Saya sendiri, , baru kali pertama ini mengikuti PPN X. Setiap penyair yang mengikuti perhelatan ini merupakan penyair yang dinyatakan lolos kurasi karya oleh tim kurator. Sebab, setiap penyair terlebih dahulu mengirimkan satu puisi untuk dikurasi. Bagi penyair yang puisinya lolos kurasi secara otomatis berhak menjadi peserta PPN X. Tim kurator terdiri dari Ahmadun Yosi Herfanda, Sulaiman Djaya, Djamal Tukimin, Mohammad Saleeh Rahamad, Zefri Arif, dan Nik Rakib bin Nik Hasan.
Satu puisi yang dikirim, jika lolos kurasi, akan menjadi password sebagai peserta PPN X. Hal ini dinilai oleh panitia lebih obyektif. Dan dinilai jauh dari unsur KKN. Hehehee.....
Acara pembukaan akan digelar pada Jumat malam pukul 19.00 WIB. Acara dipusatkan di Komplek Dewan Kesenian Banten. Sebuah panggung besar telah berdiri megah. PPN X kali ini mengusung tema “Puisi untuk Perdamaian Dunia”. Sebuah tema yang besar dan berat sebetulnya.
Malam pembukaan PPN X diawali dengan beberapa sambutan, di antaranya sambutan dari Ketua Dewan Kesenian Banten Chavchay Syaifullah. “Berkat doa dari orang banyak itulah segala halang rintang dalam proses persiapan hingga pelaksanaan PPN X di Banten bisa kami jalani dengan santai dan khidmat. Bahkan kesulitan finansial yang selalu menghantui perjalanan kepanitiaan satu demi satu mulai bisa diatasi,” ujarnya.
Selain sambutan-sambutan, acara pembukaan juga diisi dengan berbagai kesenian khas Banten. Ada atraksi rampak bedug khas Banten yang dipadukan dengan tarian yang apik mampu memukau para hadirin. Ritme bedug yang dinamis dan gerakan lembut gemulai, sesekali menghentak-hentak sesuai irama bedug, menjadi tontonan apik dan menarik.
Tak kalah dengan yang lain, kesenian khas Banten yakni debus juga sangat menarik perhatian para hadirin. Kesenian debus sudah menjadi trade mark Banten sejak dahulu. Debus adalah kesenian asli Banten. Pertunjukan kesenian debus mengundang adrenalin penonton. Kesenian debus selalu menyuguhkan atraksi yang berbahaya.
Di malam pembukaan PPN X, para penyair tampil memeriahkan panggung. Penyair-penyair dari lima negara unjuk kebolehan pembacaan puisi. Semakin malam suasana semakin meriah. Para hadirin belum ada yang beranjak dari tempatnya. Sambil menikmati pembacaan puisi, para hadirin dan penonton disuguhi kopi dan teh manis serta bermacam kudapan.
Selain presiden penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, tampil juga penyair Tarmizi Rumahhitam dan Sosiawan Leak. Acara pembukaan ini bisa dikatakan sukses. Seusai acara pembacaan puisi, para penyair kembali ke hotel untuk beristirahat.
Sabtu pagi, saya bangun dan segera mandi. Matahari perlahan terbit di ufuk timur, cahayanya mulai menyinari bumi. Beberapa kawan penyair yang sudah mandi lebih dahulu, sedang menikmati secangkir kopi sambil klepas-klepus.
Acara di hari kedua ini adalah wisata budaya dan religi. Panitia mengumumkan bahwa para peserta PPN X diharap segera menikmati sarapan yang sudah dihidangkan. Sebab kegiatan hari kedua akan dimulai pada pukul 08.00 WIB.
Dua bus yang akan membawa peserta PPN X ke lokasi-lokasi wisata dan religi sudah parkir di halaman eks kantor gubernur Banten. Saya baru akan sarapan. Perut saya sudah memberi sinyal untuk segera diisi.
Seusai sarapan saya segera berjalan menuju halaman eks kantor gubernur Banten. Sesuai arahan panitia, sebagai besar peserta PPN X sudah berkumpul. Dua bus yang akan membawa peserta PPN X telah dinyalakan mesinnya. Para peserta tidak langsung menaiki bus, menunggu arahan berikutnya dari panitia.
Seorang panitia memberi arahan melalui pengeras suara, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok menaiki bus yang telah disediakan panitia. Setelah dipastikan semua peserta tak ada yang ketinggalan, bus bergerak perlahan keluar dari halaman eks kantor gubernur Banten.
Bus yang saya naiki tidak penuh, masih ada kursi-kursi yang kosong. Ya, bus yang saya naik hanya diisi sekitar tigapuluhan peserta. Saya duduk di deretan kursi paling depan, supaya bisa melihat situasi sepanjang perjalanan dengan leluasa.
Lokasi wisata budaya dan religi yang akan kunjungi adalah Keraton Kaibon yang terletak di kawasan cagar budaya Banten Lama. Banyak artefak budaya di kawasan Banten Lama yang meninggalkan jejak kejayaan tempo dulu. Keraton Kaibon secara harfiah berarti Keraton Keibuan atau memiliki sifat keibuan yang lembut dan penuh kasih sayang. Keraton Kaibon dibangun pada tahun 1809 oleh Sultan Syafiuddin yang didedikasikan untuk ibunya yakni Ratu Aisyah.
Kunjungan di Keraton Kaibon tidak berlangsung lama, kami kembali bergerak ke lokasi wisata lainnya yakni Keraton Surosowan. Keraton Surosowan terletak tidak jauh dari Keraton Kaibon di Kawasan Banten Lama. Keraton-keraton ini melambangkan kejayaan kerajaan-kerajaan Banten. Meski keraton-keraton tersebut kini tinggal reruntuhan dan puing-puing saja, tapi masih memiliki daya tarik untuk masuk dikunjungi. Keraton Surosowan dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, yang kemudian dikenal sebagai pendiri dari Kesultanan Banten. Keraton ini dibangun di atas lahan 3 hektar.
Masih ada beberapa titik lokasi lagi yang rencananya akan dikunjungi. Kami kemudian menuju ke Masjid Agung Banten. Masjid Agung Banten di kawasan Banten Lama merupakan salaj satu masjid tertua di Indonesia. Masjid Agung Banten masih menjadi salah satu pusat kunjungan untuk berwisata dan berziarah. Para peziarah umumnya datang dari berbagai daerah di Pulau Jawa, ada juga yang berasal dari luar Pulau Jawa.
Masjid Agung Banten didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1556. Masjid Agung Banten berdiri di atas tanah seluas 1,3 hektar. Menaranya yang tinggi menjulang menyerupai mercusuar. Masjid ini berada 10 km ke arah utara dari kota Serang.
Kemudian perjalanan kami kembali dilanjutkan ke Benteng Speelwijk. Benteng Speelwijk didirikan pada tahun 1585, sebagai simbol berkuasanya kolonial Belanda di Banten. Benteng ini didirikan sebagai bentuk penghargaan kepada Gubernur Jendral Cornellis Janzooon Speelman. Benteng ini pun berfungsi sebagai gudang logistik dan penyimpanan senjata.
Para peserta PPN X pun diajak berkunjung ke Vihara Avalokitesvara Banten. Di ruang dalam aroma hio sangat menyengat. Saya melihat ada beberapa pengunjung yang sedang melakukan pemujaan dan memanjatkan doa. Saya juga melihat beberapa lilin-lilin berukuran besar berdiri berjajar di pelataran vihara, beberapa lilin tampak dinyalakan.
Menjelang tengah hari, rombongan peserta PPN X kembali ke eks kantor gubernur Banten.
Selepas makan siang, rangkaian acara PPN X, dilanjutkan dengan diskusi. Diskusi ini tidak saja diikuti oleh para peserta PPN X saja, tapi juga dihadiri para siswa pelajar, mahasiswa dan guru yang cinta dan peduli terhadap kesusastraan.
Diskusi yang dimoderatori Sulaiman Djaya ini menghadirkan pemateri antara lain Sarifah Yatiman, Shamsudin Othman, Ahmadun Yosi Herfanda, Djamal Tukimin, Suminto A. Sayuti dan Mohammad Saleeh Rahamad.
Seusai diskusi, peserta PPN X kembali ke hotel untuk beristirahat.
Pada malam yang kedua, tibalah pembacaan puisi. Ya, pembacaan puisi kembali dilanjutkan. Sebab tidak semua penyair bisa tampil di acara pembukaan, maka malam ini semua penyair harus baca puisi. Di malam yang kedua ini bahkan lebih heboh.
Beberapa penyair yang sekaligus deklamator akan tampil memukau para hadirin dan penonton. Sebut saja antara lain Imam Ma’arif, Iyut Fitra, Hamdi Salad, Amien Kamil, dan lain-lain. Penyair demi penyair mengisi panggung dan mendapatkan aplaus yang meriah dari penonton. Tidak saja penyair Indonesia, penyair-penyair dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand pun tampil memukau hadirin.
Memang yang paling ramai dan heboh adalah penyair-penyair dari Indonesia, persaingan dan ledekan positif sudah dimulai sebelum naik panggung. PPN X ini disebut-sebut PPN X yang paling meriah dan heboh, dianggap penyelenggaraan yang paling sukses.
Acara malam kedua berlangsung hingga larut malam. Para hadirin dan penonton masih banyak yang bertahan di sekitar area panggung utama di eks kantor gubernur Banten. Beberapa penyair masih menunggu giliran untuk tampil. Saya pun dapat giliran naik panggung menjelang pukul 24.00 WIB. Pembacaan puisi diakhiri dengan penampilan penyair tuan rumah Banten yakni penyair Toto ST Radik.
Meski mengaku tidak siap memberikan kata penutup, presiden penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri tidak bisa menolak permintaan kawan-kawan penyair untuk memberi kata penutup diperhelatan PPN X malam itu.