Aku Wanara, seorang murid SMP, yang baru saja merayakan ulang tahun ke empat belas. Setelah pesta kecil di rumah selesai, tinggal tersisa satu bagian paling penting dari perayaan ini. Membuka kado dari teman dan saudara! Ini yang aku tunggu-tunggu.
Satu persatu aku buka bungkus beraneka warna dan pola yang terhampar di kamar. Di dalamnya, aku mendapatkan berupa-rupa hadiah. Ada komik dibungkus sampul buku sekolah, yang aslinya punyaku (Kerjaan Zacky pasti, karena dulu dia yang meminjam komik ini), kaset video game dari tante Sophie, hingga selembar slayer butut, yang ternyata terdapat tanda tangan personel Band Kamvret Hitam, band metal yang sedang terkenal sekarang. Aku yakin ini hadiah dari sahabat Ayah yang suka mengurusi pagelaran musik.
Semua hadiah telah aku buka, kecuali satu kotak besar, yang sengaja aku sisakan untuk dibuka terakhir. Berukuran seratus sentimeter persegi, dan dibungkus kertas coklat tebal, yang di atasnya tertulis;
"Hei, Wanara! Selamat ulangtahun, dan semoga tinggimu bisa bertambah saat aku kembali ke sana. -Tama di Pedalaman Asia."
Tama. Dia sepupuku yang terpaut umur sepuluh tahun, namun kalau sudah bertemu, kami akan bermain dan mencoba berbagai macam hal, yang dia dapatkan selama perjalanannya sebagai Travel Blogger. Saudara sekaligus teman yang asyik, walau berbeda usia, jika saja sifat usilnya yang suka meledekku "Si Cebol" dihilangkan.
Tidak sabar, aku langsung merobek kertas pembungkusnya, hingga kardus tebal tersingkap. Di dalam pikiranku, hadiah yang diberikan pasti luar biasa. Entah seri papan permainan dunia yang selalu dia tunjukan setelah mengunjungi negara tertentu, (beberapa diberikan kepadaku sebagai kenang-kenangan), atau mungkin artifak kuno seperti yang pernah aku lihat di saluran Discovery Channel (tapi setahuku itu kejahatan, jadi tidak mungkin). Entah apa, tetapi aku tahu pasti, ini bukan hadiah biasa.
Semangatku tiba-tiba gembos hingga mengkerut, saat mengetahui isi di dalamnya. Tumpukan buku bersampul kulit berjumlah tiga puluh buah. Tidak ada yang menarik, kecuali huruf timbulnya yang tercetak berwarna emas, seperti hasil bordiran.
Saat aku bilang tidak menarik, itu kesimpulanku pribadi, karena aku sama sekali tidak suka membaca buku. Mungkin jika ini dihadiahkan kepada Jenny, si kutu buku penguasa perpus, dia pasti akan melonjak kegirangan. Tidak bagiku yang lebih menyukai permainan, apapun bentuknya.
Aku meninggalkan hadiah Tama, yang aku pikir bagian dari keusilan dan kegigihannya dalam mengajak aku menyukai membaca. Jendela dunia yang akan membawa pembacanya menyelami dunia pikiran si penulis yang luas. Itu promosinya saat menawariku membaca buku Si Penyihir Petir setebal lima ratus halaman! Tidak pernah aku baca, dan tersimpan rapi di bagian terdalam lemari pakaian. Lagi pula buat apa membaca cerita yang filmnya sudah aku tonton?
"Aku akan memberikan hadiah luar biasa di ulangtahunmu nanti. Janji."
Kalimat Tama empat bulan lalu, sebelum dia berangkat untuk melanjutkan perjalanannya mengelilingi dunia, terngiang. Mengusik konsentrasiku dari game teka-teki di tumpukan hadiah.
Rasa penasaranku menang. Aku beranjak kembali ke kotak kardus, dan mengambil satu buku yang berjudul "Alkisah Naga Bersisik Merah Delima."
Aku mengerutkan dahi saat membaca judul buku yang tertera di sampul kulit. Judul buku dengan bahasa negara ini, yang dikirim dari luar negeri? Aku mulai meragukan sekaligus penasaran dengan hadiah pemberian Tama. Aku membuka sembarangan halaman buku, lalu memaki kesal. Jangankan gambar, bahkan deretan huruf membosankan pun tidak ada. Hanya buku kosong.
Aku mengangkat tangan dengan maksud melempar buku tidak berguna kiriman Tama. Tepat di saat itu, dari dalam buku jatuh selembar kertas.
"Hahahaha... Kau pasti kesal kan, Adik Kecil? Tenang, aku tidak lupa dengan janjiku. Sekarang kau buka halaman pertama dari buku di tanganmu, lalu ikutilah instruksi yang tertera. Selamat berpetualang, Sobat."
Aku kembali mengerutkan kening, hingga kedua alisku bertemu. Berusaha mencerna maksud dari surat yang dilampirkan Tama. Berpetualang dengan buku pemberiannya? Apakah itu hanya pengandaian saja?
Sebelum makin banyak tanda tanya bermunculan di kepala, aku membuka halaman pertama buku "Alkisah Naga Bersisik Merah Delima" seperti perintah Tama.
Sebaris demi sebaris kalimat muncul di atas kertas putih halaman pertama. Setengah tidak percaya, aku mengucek mata berulang kali, namun deretan kata itu terus muncul hingga akhir halaman. Ini nyata! Bukan ilusi!
"Engkau adalah Sam Daker, si petani miskin yang sebatang kara di kerajaan Capitor. Suatu hari kerajaan gempar, karena Putri Asaru hilang diculik seekor naga bersisik merah delima. Raja mengadakan sayembara untuk menemukan Putri. Bagi siapa saja yang dapat membawa Putri kembali dengan selamat, maka dia akan dinikahkan dengan Putri Asaru, dan menjadi calon raja berikutnya.
Untuk kau yang akan menjadi Sam Daker. Sentuhlah halaman buku lalu ucapkan di dalam hatimu dengan mata tertutup, 'Aku (sebutkan namamu) berjanji sepenuh hati, jiwa, dan raga, untuk menjadi Sam Daker si petani miskin. Menuliskan cerita Alkisah Naga Bersisik Merah Delima hingga selesai, dan tidak akan melanggar janji, walau nyawa taruhannya.'
Masukilah dunia Alkisah Naga Bersisik Merah Delima, dan selamat berpetualang hingga akhir cerita. Semoga beruntung."
Aku terdiam dihinggapi perasaan antara percaya dan tidak percaya. Mungkin akan langsung aku buang buku di tangan ini, jika seandainya kejadian munculnya tulisan tadi tidak memberatkan pilihanku. Namun, akhirnya aku mengalah dengan rasa penasaran, dan mulai mengikuti instruksi di dalam buku. Apa pun hasilnya, tidak ada salahnya mencoba kan?
"Aku Wanara berjanji sepenuh hati, jiwa, dan raga, untuk menjadi Sam Daker si petani miskin. Menuliskan cerita Alkisah Naga Bersisik Merah Delima hingga selesai, dan tidak akan melanggar janji, walau nyawa taruhannya."
Sehembusan napas. Semua berubah! Tanpa daya, tubuhku dihisap masuk oleh angin puting beliung ke dalam buku. Tidak sakit. Namun, sekilas kemudian, kesadaranku menghilang. Semua hitam.
Bersambung
[Note: Cerita ini pernah saya post di Plukme.com]