Kawanku, lelaki tegap berkulit legam telah lama dikenal sebagai tukang pukul pasar. Sebelumnya ia pernah tercatat sebagai bandit paling tega di masa perang. Dianggap paling keji dan menakutkan.
Baiklah, dia bukan teman lama, baru-baru ini saja kami dekat. Dia saja yang ingin dekat-dekat. Aku tidak. Tapi memilih menjadi musuhnya juga bukan pilihan bijak.
Di terminal ini setiap orang segan padanya. Bahkan petua adat dan hukum sekalipun. Dia disebut buta seragam sebab jika bertindak, ia tak pernah mempedulikan jabatan dan kekuasaan orang. Jika ia tiba pagi hari ke warung kopi, serta merta dihidangkan ke mejanya segelas kopi pahit ujung, dua potong bakpao, dua potong roti selai, serta sebungkus rokok Kisaran Hitam. Demikian ditakutinya ia sehingga tidak seorang pun berani lupa pada seleranya.
Apakah mutlak dia tak berguna? Tidak. Selama ia ada, para pedagang kecil di terminal terjaga dari pungli nakal penggerak kuasa. Dia bertanggung jawab atas gelar kejayaannya: Tukang Pukul Buta Seragam!
Agak-agaknya hanya aku saja yang tidak menaruh begitu menaruh segan padanya. Semua bermula dari sebuah rahasia.
Malam itu, di sela gerimis ia melihat seorang gadis berbaju gamis menangis di sudut taman kota yang dirindangi beberapa batang manggis. Penasaran dan iba, ia mendekatinya. Gadis itu antara takut dan luka bercerita kisah pilu sebab perilaku kekasihnya. Di sanalah awalnya. Gadis luka merebahkan kepala ke bahu tukang pukul kita. Seketika, hancur lebur kuasa lelaki kasar diamuk tusuk asmara.
Pulang di taman, si tukang pukul dilanda demam. Hatinya resah, pikirannya gundah. Semuanya telah berubah. Dia menjadi murah senyum dan selalu bisa menahan amarah. Namun celakanya, suatu sore dia memanggilku untuk mencari siapa perempuan berbaju gamis tempo waktu. Tanpa menunggu lama sebab segan akan kemarahannya, aku berusaha sekuat mampu. Dua hari kemudian dapatlah kontak perempuan itu. Kepada sang tukang pukul buta seragam kuserahkan nomornya, dia terharu dan memelukku.
Di sanalah mulanya kami berteman. Dia memanfaatkanku untuk merangkai kata rayuan yang akan dikirim kepada bunga pujaan. Satu dua puisi yang kutulis atas namanya dibalas dengan tanda senyum oleh gadis tercinta. Merebak bahagia tukang pukul kita. Aku memintanya menelpon, dia tersenyum, lalu mengeleng. Katanya, cinta yang baru tumbuh tidak butuh suara, ia hanya perlu drama. Sialan, dia mengutip tulisan yang belum kurampungkan!
Namun ketika dua pesannya tak terbalas, ucap bijaknya seketika bias. Dengan kegagahan terjaga dia menelpon gadis pujaannya. Sial, sang gadis rupanya dilanda penyakit lupa atau sengaja bersikap seolah lupa agaknya. Kawanku yang tukang pukul itu berkali-kali meyakinkan dengan sabar. Gadis itu tidak ingat juga. Diingatkan lagi, masih saja lupa. Akhirnya dengan sepotong serapah, gadis itu memutuskan telpon mereka.
Kawanku, lelaki tegap yang tukang pukul itu beranjak ke arah pintu. Dihantam dua kali. Belum cukup, dia keluar kamar, ditendangnya meja. Belum puas, ditinjunya dinding. Belum puas juga, dia duduk, meninju lantai.
Akhirnya, dengan mata merah penuh dendam dan amarah, kawanku bergerak ke sudut kamar. Dikepalkan tangannya seperti hendak menghantam. Dia berteriak sekuat tenaga. Suaranya mengandung isak. Dia teriak untuk kedua kalinya. Tangisnya semakin nyata. Kawanku, si tukang pukul berteriak untuk kali ketiga. Setelah itu semua diam. Kawanku meronta. Seketika iblis dan setan turun dari awan kegelapan, masuk ke tubuhnya. Duhai, cinta!