Aku hanya ingin menulis tentang Mas Pur pada waktunya, sebut saya pada beberapa teman. Dan malam ini janji itu saya penuhi. Mas Pur, lelaki dengan kumis yang khas, berekspresi polos serta logat Sunda yang kental, adalah apa saja yang melekat pada lelaki yang viral akhir-akhir ini.
Bagi saya, Mas Pur adalah akumulasi daripada simbol patah hati yang kemudian coba dituluskan dalam satu kalimat pembuka; "Karena aku sayang kamu". Saat kalimat itu terucap dari mulut Mas Pur dibantu ekspresi polosnya, dunia seolah mendadak slow motion.
Dari Mas Pur kita belajar bagaimana mencintai tapi tidak memaksakan. Cinta memang patut diperjuangkan, namun realitas tidaklah melulu sesuai harapan. Cinta yang nekat, pada beberapa kasus memang mampu mendobrak ketidakmungkinan.
Tapi terlalu banyak fakta, saat Cinta menggebu-gebu tumbuh, perjuangan hanyalah rel yang stasiun pemberhentiannta tak tertebak. Cinta lebih sering memberikan kejutan saat takdir mengambil alih jalan kisah.
Mas Pur yang viral hanya satu. Tapi ada banyak Mas Pur lain di luar sana yang bernasib sama. Sayang, mereka tak mengerti betul bagaimana melihat realita cinta yang kadang penuh onak duri. Ada yang menyerah, dan meyakini dirinya gagal.
Ada yang tetap nekat, tapi tak menghasilkan apa-apa. Dalil "Setidaknya Aku Sudah Berjuang", tidak pernah benar-benar bisa menutupi lubang kekecewaan yang terus terproduksi dari alam pikir jiwa yang tercabik.
Lalu lewat sinetron, Mas Pur hadir memberikan gambaran betapa jiwa besar dan urusan waktu, adalah dua hal yang acap kali kita punggungi. Bagi jiwa yang tulus, atas nama cinta, sering tercebur dalam lumpur kenaifan. Sedangkan jiwa yang kaku, cinta lebih sering tampak mengejutkan, tak siap.
Saya tidak berani bertaruh, apakah viralnya Mas Pur merupakan cerminan daripada banyaknya jiwa lelaki yang patah tapi memilih bungkam. Lelaki, pantang memagis dan sulit mengakui, boleh jadi hanyalah sebentuk topeng maskulinitas yang banyak orang tak menyibak.
Hadirnya Mas Pur yang viral datang dan membuka topeng itu. Tentang kelaki-lakian yang tetap macho sekalipun tampak naif merelakan. Bagi Mas Pur, melihat kekasihnya bahagia dengan yang lain juga bagian daripada cintanya. Terdengar naif memang, setidaknya ada pesan dari dialog antara Mas Pur dan kekasihnya, bahwa perkara "terlalu nyaman" bukan satu-satu hal yang dapat dipegang, ada banyak faktor x lain yang siap menguji cinta.
Maka benar apa yang disampaikan oleh Dimas Indiana Senja, bahwa fragmen paling luka adalah saat dua orang mengaku saling mencintai dan bersepakat untuk tidak saling memiliki. Dimas (2015) berhasil menarasikan dengan baik fakta tersebut, untuk menyentil sisi paling sentimentil yang ada pada kita.
Untuk Mas Pur terus lah hidup, sebab hadirmu menjadi penguat bagi segala luka. Kau tau, jamaah jomblo Nusantara dan jaringan asmara patah-patah masih butuh quote-quote-mu. #PadaMuMasPur menjadi hastag yang mungkin tinkat popularitasnya beda-beda tipis dengan #2019gantipresiden dan #2019tetapjokowi.