Jadinya. Saya pun berada di antara ribuan pengunjung teresebut, yang ingin mendengarkan tausiah dari mubaligh kondang yang didatangkan langsung dari tanah air.
Berbekal camera DSLR, tas berisikan alat tulis dan keperluan lainnya, saya membaur semangat di antara mereka. Namun, karena sejak pagi berada di sini, belum lagi harus pindah mengikuti acara lainnya, akhirnya saya kelelahan. Sehingga memutuskan untuk singgah di sebuah tenda bazar muslimah milik sahabat saya yang memiliki bisnis pakaian Syar’i dan keperluan muslimah lainnya.
“Mba, saya mau cari hijab dan baju gamis dong, tapi tolong dipakaikan. Soalnya saya belum bisa memakainya,” ucap seseorang di antara kerumunan pembeli.
“Masuk saja, Mba. Coba dilihat-lihat! Ada yang cocok ndak?” suara karibku menimpali.
Kupanggil ia Santy. Wanita yang cerdas dan berdidikasi tinggi pada bilang yang digelutinya. Bekerja, sekolah, dan menjalankan bisnis beromset ratusan juta rupiah tidaklah mudah. Namun, ia sanggup menghandlenya di sini.
Ketika saya tengah duduk sembari memandangi orang yang berlalu lalang, tiba-tiba muncul seorang wanita cantik berkulit putih, dengan matanya yang sipit. Dari penampilannya, sangat jelas jika ia wanita berada. Kulit wajahnya halus, cantik. Meski tersirat usianya tak muda lagi. Belum lagi tas yang ditenteng, mempertegas identitasnya jika ia bukanlah pekerja Indonesia di sini.
“Mau cari apa, Mba?” sapaku ramah.
“Saya mau cari baju gamis dan hijab, tapi tolong dipakaikan ya, soalnya saya belum bisa sama sekali,” timpal wanita tersebut.
“Owh ... enggak usah takut. Mba. Awalnya saya juga tidak bisa memakai hijab, tapi karena terbiasa, lama-kelamaan juga bisa.”
“Ia, Mba. Kalau Mba kan memang beragama Islam. Lah ... saya baru saja mengenal Islam, jadi belum tahu sama sekali adab berhijab.”
Deghh ...
Saya terkesiap. Seolah tidak percaya. Wanita cantik yang berada di hadapan ini adalah seorang muallaf, yang benar-benar ingin mendalami bagaimana menjadi seorang muslimah di dalam ajaran Islam. Sedangkan di luar sana, tidak dapat dipungkiri, banyak wanita-wanita Indonesia yang menanggalkan hijabnya demi sebuah popularitas di negeri orang. Fakta ini sungguh mengulik rasa penasaran saya sebagai penyaji aksara.
Bagaimana kisah beliau menjadi seorang muallaf? Tunggu part selanjutnya yah...hehe
Foto kehangatan kami berbincamg-bincang, saat wawancara.