"Saya bosan, capek dan lelah. Pergi sekolah dari hari senin sampai hari sabtu. Pulang sekolah harus pergi ngaji dan les. Sungguh rutinitas yang sangat membosankan". Begitulah menggurutunya si gadis kecil filza yang masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Sebagai ibunya tentu saya harus punya tanggapan yang tepat untuk memotivasinya. Saya sering mengatakan "nak, pisau saja harus selalu diasah supaya tajam dan bisa memotong apa saja. Begitu juga dengan otak kita, harus selalu kita asah dengan belajar supaya kelak engkau mudah menaklukkan dunia". Untuk sesaat dia memahaminya.
Dia adalah anak tunggal. Setiap hari selalu diejek oleh teman-temannya disekolah karena dia tidak mempunyai saudara kandung.
Begitu sampai dirumah tiap pulang sekolah dia akan mengoceh "semua orang punya adik, kakak atau abang. Kenapa filza hanya sendiri, gak punya saudara untuk diajak bermain". Untuk menjawab yang satu ini sudah banyak pehaman yang saya kasih. Tapi masih saja ocehannya ingin punya adik selalu muncul. Sampai suatu hari dia dikasih pemahaman oleh kakak angkatnya, kakak angkatnya berkata "kenapa harus sedih dengan tidak punya saudara, Nabi Muhammad saja tidak punya saudara kandung. Tapi Nabi Muhammad saling menyayangi dengan saudaranya sesama Islam". Pemahaman ini sampai hari ini masih bertahan. Dan saya tidak lagi mendengarkan keluhannya tentang ingin punya adik.
Begitulah serbi-serbi seorang mak-mak dalam menghadapi ocehan anaknya. Memberikan pemahaman yang baik terhadap anak adalah hal yang sangat penting. Karena seorang anak sedang menjalani proses dan pembelajaran untuk modal hidupnya kelak.