sumber: Instagram rian_backend
Yth. Tuan Pelukis, Rian Kurnia.
Bersama surat ini, kami titipkan segala salam dan doa-doa yang hangat. Semoga kesehatan tidak pernah bosan menghampiri tubuh Tuan. Hari ini, Nona mengirimkan kami kepada Tuan melalui siswanya, Ican. Kata Nona, ia ingin Tuan menjaga kami sebagaimana Nona memperlakukan kami dengan sangat baik sebelumnya. Nona sangat mencintai semua buku-buku yang ada di sudut rumahnya. Setiap ada waktu luang, ia selalu bersama buku. Ia membersihkan buku-bukunya dan merawat koleksi buku-buku tua langkanya dengan sangat begitu.
Nona pernah bercerita kalau kami akan dikirimkan kepada orang yang tepat, Tuan pelukis yang barangkali pernah merasa jenuh dengan warna-warna yang sering berloncatan dalam kepalanya. Kami senang mendengarnya. Itu artinya, kami akan kembali dibaca dan dirawat oleh orang-orang baik, seperti Tuan. Sebab kami tahu, tidak sembarangan Nona mau memberikan buku-bukunya kepada orang asing. Barangkali bagi Nona, Tuan bukanlah seorang yang asing.
Beberapa tahun terakhir, Nona mengabaikan kami karena buku-buku baru koleksiannya. Kau tahu, Tuan. Tidak dibaca dan tidak diperhatikan bukanlah hal yang sama sekali buruk. Di rak buku, kami sering bercengkrama tentang Nona saat ia tidak ada. Barangkali Nona sudah melupakan kami. Barangkali dengan mengirimkan kami kepada Tuan, karena ia sudah malas kepada kami. Tetapi Nona selalu menepisnya. Nona bilang ia ingin kami dibaca oleh Tuan. Nona pasti akan marah besar kalau kami hanya menjadi pajangan. Tetapi Nona tidak bisa marah. Kalau marah, Nona hanya akan diam dan tidak mau berbicara kepada siapa pun.
Mana ada orang-orang yang mau menjadi buku yang hanya dipajang dalam sebuah lemari atau rak saja. Hidup yang terlalu monoton. Setiap hari diselimuti debu yang tak berkesudahan. Mana ada orang-orang yang mau menjadi buku yang terkadang diabaikan dan tidak dibaca. Hidup dalam keberpuraan yang sudah menjadi keniscayaan.
Suatu hari, Nona berbicara kepada kami bahwa ia ingin menjadi buku. Bukankah itu hal yang absurd, Tuan? Kata Nona, ia sangat terinspirasi puisinya Hasan Aspahani. Oleh sebab itu ia ingin menjadi buku. Orang-orang dekat Nona mengatakan bahwa Nona bisa menjadi penulis, tetapi Nona hanya ingin menjadi buku, yang kelak nasibnya tidak jauh-jauh dari dibaca atau diabaikan dalam rak-rak tua yang berdebu. Nona terus berusaha menjadi buku. Ia tidak peduli meskipun kelak ia akan diabaikan. Kami menangkap satu hal kesamaan kami dan Nona. Tidak dibaca dan tidak diperhatikan bukanlah hal yang sama sekali buruk. Kami pikir itu keinginan yang konyol. Yang tidak akan mungkin terwujud, tetapi ia ingin sekali mewujudkan kemustahilan itu.
Yang terhormat Tuan Pelukis, Nona memohon maaf kepada Tuan karena ia hanya mampu mengantarkan buku-buku bekas seperti kami. Nona tidak ingin Tuan menganggap ini sebagai penghinaan. Nona tulus memberikannya kepada Tuan. Juga Nona memohon maaf bila terdapat banyak coretan di dalam tubuh kami.
Di toko buku, kemarin, Nona menemukan sebuah buku tentang ruang yang sampulnya berwarna merah jambu. Ia ingin sekali membeli buku itu untuk Tuan, namun urung. Harga buku itu setara dengan bila memborong enam buku terbarunya Sapardi Djoko Damono. Ini bukan semacam memberikan pengharapan, hanya sebatas menyampaikan niat baik yang terkadang tidak sepenuhnya bisa ditanggapi dengan baik. Nona memohon maaf untuk itu.
Sebelum kami diam-diam menuliskan surat pengantar ini kepada Tuan, Nona membaca kami untuk terakhir kalinya. Lalu, di dalam keheningan yang penuh sunyi, kami bersepakat untuk saling meninggalkan. Tuan tahu kan kalau salah satu persoalan paling rumit dalam hidup terletak antara meninggalkan dan ditinggalkan? Kami meninggalkan Nona tanpa kata-kata. Kami tidak berani menatap matanya yang teduh itu, tetapi kami mampu mendengarkan isi hatinya. Ia mengagumi setiap detail garis yang Tuan ciptakan.
Tuan, tolong jangan beri tahu Nona tentang surat ini. Setelah kami sampai kepada Tuan, kami sepenuhnya adalah milik Tuan. Kami harap, Tuan mau menjaga kami sebagaimana Tuan menjaga setiap emosi yang Tuan tuangkan ke dalam gambar. Sebagaimana Tuan menjaga benda-benda kesayangan Tuan.
Tuan, tolong baca kami dan jaga kami supaya kami tidak menjadi sia-sia!
Rak Buku RFH, Penghujung Maret 2017
yang mendebarkan,
Buku-Bukumu
Aku terkejut ketika tuan pelukis mengabari bahwa buku-bukunya sudah sampai. Akan tetapi, keterkejutanku bukan terletak pada sampainya buku tersebut. Melainkan pesan yang dikirimkan tuan pelukis. Tuan Rian Kurnia mengirimkan pesan melalui LINE bahwa ia sangat senang menerima surat yang ia temukan pada buku Heri Dono yang bersampul warna emas. Ia membacanya dengan penuh haru. Lantas aku pun menjadi bingung. Sebab aku tidak merasa menulis surat.
Namun, benar juga isi surat itu, aku berkali-kali gagal menjadi buku. Lalu siapa yang menulis? Aku pikir, barangkali orang lain di dalam tubuhku yang seketika itu menjelma sebagai buku. Lantas kapan surat itu ditulis? Ketika aku sedang apa? Aku tidak menyadarinya. Buku-buku satra dan seni, seperti Pramoedya Ananta Toer, Heri Dono, Leila Khudori, dan buku pameran lukisan yang sudah kulupa apa namanya, memang pernah aku janjikan untuk kuberikan kepada tuan pelukis.
Suatu ketika aku menonton TV lokal swasta dan mendapat informasi ada sayembara penulisan cerita anak GLN (Gerakan Literasi Nasional) 2017 dalam bentuk buku di tingkat provinsi dan tingkat nasional. Lalu, aku merenung dengan matang, hasil perenungan itu memutuskan bahwa aku akan mengikuti dua kompetisi bergengsi yang hadiahnya bisa dikatakan sangat lumayan. Rp7,5 juta untuk tingkat provinsi yang akan dipilih dua orang sebagai juara. Rp10 Juta untuk tingkat nasional yang akan dipilih 190 juara. Namun, kendala awalnya, naskah harus disertai ilustrasi dan aku tidak bisa membuat ilustrasi.
Tiba-tiba wajah siswaku, Ican, mengapung dalam kepala. Ican adalah siswa tiga SMA yang pernah menjadi juara FLS2N tingkat nasional perwakilan Jambi. Setelah ngobrol berdua, awalnya Ican menyanggupi. Namun, beberapi hari kemudian, Ican membatalkan kesepakatan dengan dalih ia akan mengikuti persiapan Ujian Nasional. Ican bukanlah anak yang tidak bertanggung jawab. Bagiku, Ican membawa keberuntungan meski ia tidak tergolong siswa yang terlalu rajin. Sebagai gantinya, Ican memperkenalkan tuan pelukis, Rian Kurnia, yang notabene adalah gurunya.
Tuan Rian, selain sebagai pelukis, juga sebagai ilustrator di sebuah koran ternama di Provinsi Jambi. Setelah berkenalan melalui LINE tanpa bertatap muka, akhirnya selesai juga ilustrasi naskah Hikayat Depati Parbo, yang akan mengikuti lomba tingkat provinsi. Sebagai kompensasinya, aku memberi pilihan: via transfer yang jumlahnya tidak seberapa atau buku-buku langka yang sudah tidak baru lagi. Namun, beliau memilih buku.
Setelah naskah dan ilustrasi selesai, lalu aku mengirimkannya ke seorang teman di Yogyakarta bernama Mawaidi D. Mas, yang juga adik tingkat kekasihku di Sasindo UNY. Naskah kemudian di-lay out dan dicetak enam eksemplar. Tiga untuk dikirim lomba ke Jakarta. Tiga sisanya kuberikan untuk tuan Rian, Mawaidi, dan satu lagi untuk koleksi pribadi. Karena untuk lomba tingkat nasional, jadi aku memang benar-benar memikirkan kualitas, terlebih lagi hasil cetakan. Salah satu alasan aku tidak mencetaknya di percetakan di Jambi adalah selain harganya lebih mahal, kualitasnya kertasnya kurang variatif seperti di Yogyakarta.
Aku sendiri tidak merasa yakin bisa memenangkan kompetisi bergengsi ini. Aku sering mengikuti banyak lomba dan kebanyakannya tidak menang. Aku tidak kecewa. Bagiku hidup ini berproses. Ketika lomba-lomba sebelumnya diumumkan dan namaku tidak tercantum, aku tetap merasa bergembira. Sebab dari awal, aku memosisikan diri sebagai “penggembira belaka”. Kalau menang ya disyukuri, kalau belum menang, berarti harus memperbaiki kualitas tulisan. Begitu pula ketika naskah novelku pernah ditolak penerbit. Bagiku, ini bukan suatu hal yang buruk, tapi pembelajaran bahwa aku harus belajar menulis dengan serius lagi.
Bagiku, belum menang berbeda dengan kalah. Belum menang berarti masih ada kesempatan untuk menang, meskipun tipis. Sementara kalah adalah menyerah kepada hidup. Dalam artian menjalani hidup dengan monoton tanpa berkompetisi. Meskipun terdahulu aku belum memenangkan lomba, setidaknya bagi diri sendiri aku adalah pemenang. Bukankah setiap kita adalah pemenang? Kau bisa membayangkan sebelum kau menjadi manusia. Ketika ratusan sperma masuk ke rahim ibumu, hanya satu sperma yang mampu menembusnya sehingga kau dan juga aku menjadi manusia. Begitulah. Ketika setiap manuisa dilahirkan, bagiku mereka sudah menjadi pemenang.
Setelah lomba tingkat nasional usai, aku merampungkan naskah untuk lomba ke tingkat provinsi. Judulnya Lubuk Bumbun. Lubuk Bumbun adalah sebuah nama desa di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Dulu, aku pernah KKN (kuliah Kerja Nyata) di sana saat kuliah. Banyak sekali kearifan lokalnya. Maka aku memilih desa ini sebagai objek. Ketika naskahku telah rampung, aku menghubungi tuan pelukis. Sebab lomba ini hampir mirip dengan lomba tingkat nasional, yakni harus memakai ilustrasi.
Aku sangat kecewa ketika Tuan Rian bilang ia sedang sibuk karena disela-sela pekerjaannya yang banyak itu, ia harus membuat sebuah lukisan untuk mengikuti seleksi pameran tingkat nasional. Rasa kecewa itu kupendam dalam-dalam dan diam-diam. Aku juga tidak mungkin memaksa beliau. Sebab seperti yang kukatakan di awal bahwa aku sering mengikuti kompetisi menulis dan jarang menang. Lagipula kompensasi yang kujanjikan ke beliau barangkali tidak ada artinya. Perlahan demi perlahan, komunikasi kami menjadi renggang. Bahkan, sang tuan mengabaikan pesan-pesanku di LINE yang isinya sangat panjang.
Aku tidak tahu apa yang dirasakan tuan pelukis. Bisa saja ia merasa terganggu dengan keberadaanku. Apalagi, sang tuan perlu fokus dalam menciptakan lukisannya. Karena sudah tak tahu lagi harus bagaimana, akhirnya aku menulis surat lagi kepada beliau. Lalu aku mengrimkan surat itu melalui e-mail.
Yth. Tuan Rian Kurnia
Saya tidak tahu harus memulai perbincangan ini dari mana, tetapi saya selalu berharap agar Tuan selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan. Saya juga tidak tahu mengapa Tuan masih diam saja dan tidak mau membalas pesan singkat saya, tetapi saya selalu berharap bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang kurang dari diri Tuan. Saya melalui surat ini hanya ingin melayangkan permohonan maaf atas sikap saya dua hari ini yang barangkali saja sudah mengganggu aktivitas Tuan atau barangkali sudah di luar batas. Saya tidak seharusnya mengirim pesan bertubi-tubi kepada Tuan. Saya pikir, saya sedang dalam masalah. Sesuatu mengapung di dalam pikiran saya.
Tuan pelukis yang baik hati, saya pernah bilang kalau di mata teman-teman , saya seringkali dianggap aneh. Mereka tidak bisa menerima jalan pikiran saya yang menurut mereka berada di luar batas. Saya tidak punya banyak teman dan sangat selektif memilih teman. Saya tidak nyambung ngobrol dengan teman-teman seusia saya sejak kecil hingga kini. Obrolan mereka hanya seputar drama korea, fashion, dan segala seluk-beluk modernitas. Saya lebih senang bergaul dengan orang-orang tua yang di kepalanya penuh dengan tagihan bulanan. Sebab saya belajar banyak hal tentang kehidupan pada mereka. Mungkin Tuan akhirnya juga merasakan keanehan saya itu.
Tuan pelukis yang baik hati, saya mohon maaf bila sudah membuat Tuan kesal sehingga Tuan memilih diam. Orang lain di dalam tubuh saya tidak kembali beberapa hari ini. Saya seperti kehilangan bagian dari diri saya yang lain. Tuan tentu mau berkata kalau saya aneh dan saya akan menerimanya sebab sistem sosial pasti sedang bergerak dan bekerja. Tuan boleh mengatakan apa pun tentang saya, tuan boleh memaki saya, tetapi tolong Tuan jangan diam. Kita masih punya proyek yang belum selesai. Saya berharap banyak, dengan hilangnya Tuan beberapa hari ini tidak akan mengubah keputusan Tuan untuk menjadi partner saya, sebagai satu-satunya ilustrator yang saya yakini di setiap goresan garisnya menghasilkan detail yang membuat banyak orang takjub.
Tuan pelukis yang baik hati, Kalau seandainya Tuan marah kepada saya, maafkanlah saya. Sebab saya tidak pernah ingin bermusuhan kepada siapa pun. Saya selalu ingin berhubungan baik kepada siapa pun. Saya tidak pernah ingin mencari musuh, tetapi keanehan-keanehan di dalam diri saya membuat orang-orang membenci dan memusuhi saya. Dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf. Saya berharap banyak bahwa dalam kediaman Tuan di saat-saat ini, tidak mengubah keinginan Tuan untuk menjadi ilustrator buku saya. Jika Tuan mau, bila menang nanti, saya tidak akan mengambil uang hadiahnya sepeser pun. Semuanya buat Tuan dan Mas Mawaidi. Dan tentu saja, Tuan, saya akan tetap mengirimkan buku-buku yang sudah saya janjikan.
Tuan, ini keinginan paling tulus. Ini bukan berarti saya tidak butuh uang atau saya punya banyak uang, tetapi uang bagi saya bukanlah segalanya. Saya sudah menjauhkan diri dari segala hedonisme. Saya sangat takut menuhankan uang. Sebab ukuran kebahagiaan bagi saya bukanlah uang, melainkan ketenangan. Seperti berada di tempat yang sunyi, yang jauh dari hiruk-pikuk dan keramaian. Tetapi saya tahu Tuan orang baik. Mas Mawai juga orang baik. Kalian berdua pernah menolak saya berikan uang. Rasanya itu aneh. Saya bersyukur punya teman-teman yang baik seperi kalian. Saya akan selalu mengingat kebaikan kalian dalam doa-doa yang panjang.
Tuan pelukis yang baik hati, Saya pernah bilang ke Tuan kalau saya mengikuti lomba ini hanya ingin membunuh rasa penasaran saya. Kemarin saya sudah menelpon pihak kantor penyelenggara di Jambi untuk menanyakan informasi lomba. Mereka menanyakan identitas saya. Lalu saya mengaburkan diri sebagai orang lain. Saya benci mengapa orang-orang selalu suka menanyakan identitas. Apalagi di era kelisanan seperti sekarang ini. Orang lebih percaya kepada siapa yang mengatakan bukan apa yang dikatakan. Lalu, saya menyamar sebagai Neli, Tuan. Seorang wanita dari Tanjung Jabung. Pihak kantor mengatakan kalau yang sudah mengirim naskah baru ada dua orang. Itu artinya masih ada kesempatan dan peluang besar bagi kita. Tuan, saya berharap banyak pada Tuan. Saya janji, kalau menang semua uang hadiahnya buat Tuan dan Mas Mawaidi. Saya tidak apa-apa Tuan. Sungguh. Saya tulus. Saya sangat suka semua karya Tuan. Tetapi Tuan sedang tidak mau bicara kepada saya. Saya larut dalam kebingungan dan kepiluan yang diam-diam menyelinap ke tubuh saya.
Tuan pelukis yang baik hati, tolong jangan pergi dari saya dan Mas Mawaidi. Kita ini tim yang solid, saya percaya itu. Deadline dari pihak Kantor Bahasa Jambi sudah ditetapkan tanggal 20 April 2017 dan saya meminta tolong dan memohon kepada Tuan dengan sangat agar Tuan bisa menyelesaikan garapan ilustrasi kita tanggal 12 April 2017. Sebab Tuan, lay out akan memakan waktu 3 hari dan naik cetak 2 hari. Itu artinya buku yang sudah siap kirim selesai tanggal 17 April 2017 dan akan langsung dikirim ke pihak kantor. Saya berharap banyak kepada Tuan.
Tuan pelukis yang baik hati, masih ada waktu 5 hari lagi. Semoga Tuan menyanggupinya. Saya tulus memohon maaf atas segala kesalahan dan keanehan saya. Tuan, saya sudah tidak tahu lagi mau menulis apa. Semoga Tuan memaafkan saya. Terima kasih banyak ya, Tuan. Saya tahu, Tuan orang yang baik, maka dari itu Tuan akan memaafkan saya. Saya tunggu pesan dari Tuan.
Awal April 2017 yang Gundah
RFH
sumber: instagram rian_backend
Dear Nona
Saya berharap Nona dalam keadaan baik dan sehat, jiwa dan raga. Ada berbagai persoalan selama dua hari lalu yang tidak disengaja. Saya tak menyangka akan seperti ini jadinya. Ternyata Nona begitu respek terhadap saya. Ketika saya memukan banyak pesan singkat dan panjang yang terus terang membuat saya kaget. Mungkin Nona bepikir ada sesuatu yang salah pada ucapan Nona selama komunikasi kita, tetapi itu tak sepenuhnya benar. Karna ini murni kesalahpahaman saja dan semua murni kesalahan saya yg tidak langsung membalas pesan pesan Nona. Saya mohon maaf.
Setelah mendapat pesan yang panjang, saya pikir alangkah bagus bila dibalas dengan surat panjang juga supaya bisa jelas. Saya mencoba menulis sebisa saya. Maaf kalau Nona tidak mengerti dengan tulisan ini sampai akhir nantinya, maklum saya masih amatiran dalam hal ini. Kalau pun belum jelas nanti bisa Nona tanyakan langsung
Nona yg rendah diri, persoalan bermula ketika saya kedatangan teman lama dari Jakarta ke Jambi. Kami bernostalgia dan bercanda menghidupkan kembali suasana yang sudah lama tak kami alami. Saya pun larut dan bermalam dirumah teman yg lain pada saat itu. Tidak bermalam dirumah. Tahukah Nona ketika di luar saya tidak begitu memperhatikan ponsel yang ketika itu ternyata sudah kehabisan kuota. Sebab sehari-hari hidup saya taklepas dari rumah ke kantor dan dari kantor ke rumah. Rutinitas yg membosankan. Karena sudah terbiasa menggunakan wifi di rumah maupun di kantor jadi tak ada pikiran membeli kuota.
Paginya, saya menerima lagi pesan masuk dari Nona. Saya tahu itu. Kesalahan saya adalah tidak langsung membalas pesan Nona. Lagi pula gambar yang saya janjikan buat Nona masih terbengkalai. Pada hari itu, saya coba isi kuota kartu 3 ternyata jaringanya seharian itu buruk sekali (coba tanya sama teman Nona) sampai malam. Sesampai di kantor, lagi-lagi saya disibukkan oleh aktivitas kantor sampai malam. Dan lagi-lagi saya melupakan Nona. Sampai akhirnya sekitar pada jam 12.00 Nona mengirimi saya surel.
Saya cukup kaget membaca isi surel tersebut mengenai pernyataan Nona tentang prasangka kesalahan Nona yg membuat saya diam. Pada saat itu, saya sedang mengerjakan gambar yang saya janjikan, maka tidak langsung di balas. Itu memang disengaja karna akan mengganggu konsentrasi saat bekerja, tetapi di satu sisi, kasihan sama Nona yg tersiksa oleh ulah saya. Saya berharap setelah selesei gambar yang tanggung bisa membuat Nona senang.
Setelah membaca surat Nona, Ada beberapa kekeliruan ynag harus diklarifikasi.
Pertama, saya senang bisa berkomuikasi degan Nona. Bertukar cerita aneh. Terus terang, saya jarang mendapatkan teman seperti Nona. Jangan sampai Nona berubah membatasi diri setelah perstiwa ini! Jadilah Nona tetap seperti biasa dan saya tidak suka bila Nona suka mempersalahkan diri sendiri.
Kedua, mengenai hal komisi terus terang saya tdak setuju. Dari awal, bila juara nanti akan dibagi rata. Apalagi setelah menerima pesan itu, Nona menawarkan mentah-mentah uang hasil juara buat saya dan layout saja. Seharusnya itu jatah untuk sang penulis sepenuhnya. Saya sama sekali tak berharap imbalan dan tak mau merima hasil jerih payah Nona. Saya yakin Mas layouter juga berpikran sama, kami menggangap itu hanya bonus.
Ketiga, untuk ilustrasi, saya mencba berusaha semampu saya di sela-sela kesibukan yang lain. Untuk memenuhi kriteria sebuah ilustrasi buku, maaf bila kadang karya saya tidak seperti yg Nona harapkan.
Keempat, Nona pernah bercerita tentang keanehan perilaku Nona yg membuat teman-teman Nona menjauh dari Nona. Saya pribadi sampai saat ini masih enjoy sama Nona. Tidak ada masalah tentang pertemanan kita. Apakah karena kita sama-sama orng aneh? Karena saya juga mengalami hal yg sama dengan Nona. Teman saya tidak banyak. Saya tidak mudah bergaul. Itulah kelemahan saya sampai sekarang.
Maaf kalau ada perkataan saya yang kurang berkenan di hati Nona.
Wassalam
Rian Kurnia
sumber: instagram rian_backend
Setelah naskah dan ilustrasiku dicetak dalam bentuk buku. Mawaidi mengirimkannya ke alamat kantorku. Aku membungkus ulang dengan rapi dan mengirimkannya ke Kantor Bahasa Jambi. Dari awal, aku sudah memiliki niat yang aneh. Karena perlombaan ini hanyalah untuk menghilangkan rasa penasaran saja, maka aku sudah memutuskan dari awal bahwa aku tidak akan hadir pada pengumuman lomba 09 Mei 2017.
Sudah H-1 dan aku mendapat telpon dari pihak kantor bahwa aku wajib datang di hari H pengumuman pemenang. Rasanya agak asing di telingaku ketika panitia mengatakan wajib datang sementara aku sudah punya rencana aneh untuk tidak datang. Lalu aku berkonsultasi pada kekasihku dan kepada tuan pelukis. Mereka berdua punya jawaban sama. Katanya aku harus datang siapa tahu aku jadi pemenang. Aku masih tidak yakin dan curhat pada seorang teman dekat. Temanku menyarankan juga untuk datang. setelah dengan gelisah menimbang-nimbang, akhirnya aku datang.
Perasaan yang ganjil tiba-tiba seperti merayap di tubuhku. Aku merasa benar-benar menjadi asing ketika namaku disebut sebagai pemenang. Tubuhku lemas. Rasanya aku mau pingsan. Aku belum juga maju sementara pemenang lainnya yang juga penyair Jambi ternama, Asro Al Murthawy, sudah maju. Setelah panggilan kedua, aku memberanikan naik ke podium dan menerima hadiah Rp7,5 juta. Sejumlah wartawan koran dan televisi lokal mewawancaraiku.
Kupikir ini sebuah keajaiban dalam bentuk lain. Seperti yang kukatakan tadi. Aku sudah sering mengikuti sayembara atau lomba-lomba, tapi jarang menang. Ketika aku menjadi pemenang, bukan berarti peserta yang lain adalah orang-orang kalah. Mereka semua adalah pemenang bagi diri mereka sendiri. Mereka semua adalah pemenang bagi keluarga mereka.Jangan patah arang bila kau belum menang. Tuhan hanya ingin menguji seberapa kuat dirimu! Teruslah berkompetisi, perbaiki kualitas, dan berdoa. Bila kau belum menang juga, dengan kesabaran dan ketekunan, aku yakin suatu saat kau akan menjadi pemennag lomba. Jadi, jangan pernah lelah berhenti mencoba. Seperti aku yang terus mencoba beasiswa pascasarjana dan sudah gagal tiga kali. Tidak mengapa. Kita hanya perlu belajar dari kegagalan-kegagalan kita. Yang terpenting adalah jangan pernah merasa lelah berusaha dan mencoba.
Aku mengabari kekasihku, tuan pelukis, dan Mawaidi. Kekasihku tidak bisa menemaniku datang di hari pengumuman sebab mahasiswanya sedang ujian di kampus. Ia tidak mungkin meninggalkan mahasiswanya itu. Dari via pesawat telepon ia mengucapkan selamat. Melalui pesan singkat kukatakan padanya, “Memilikimu dan memiliki tim solid seperti mereka semacam kutukan yang menyenangkan.” Lalu aku, kekasihku, dan tuan pelukis bertemu di sebuah kafe. Malam itu kami memperbincangkan hal-hal yang mungkin biasa dibicarakan orang-orang. Seputar kaum urban atau tentang karya seni, misalnya.
Dua minggu kemudian saat pengumuman lomba tingkat nasional diumumkan melalui web Badan Bahasa, ternyata namaku muncul sebagai pemenang dari 120 naskah lolos seleksi lainnya. Padahal di pengumuman, pemenangnya 190 naskah. Alhamdulillah, dua kali menang tingkat provinsi dan nasional. Saat aku ke Jakarta di awal Juni, Prof. Dadang Sunandar, Kepala Badan Bahasa menjelaskan bahwa total peserta lombanya adalah 727 naskah buku. Yang memenuhi kriteria hanya 120 buku. Meskipun menang lagi, mesti ingat tidak boleh menjadi jumawa. Tetap rendah hati dan merakyat. Karena di atas langit masih ada langit. Setelah menerima hadiah sebesar Rp10 juta dari Badan Bahasa di bulan September nanti, aku rasa aku harus menjadwal ulang pertemuan antara aku, kekasihku, dan tuan pelukis.
Jerambah Bolong, Mei 2017