Hello para stemians sejati dimanapun anda glong pacak pada hari ini !
Tentunya kalian pernah mendengar sosok seorang pemuda yang bernama "Adeunan" yang mungkin masih menjadi misteri besar mengapa dan bagaimana nama itu bisa melekat kepada diri saya. Mungkin sosok "Adeunan" pernah kalian dengarkan atau kalian baca pada tulisan seorang stemians sejati yang bernama bukan ?
Oke langsung saja !
Benar ! nama "Adeunan" mungkin sudah melekat di beberapa hati sanubari insani para stemians seperti
dan juga
. Kenapa bisa terjadi seperti itu, apa penyebabnya, kalian fikir hal itu terjadi begitu saja ? Tidak ! Dibalik itu semua, sosok nama "Adeunan" memiliki kisah yang amat sangat menarik.
Kita flasback sedikit kemasa lalu dimana sosok nama "Adeunan" itu muncul ke permukaan bibir para insani bumi. Pada suatu saat, dimana saya masih duduk di bangku kelas empat SD, saya kedatangan dua orang insan yang bernama dan juga
. Pada masa itu,
yang bekerja sebagai guru PMP dan
yang beperan sebagai seorang mantri yang amat sangat setia itu membangun tenda penginapan atau memilih untuk tinggal di Aceh Timur dimana saya juga tinggal di Aceh Timur pada waktu itu.
Waktu itu, seingat saya, terjadi sebuah kecelakaan kecil yang menimpa diri saya, saya terjatuh di halaman sekolah, dan lutut saya pun mengeluarkan cairan merah yang diberi nama "darah". Waktu itu saya menangis tersedu-sedu menahan rasa perih yang amat sangat, ulah pasir-pasir nakal yang masuk kedalam luka dilutut ku. Aku seakan enggan meminta pertolongan, karena disekolah aku sudah di cap sebagai murid yang begitu nakal sehingga membuatku merasa malu dan tak pantas untuk mengemis meminta pertolongan. Jika itu terjadi, sungguh, murid-murid lain akan tak akan takut lagi kepadaku.
Dengan sedikit di iringi rasa sombong, aku pun sedikit demi sedikit bergerak untuk bangun dan duduk disebuah batu besar yang terletak disamping pagar di depan kelas ku. Aku mengambil dedaunan tanaman bunga untuk menutupi sedikit darah di lututku yang terus bercucuran. Tanpa aku ketahui, seseorang dengan gerakan lembut tiba dibelakangku dan memegang pundak ku, siapakah beliau? Ya, beliau adalah . Tak menunggu lama, dengan keahlian yang beliau punya, beliau mengeluarkan sebotol minyak hitam didalam sebuah botol kecil dan kemudian digosokkan ke lututku yang telah luka itu.
Akupun terdiam, sejuknya rasa minyak itu membuat ku sedikit tenang. Aku sangat menikmati gosokan itu, sangat amat ku nikmati. Didalam hati ku berkata, "aku belum pernah menemukan perlakuan dokter selembut yang perlakukan terhadap lukaku ini", sungguh perlakuan yang sangat amat langka untuk saya temukan di dunia kedoktoran. Tak lama kemudian, beliau mengeluarkan dua kata dari dalam mulutnya, "Adeunan, bangunlah" sentak membuat hati ku bertanya, kenapa beliau memanggilku dengan sebutan "Adeunan" ? Setelah sekian lama saya ngobrol dengan sosok manteri yang setia itu, dan ternyata, sebutan nama "Adeunan" adalah nama ungkapan rasa sayang yang selalu di ucapkannya kepada setiap pasien yang pernah di obatinya.
Kejadian itu sungguh membuat ku terkagum-kagum dengan beliau sifat kesetiaan beliau kepada setiap pasiennya. Semenjak kejadian itulah, nama "Adeunan" melekat pada diri saya. Dan jika beliau membaca ini, aku ingin berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada beliau yang telah membuat luka di lutuku menjadi sembuh dan tak berbekas.
Terimasih telah membaca cerita yang tak begitu penting untu dibaca ini, namun harus di baca.
Salam "Adeunan"