Hai Steemians! Saya kembali setelah melewati hari yang tidak biasa. Pada tulisan ini, saya ingin sedikit “berbagi derita” yang baru pertama kali saya rasakan kepada steemian semuanya. Semoga tidak ada yang meninggalkan tulisan ini setelah memaknai “berbagi derita” dengan versi yang sangat berbeda. Antara derita dan cerita.
Pulang. Satu kata yang tahun lalu berulang kali saya ucapkan. Jika boleh bermajas ria, berjuta kali saya mengucapkannya dalam sadar dan lelap. Jangan tanya yang tak terucap, karena itu lebih tak terhitung jumlahnya. Ini merupakan pengalaman perdana saya merasakan hasrat ingin pulang yang luar biasa. Ini juga tidak terlepas dari baru pertama kalinya saya pergi. Tak ada pulang tanpa didahului pergi. Berbeda tentu rasanya dengan pergi sekolah dan pulang sekolah, dan lagi pulangnya masih ke rumah orang tua. Walaupun pada hakikatnya memang sama-sama pergi dan pulang, dan sama-sama dalam kondisi menuntut ilmu. Tapi pulang saya selama pergi ke kampus tidaklah ke rumah orang tua.
Seperti yang saya katakan sebelumnya. Pergi dan pulang adalah pengalaman perdana bagi saya. Memutuskan melanjutkan kuliah di luar pulau Sumatera adalah gerbang awal yang membuat saya tidak lepas dari kata pulang. Awalnya saya tidak menyangka pergi merantau mengajarkan saya bahwa ada kerinduan yang menggila dari seorang anak kepada orang tuanya. Berhubung saya belum berkeluarga, hanya rindu inilah yang membuat saya tidak segan-segan menangis karena nyata halal ianya, rindu.
Beberapa teman mengatakan kerinduan saya amat berlebihan. Sejurus kemudian setelah tahu bahwa ini pertama kalinya saya merantau, mereka berangsur memakluminya. Mereka merangkul saya yang kerap melow saat rindu tak tertahan menyerbu, dan beralih mengejek saya saat rindu itu perlahan bisa terkendali.
Steemians, saya belajar benar bagaimana mengelola rindu setelah jauh dari keluarga. Walaupun harus saya akui, mengelola rindu tidak semudah itu. Beragam pendapat dari teman tidak memupuskan rindu yang menggebu di hati saya. Setiap kita tentu merasakan rindu. Saya tidak bisa memaksa mereka mengerti sedalam apa rindu saya, dan mereka juga tidak bisa membuat saya memahami seluas apa rindu mereka. Rindu menjadi maklum, dan tidak ada yang bisa menghakiminya.
Setelah lima bulan belajar mengelola rindu. Tepat di awal tahun saya dan teman-teman yang juga berasal dari Aceh akhirnya berkesempatan pulang. Libur kuliah satu bulan menjadi obat mujarab yang harus dilahap sampai tuntas.
Kami berangkat pukul 22.30 WIB. Kemudian sampai di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng pukul 01.30 WIB. Kami memutuskan berangkat lebih awal karena ketakutan terjebak macet di malam tahun baru. Tanpa disangka, jalanan dari Bandung menuju Jakarta sepi sekali.
Beberapa hari sebelumnya kami mendapat kabar bahwa jadwal keberangkatan kami dengan maskapai Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 140 diganti menjadi pukul 12.00 WIB dengan nomor penerbangan GA 146. Setelah mengetahui hal tersebut, kami tidak mungkin mengganti jadwal keberangkatan dari Bandung ke Jakarta, mengingat salah satu teman kami yang berangkat dengan maskapai yang berbeda dengan kami dan dari Bandara Halim Perdanakusuma jadwalnya tidak berubah. kami memutuskan tetap berangkat bersama.
Kami menunggu di bandara selama 10 jam dengan sabarnya. Tidak ada keluhan yang berarti selama 10 jam kami menunggu, karena sudah bukan saatnya kami mengeluh. Tidak mengapa kami menunggu 10 jam untuk satu bulan yang menanti di depan mata bersama keluarga, begitu pikir kami.
Sembari menunggu kami menikmati awan biru.
Pergi. Pulang. Rindu. Hanya perlu waktu untuk bisa menatanya indah dalam sudut hati yang mulai kelabu. Percayalah, sehebat-hebatnya pergi pasti ada rindu tak tertahan yang memintamu pulang.