Dengan senang hati aku pun membantu memilihkan busana muslim yang cocok untuk wanita tersebut. Sengaja takku sarankan mengenakan busana syar’i terlebih dahulu, menilik stylenya yang masih kekinian. Kupilihkan sebuah outer panjang bermotif batik. Jika dikenakan nampak ellegant dan masih terpadu syariat Islam. Wanita tersebut nampak anggun, ditunjang kulitnya yang halus dan kuning langsat. Membuat penampilanya lebih berkelas.
“Terima kasih ya, Mba. Sudah membantu saya memilihkan busana ini. Saya senang bertemu dengan sesama muslimah,” serunya gembira.
“Sama-sama, Mba. Sudah semestinya kita saling membantu. Owh iya, nama saya Etty,” ucapku seraya mengulurkan tangan perkenalan.
“Saya, Alya,” sambutnya ramah.
Kami pun larut dalam percakapan hangat di tengah riuhnya pengunjung Tabligh Akbar tersebut. Sementara terdengar sayup-sayup lantuan qosidah yang dibawakan kelompok musik rebana yang beranggotakan orang Indonesia yang berada di Taiwan.
“Maaf, Mba. Boleh saya bertanya. Aakah yang membuat Mba menjadi muallaf dan mengucapkan syahadat?" tanyaku hati-hati, takut jika wanita tersebut tersinggung. Karena membicarakan agama merupakan hal sangat senstif saat ini.
Alya terdiam. Ia mendesah panjang. Seolah mengembuskan beban yang mengganjal di dalama atma, “Ceritanya panjang, Mba.”
“Jika Mba tidak keberatan untuk bercerita, saya siap menjadi pendengar yang baik.”
Lagi, Alya menarik nafas panjang, seolah menyakinkan hatinya mantapkah berbagi sebuah cerita pribadi kepada seseorang yang baru saja ia kenal. Aku pun menganggukan kepala pelan, seolah mengisyaratkan jika niatku baik. Juga memang hobiku membuat kisah yang bisa menginspirasi bagi siapa pun yang membacanya.
Bandara Taiwan, 01 November 1992
Ketika burung besi bersayap dan bertuliskan China AirLines mendarat, turunlah seorang gadis remaja dengan menenteng tas ransel kecil berwana hitam. Setelah melalui imigrasi, gadis tersebut berjalan menuju pintu keluar. Nampak seorang wanita yang kira-kira berumur 60 tahun menunggunya sambil melambaikan tangan. Nyonya Fang, dialah wanita yang kemudian menjadi Ibu mertua Alya. Zaman dahulu, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih sulit masuk ke Taiwan. Para migrant biasanya masuk melalui Visa Kawin kontrak atau dijodohkan dengan salah satu penduduk Taiwan. Dan Alya salah satu dari mereka. Ia adalah China Kalimantan, yang dijodohkan dengan seorang pria di Taiwan melalui selembar foto. Jadi seperti ada agensi, yang khusus menyalurkan biro perjodohan.
Setelah bercakap-cakap sejenak, Nyonya Fang membawa Alya meluncur dengan mobil Mersedes Hitam yang masih mengkilap. Mobil mewah tersebut menyusuri jalan raya ke arah Kota Taipei. Jantung kota dari negeri Formosa. Sampailah di sebuah apartement menjulang di kawasan kota* elite* tersebut. Setelah sampai di rumah, nampak seorang lelaki telah menyambutnya. Dan betapa terkejutnya hati Alya, karena lelaki tersebut diperkenalkan sebagai calon suaminya.
“Alya, dia adalah Ahuang, calon suamimu. Ayo, ucapkan salam kepadanya,” Ucap Nyonya Fang, memperkenalkan Alya kepada putranya.
Meski enggan dan berat hati, Alya pun mengulurkan tangan. Dengan gemetar gadis tamatan SMA tersebut bersalaman dengan lelaki di hadapannya, jika ditilik dari raut wajah dan perawakannya, lelaki tesebut lebih cocok me jadi pamannya Alya. Parasnya jauh beda dengan foto yang diberikan kepada Alya oleh orang tuanya.
“Alya,”ucapnya lirih.
Menjalani sebuah hubungan tanpa didasari rasa cinta tidaklah mudah. Apalagi pernikahan Alya dan Huang berdasarkan status ekonomi. Huang mendapatkan Alya setara dengan membeli, karena lelaki tersebut harus mengeluarkan uang sebagai tebusan atau mahar yang diberikan kepada keluarga Alya yang berada di Kalimantan.
“Kamu pikir kau kemari gratis, atau biaya sendiri? Tidak. Kami mengeluarkan uang banyak untukmu,” ucap Nyonya Fang suatu hari, saat memarahi Alya.
Alya Feng, Cina asal Kalimantan, yang menjadi muallaf di Taiwan
Menjadi istri Huang, tak ubahnya seperti pelayan di rumah tersebut. Karena ia harus membersihkan rumah, masak, pekerjaan rumah tangga lainnya. Dan tidak mendapatkan gaji. Belum lagi malam hari, Alya masih harus melayani Huang di atas ranjang. Sedangkan di siang hari tenaganya sudah terkuras untuk kerja rodi. Ingin sekali Alya menjerit, atau pun melarikan diri. Namun sia-sia, karena Bahasa Taiwan pun ia belum pandai. Mertuanya melarang bergaul denga siapa pun.
Waktu beranjak cepat, menggerus apa pun yang berada di putarannya. Ikatan perkawinan Alya dan Huang melahirkan seorang anak laki-laki, dan sejak saat itulah Nyonya Fang berlaku lunak terhadap menantunya. Karena di dalam adat China, anak laki-laki adalah penerus marga atau trah dalam keluarga tersebut. Alya, Huang, beserta Huang junior hidup rukun dan bahagia. Mereka kerap menghabiskan hari libur untuk mengunjungi tempat-tempat pariwisata yang ada di Taiwan. Hingga suatu hari, sesbuah peristiwa nahas terjadi, Huang Mengalami kecelakaan saat pulang dari kerja. Kabar tersebut diterima dari pihak kepolisian yang berada di Rumah Sakit Besar Taipei (Thai Ta Iyen). Alya bersama Nyonya Fang menuju ke rumah sakit, tak hanya mereka berdua. Turut juga suami nyonya Fang untuk menjenguk putranya. Mereka segera menuju instalasi gawat darurat yang berada di lantai 7, rumah sakit terbesar di Kota Taipei kala itu.
“Tidak! Suamiku tidak mungkin meninggal. Tidak ....!” jerit Alya histeris.
Saya dan Alya, saat tengah berbincang-bincang.
Wanita tersebut memeluk erat tubuh suaminya yang telah ditutupi kain rumah sakit. Dadanya sesak, bak dihujam sembilu berjuta-juta. Tembus, dan terasa nyeri di ulu hati. Huang, lelaki yang baru saja memberikanya cinta, kehangatan, dan kasih sayang layaknya seorang suami. Baru saja kemarin, ia merasakan kehangatan sebuah keluarga kecil yang utuh. Suami yang disayangi, serta hadirnya buah hati lucu, sebagai perekat hubungan.
“Tuhan ...belum cukupkah kau menguji kesabaranku,?” batin Alya lirih.
Bagaimana kehidupan Alya pasca meninggalnya sang suami? Sahabat Steemian bisa menikmati di kisah selanjutnya di episodi kehidupan Alya yang baru, sebaga singgle mom di bumi Formosa.
BERSAMBUNG
Bagi rekan Steemian yang ingin membaca Episodi Pertama, silakan baca di bawah ini
https://steemit.com/story/@ettydiallova/kisah-nyata-seorang-muallaf-di-bumi-formosa-part-1
Taiwan 07, Februari 2018