Iya boleh, ketempat aku saja. Begitu pernyataan temanku saat aku menanyakan kabarnya. Akupun langsung saja bergegas menuju markas temanku tersebut yang belokasi di area tambak di kediamannya.
Begitu sampai di tempat tujuan. Nampak seorang berpenampilan layaknya buruh, tanpa baju dan memakai celana pendek. Di tengah tambak, di tengah teriknya matahari. Tetapi dia baik-baik saja, mungkin kulit tak terasa lagi akan panasnya matahari. Dan itu adalah temanku.
Begitulah kiranya, temanku yang berjuang menghadapi ganasnya dunia ini. Dia bangkit, lalu menghampiriku. Sejenak terlihat wajah yang lelah, wajah yang penuh dengan beban. Tapi masih tersisa senyum di wajah yang dulu putih tersebut.
Dia menawarkan minuman, serta menawarkanku mie aceh pakek kepiting. Dan aku tak mungkin menolak, mungkin karena perutku yang kosong.
Beginilah hidup, semoga apa yang kuusahakan ini berhasil. Semoga terbayar semua lelah ini. Aku ingin membanggakan kedua orang tuaku. Meminang kekasih hatiku dan berumah tangga secepatnya. Tapi ganasnya dunia ini selalu membuatku gagal. Begitu kata temanku, dengan penuh harapan di wajahnya.
Doaku untukmu teman. Semoga cita-citamu tercapai. Dan semoga cepat nikah.