Aceh dalam literatur Eropa klasik disebut sebagai Achen, salah satunya diungkapkan dalam karya Dr NA Baloch “Advent of Islam In Indonesia” ia menyebutnya sebagai “Achen Head” yakni kepala Aceh, hal yang sama juga diungkapkan Alberuni dalam “Al Qanun Al Mas’udi.
Menurut Baloch, sebelum berdiri Kerajaan Aceh Darussalam, pada awal abad III H, telah berdiri di bagian timur Aceh Kerajaan Islam Perlak. Barulah antara abad V-IX H, berdiri Masyarakat Islam (Islamic States) di wilayah Sumatra paling utara, yang oleh Baloch dinamakan "Achen Head (Kepala Aceh atau Aceh Besar).
Lembaran manuskrip tentang Aceh Sumber
Kemudian berdasarkan Alberuni dalam bukunya “Al Qanun Al Mas'udi,” Baloch mengatakan bahwa Kerajaan Lamuri (Rumbli/Lumbli) di ujung utara Sumatera berdiri dalam satu zaman dengan Kerajaan Sriwijaya di ujung selatan Sumatera. Ini bisa dibaca dalam buku “Advent of Islam In Indonesia pada halaman 25.
Berdasarkan keterangan Baloch itu pula, Ali Hasymi kemudian mengambil kesimpulan bahwa Kerajaan Lamuri adalah Kerajaan Hindu/Budha yang kemudian pada tahun 610 H keberadaannya digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam.
Tentang Kota Lamuri (Rumbli/Lumbli) ada yang mengatakan ia adalah "Lam Urik" sekarang yang terletak di Aceh Besar. Menurut Baloch dan Dr Lance Castle, bahwa yang dimaksud dengan "Lamuri" ialah "Lamreh" di Pelabuhan Malahayati/Krueng Raya sekarang. Pendapat ini lebih dinilai Ali Hasymi lebih mendekati kebenaran jika merujuk pada keterangan Dr Teuku Iskandar dalam “De Hikajat Atjeh” halaman 73 yang menulis: “....dari pada Peringgi di Teluk Lamri...”. Kalau disebut "Teluk Lamri", tentu di pinggir laut, sebab tidak mungkin "teluk" di pedalaman.
Kemudian Prof Dr Raden Hoesein Djajadiningrat dalam buku “Kesultanan Aceh” pada halaman 13, menulis bahwa pendiri Kerajaan Aceh ialah Sultan Djohan dalam pertengahan kedua tahun 601 H. (1205 M) yang di Kandang Atjeh (Kampung Pande).
Masih pada halaman yang sama, dikutip keterangan dari surat kabar “Djawaib” yang terbit di Turki, yang menjelaskan bahwa Ghazi Djohan Syah menaklukkan Aceh dan mendirikan Kerajaan Islam di sana pada tanggal 19 Januari 1215 M. Ini berarti tahun hijrahnya 611 H.
Manuskrip hikayat Prang Sabi Sumber
Mengenai penaklukan Kerajaan Lamuri sebelum Johan Syah mendirikan Kerajaan Aceh Bandar Darussalam, dalam Daurah Al Ma'arif Al Islamiyah (Ensiklopedia Islam) jilid I hlm 71 ditulis: "Sebelum Raja ini (Johan Syah) mendirikan Kerajaan Aceh Bandar Darussalam, terlebih dahulu ditaklukan Kerajaan Lamuri dan kerajaan-kerajaan kecil lain sekitarnya."
Begitu juga dengan keterangan tulisan dalam “Majalah Al Araby” yang terbit di Kuwait edisi Januari 1897 yang menulis Tentang Johan Syah sebagai pendiri Kerajaan Aceh Bandar Darussalam: "Tempat yang mula-mula masuk Islam, ialah ujung Sumatera bagian Utara dalam tahun 55 M (273 M) pada masa Khulafaur Rasyidin; Kerajaan Islam yang mula-mula berdiri di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, ialah Kerajaan Islam Perlak dalam tahun 225 H (840 M) di ujung paling utara Sumatera dan Rajanya yang pertama Sulthan Alaiddin Syaiyid Maulana Abdul Aziz Syah; setelah itu berdirilah Kerajaan Aceh Bandar Darussalam yang berasaskan Islam, dalam tahun 601 H (1205 M)
Kerajaan ini erat sekali hubungannya dengan negara-negara Arab dan dilaksanakan sepenuhnya hukum hukum Syari'at Islam dan rajanya yang pertama ialah Sulthan Johan Syah yang datang ke pantai-pantai Aceh untuk mendakwahkan Islam, hatta sebahagian besar penduduknya memeluk Agama Islam. Johan Syah memperisterikan seorang puteri bangsawan negeri itu. Menurut Ali Hasymi putri bangsawan itu kemudgnkinan ialah Puteri Indera Kesuma, Puteri Mahkota dari Maharaja Indra Sakti.