Tadarus tidak hanya tentang membaca ayat-ayat-Nya. Tadarus adalah (juga) bagian dari membaca kembali kenangan di masa lalu. Tentang masa kecil hingga ke fase remaja tanggung, di titik itulah ritual tadarus begitu membekas dan berarti.
Nun jauh di masa lalu, mungkin beberapa tahun bahkan ada sudah berpuluh tahun. Sebagai remaja kita pernah cukup gagah untuk ke menasah maupun mesjid demi tadarus.
Peci di kepala, sarung dilipat dikalungkan di leher, seorang lelaki remaja menuju ke mesjid. Tujuannya tentu tidak tadarus semata. Ada yang lain, seperti main bola di malam puasa, bolanya bisa berupa kertas yang dibalut dengan ikatan banyak karet, menghabiskan kue jatah orang tadarus, hingga main petak umpet.
Malam Ramadan, seorang anak dan remaja seolah menggantikan jatah bermain yang waktunya berpindah. Bukankah siasat seorang anak kecil bergadang dengan modus tadarus adalah bagian sabotase agar setengah harinya bisa digunakan untuk tidur dan bangun sangat kesiangan? Lantas, memendekkan waktu tunggu untuk segera berbuka. Mungkin, bangun jam 14:00, dan hanya butuh stok sabar 4 jam untuk segera melahap.
Pun begitu, tentu di masa kita yang lalu. Sesibuk apapun misi lain atas nama tadarus, tadarus sebenarnya juga dilakukan. Tak lengkap rasanya jika keluar bila tak membaca Al-Qur'an minimal satu "ein" saja. Ada yang makharijal hurufnya berantakan, ada tajwid yang amburadul, belum lagi suara layaknya bambu terbelah.
Namun, semua itu dilakukan dengan suka cita. Dengan segenap kepolosan masa kecil. Kendatipun banyak kurang di sana-sini, membiarkan anak-anak menggenggam mic ialah bentuk memberikan kepercayaan serta investasi generasi yang mencintai qalam-Nya.
Waktu berlalu, musim beranjak. Usia bertambah. Seorang anak tumbuh dari satu Ramadan ke puasa berikutnya. Tadarus tak pernah putus, hanya orang-orangnya saja yang berganti. Satu hal yang pasti, tadarus telah menjelma menjadi labirin memori dari padu padan sisi religiusitas, budaya dan segala hal mewarnainya.