“Hai.. kamu si kecil kan? Sebentar... Aku yakin dulu kita pernah satu sekolah..,” sambil langsung aku tarik bangku kosong dihadapannya. Ayam yang tadinya sudah menempel dibibir, ia turunkan dan memandangku curiga. Aku tersenyum, kupakai kacamata agar ia bisa mengingatku. Dan gadis itu tersenyum, menampakkan barisan gigi putih.
Akhirnya siang itu kami bercerita banyak. Dia Randa, aku biasa menggodanya dengan panggilan kecil, mungil atau ‘kuntet’ yang akan membuat wajahnya cemberut.
Tapi jangan ditanya penampilan gadisnya sekarang. Pasti tidak ada yang akan menduga kalau dulu, betapa mungilnya dia. Hanya satu yang tidak berubah dan membuatnya langsung aku kenali. Wajahnya ya, wajahnya tidak berubah sama sekali. Masih manis!!!
Disela-sela saling canda mengenang masa-masa berbaju merah putih, aku mengajukan pertanyaan yang menurutku aneh saat itu. Aku melihat Randa, gadis di depanku itu sedang marah-marah. Ia menghentakan kaki di depan kamar mandi kelas lima.
Sebagai gambaran, sekolah kami merupakan sekolah terluas di komplek perusahaan. Jika sekolah lain, terletak di dekat perumahan karyawan, sekolah kami satu-satunya yang terpisah sendiri. Rumah karyawan terdekat sekitar dua kiloan. Jika malam, sudah pasti sepi. Bahkan penjaga sekolah juga tidak mau tinggal disana. Kata orang-orang, sekolah terangker... Banyak penunggunya.
Sedangkan bangunan antar antar kelas, bisa mencapai 20-30 meter. Beberapa pohon besar tumbuh di sekitar sekolah. Ada pohon kayu putih, mahoni yang batangnya dua kali pelukan dewasa dan pohon bunga merak sebesar pohon asam.
Yang paling ujung adalah kelas lima, kelas bukit, kalau kami menyebutnya. Kelas yang paling tidak menyenangkan, menurutku.
Dibelakangnya ada sumur minyak. Menurut cerita, dulu ada pengebor minyak yang meninggal disana. Ia menyelamatkan beberapa temannya dari kejatuhan “kepala gajah” yang beratnya sampai 30 ton.
Akibatnya dirinya sendiri menjadi gepeng tertindih.
Sejak itu, beberapa kali dalam setahun ada cerita hantu gepeng terlihat di sekolah terutama di kelas lima. Aku sendiri belum pernah melihatnya.
Bersambung