“Boh hate gadoeh aleh hoo, hek ka loen seutot adindaaaaa” dering ringtone hape milik si Iqbal dengan nada dering yang cukup unik, lagu Bergek yang cukup kocak itu pun membuyarkan pembicaraan kami diwarung kopi yang hampir setiap hari kami “jajah” untuk menikmati kopi pancong yang murah meriah bersama Wak Bar dan Dek Fik. Pagi itu kami sedang membahas tentang hukuman cambuk hari Jumat yang lalu. Katanya yang cambuk itu tertangkap saat museum, eh; mesum maksudnya.
Sekitar tiga menit Iqbal menerima panggilan telpon dan berbicara di belakang warung kopi agar pembicaraannya tidak kami ketahui, mungkin sedikit rahasia atau dia tidak bisa mendengar suara lawan bicaranya karena terganggu oleh bisingnya warung kopi pagi itu karena ramai sekali pengunjung. “Oke, sampai dimana tadi pembicaraan kita broo” lanjutnya lagi setelah menerima telp dari seseorang yang kami anggap misterius. “Siapa sih yang nelp, sampe harus kebelakang segala? Tanya Wak Bar memastikan, karena sekarang ini banyak sekali panggilan masuk dari orang-orang aneh dan menawarkan hadiah ratusan juta rupiah. Dasar penipu!!!
Pembicaraan kami tentang praktek mesum bukan tentang alasan, maraknya praktek maksiat yang dilarang oleh agama tersebut disebabkan oleh kurangnya serapan tentang ilmu agama dan lemahnya iman sehingga gelap mata dalam menuruti hawa nafsu. Perkembangan zaman telah membutakan kita bahwa telah terjadi degradasi moral secara massal dan sistematis.
Sumber
“Tapi yang ditangkap kemarin itu janda lo, hahahahaha” seloroh Dek Fik memastikan bahwa pelaku mesum tidak hanya melibatkan remaja atau mereka yang masih berstatus lajang. Para “penikmat lendir” bisa berasal dari kalangan mana saja, tidak ada batasan usia atau level senioritas. Mereka yang telah dirasuki oleh syaitan laknatillah itu pun akan menghalakan segala cara untuk mencapai apa yang diinginkan sehingga perbuatan maksiat itu pun bisa terjadi dimana dan kapan saja. Apalagi dizaman yang serba canggih ini, anak SD saja sudah mengerti tentang suka terhadap lawan jenis yang berefek pada mental dan karaktek si anak yang secara instan bermetamorfosis menjadi orang dewasa dalam waktu singkat.
“Kamu jangan sampai ketangkap ya Dek Fik?” Canda Iqbal yang membuat kami semua tertawa.
“Aku sih kenal banyak cewek, tapi tak satu pun kupacari karena takut dosa” balas Dek Fik dengan gaya khasnya yang sok lugu.
Apa yang coba ditegaskan oleh Dek Fik ada benarnya juga. Karena cinta terhadap lawan jenis adalah sebuah hal fitrah bagi kita sebagai manusia. Sebab cinta memberi keberlangsungan hidup manusia tetap terjaga.
Fitrah cinta telah diatur oleh Sang Pencipta dengan menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan menjadi kenikmatan kepada penghuni surga kelak.
Begitu sempurnanya Islam mengatur hakikat cinta dalam syariatnya. Tapi sebaliknya, manusia menyalurkannya dengan cara yang tidak sesuai dengan syar’i yang fenomenanya dapat kita rasakan sekarang ini. Pacaran telah menjadi telah menjadi simbol khusus agar dianggap telah mengikuti perkembangan zaman. Praktek musem yang belakangan ini sering terjadi dapat dipastikan karena gaya hidup modern yang tidak dipadu dengan syariat Islam sehingga sesuatu yang salah sekalipun dianggap benar ketika dilakukan secara berjamaah dan menjadi kebiasaan.
“Minum kopi dulu bro, capek ceramah mulu dari tadi”
Wak Bar yang biasanya tampil kalem dengan kaca mata khasnya mulai angkat bicara disela-sela pembicaraan yang semakin syahdu dan berbumbu. “Kalau menurutku, kita boleh saja kenal dan berteman dengan wanita yang kita sukai, tidak perlu pacaran meski saling suka” tegas Wak Bar yang sepertinya sedang dimadu asmara dengan si dia. Iya, si dia yang secara tersirat telah dijadikan target masa depan. Whoaaa!!!
“Mengenal untuk menyambung silaturrahmi silahkan saja, mending jomblo dari pada pacaran kemudian jadi dosa. Nauzubillah” sambung Wak Bar menegaskan dengan lantang.
Sekian****