Hari guru diperingati dengan upacara bendera akan terus menerus oleh otoritas organisasi keguruan. Dan guru, baik PNS dan honorer akan bergembira mengikutinya bersebab perintah atasan. Dengan menggunakan baju batik putih-hitam dan berpeci bagi pria, guru setiap tahunnya rela berdiri dengan sikap mematung selama kurang lebih 120 menit untuk mendengar petuah petinggi. Celakanya, biasanya petuah upacara resmi itu tidak keluar dari pikiran murni sang pembina upacara.
Pembina upacara biasanya membaca teks yang sudah ditulis oleh tim humas. Jadi, apa yang disampaikan tentang perjalanan pendidikan hanyalah pikiran penulis teks pidato humas yang bisa jadi bualan ilmiah. Atau paling parahnya, hasil copy paste di google.
Tak heran kalau upacara diikuti secara paksa karena 'berlaku absen'.
Saya sewaktu masih mengajar di salah satu SD di Banda Aceh, sama sekali tidak mau ikut organisasi PGRI selain status saya bakti, juga malas dengan kutipan uang organisasi bulanan itu. PGRI bagi saya saat itu hanya organisasi semacam ICMI zaman Soeharto. Dimana anggota dan elitnya menjadikan organisasi sebagai batu loncatan untuk meraih posisi yang politis. Ini cuma asumsi saya pribadi. Walau kemungkinan untuk tidak demikian, terbuka lebar.
Di dunia wartawan, dulu hanya ada PWI. Zaman itu, keberadaan PWI semata sebagai penunduk wartawan. Wartawan yang tergabung dalam PWI biasanya dekat dengan penguasa di berbagai level. Menuju ke pertengahan 90-an, Muncul AJI. Aliansi Jurnalis Independen. Jurnalis revolusioner masa itu menentang penguasa dengan membuat organisasi yang tentunya tak direstui penguasa. Namun, jurnalis-jurnalis itu punya kemampuan melawan berlimpah untuk menentang penguasa orde baru.
Lalu, kenapa hingga saat ini, guru masih tidur dari berkumpul dan berpendapat?