Almarhum kakek telah memberikan saya sebuah tas yang teman-teman saya melihat kenapa saya tidak pernah mengantinya atau meninggalkannya menjadi barang yang di huni oleh tikus-tikus yang tentu bukan tikus kantor, atau menjadi hunian kecoak atau bisa saja di bakar atau bisa juga di titipkan ke laut sehingga menjadi rumah udang atau hunian ikan kecil.
Tas mungil dan kecil
Jawaban dari itu semua mungkin tidak pernah terpikirkan oleh manusia yang sangat menyayangi tas mungil yang sangat tidak bagus ini.
saya sempat ingin meninggalkannya dan berancang-ancang tidak ingin menghiraukannya lagi, sontak saya teringat dengan sosok manusia yang penuh bahagia ketika memberikan hadiah juga tas kesayangannya kepada saya.
Ketika mengingat sosok manusia yang sebagian besar pasti merindukan seorang yang memotivasi baik dari segi perkataan juga perbuatannya ("kakek") kepada cucu yang selalu mengadu dengannya, tampa berpikir panjang saya dengan penuh merasa bersalah kembali mengambil dan menyandangnya kembali dan berkata "wahai tas mungilku maafkan aku yang berencana meninggalkan mu.
Banyak hal yang sudah dilalui, sudah luas perjalanannya bersama saya, hingga jika manusia mungkin berkata kepada saya "tidakkah kau lelah membawa ku kemana kau pergi", pasti saya akan menjawab dengan penuh rasa bahagia dengan nada yang senang dan berkata "wahai sahabatku, kau adalah bagian dari kehidupanku, maka saya tidak akan mebiarkan mu jauh dari ku".
Menjadikannya seorang sahabat itulah cara yang saya lakukan saat ini, sehingga seorang teman pernah berkata "gantikan saja tas mu", saya hanya menjawab celotehan nya dengan melempar senyum terhadapnya, karena jika saya menceritakan jasa tas ini kepasa saya, mereka bisa saja berkata "itu hanya tas kawan", kalau begitu kata mereka saya akan menjawab "initas bukan tas sembarangan, ini tas, tas kesayangan
07 Desember 2017