Tidak banyak yang bisa menjadi sahabat saya. Karena tidak semua kolega, teman organisasi, atau rekan aktivis menjadi sahabat. Proses waktu yang berlangsung lama, terutama di saat penuh putus asa dan derita, bisa menjadi tambang seleksi untuk menentukan sahabat. Ada yang datang saat berjaya. Ada yang hadir dengan kepalsuan meskipun mengaku empati. Ada yang pura-pura dan mengicuh di belakang. Untuk orang seperti itu biasanya bukan sahabat.
Sahabat itu ialah orang yang kita percayai dengan tulus, teman terbuka atas segala keresahan yang kita rasakan. Ia bukan teman tertawa haha hihi. Salah satu bukti seseorang menjadi sahabat adalah ada titik duka di dada kita ketika ia ditimpa musibah. Saat ini seorang sahabat sedang terjaring kasus hukum, yang sialnya adalah narkoba.
Itulah yang mungkin saya alami ketika salah seorang sahabat kini tertimpa musibah, mantan aktivis 98. Orang banyak bisa bilang ia terlambat nakal. Bagi saya, tak ada ruang yang sah bagi kita membuat _moral judgement- atas situasi seseorang yang tidak berhubungan dengan dunia publik. Setiap kita punya kenakalan, beruntung saja Tuhan sedang berbaik hati tidak menjemurnya di muka publik.
Saya telah mengenalnya ketika rejim Orde Baru hampir punah. Ia seperti para aktivis lainnya, kritis mengulas pelbagai borok rejim. Kekerabatan kami mulai mengental ketika ia juga memiliki empati atas kasus Aceh pascaOrde Baru. Ia kerap mengkritik kebijakan militer atas situasi Darurat Militer. Ia masih terus membuat analisis ketika Aceh meraih perdamaian. Ia memang diberkahi talenta yang unik, dan tentu itu upaya terus menerus. Disamping lihai berkata-kata dalam tulisan, ia juga jago orasi dalam seminar. Tak banyak penulis memiliki keduanya.
Memang ada hal yang membedakan saya dengannya. Ia mungkin langsung masuk dunia kerja ketika selesai kuliah strata satu. Saya agak lama di dunia aktivis jalanan. Selesai S1, ia bergabung ke Centre for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga yang sebenarnya menjadi think tank-nya Orde Baru. Namun lembaga ini tahan melalui zaman. Mereka tetap kukuh sebagai lembaga riset independen dan bereputasi internasional.
Tidak banyak mantan aktivis yang bisa masuk CSIS. Sebagian besar yang lulus di sana memang para kutu buku dan anak-anak yang brilian secara akademik. Ia mendapatkan berkah dari perjuangan yang saya pikir juga berdarah-darah, ketika bisa meyakinkan para board untuk menerimanya di lembaga itu.
Sebagai aktivis tentu ia juga high profile, berbeda dengan para peneliti atau akademisi murni. Tapi itu tidak merugikan siapa-siapa. Meskipun kita kenal di CSIS ada nama-nama seperti Harry Tjan Silalahi, Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi, atau Rizal Sukma, tapi namanya yang lebih sering muncul di media seperti Kompas, Koran Tempo, dan Media Indonesia. Maklum, saya juga pernah merasakan bagaimana kerasnya hidup sebagai perantauan di masa kuliah. Cara kita bertahan salah satunya adalah dengan membuat artikel ke media massa. Media massa itu akan mengirimkan honor untuk setiap tulisan yang dimuat.
Suatu saat saya bertanya padanya, “mengapa tulisanmu lebih bernuansa sastra padahal tulisan politik?” ia mengatakan bahwa ia memang jebolan Fakultas Sastra Jurusan Sejarah. Fakultas itu kemudian berubah menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Awam sering keliru memahami sastra (literature studies) hanya berhubungan dengan puisi, prosa, atau drama. Pada dasarnya kajian sastra adalah kajian bahasa dan kebudayaan, dua hal yang hampir melingkupi seluruh sendi peradaban manusia. Makanya Antropologi pada awalnya juga masuk pada Fakultas Sastra, hingga akhirnya dimasukkan ke dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Hal ini penting dituliskan di sini karena pada dasarnya ilmu sosial dan politik yang berkembang saat ini bukan lagi ilmu postivistik-matematik, tapi mengalami perjumpaan yang banyak dengan kajian budaya dan sastra. Beberapa waktu lalu Basis, jurnal budaya yang paling tua dan masih bertahan saat ini, pernah meluncurkan gagasan Gerakan Pengetahuan Sosial Berbasis Sastra.
Sesungguhnya, seluruh pengetahuan itu akan ditentukan oleh bagaimana bahasa mengolahnya menjadi logika yang subur (the idea that language and its structures limit and determine human knowledge). Itu yang disebut sebagai determinisme bahasa (linguistic determinism). Hal itu pula lah yang saya lakukan dalam membuat artikel atau karya tulis. Saya tidak ingin tulisan saya hanya sebaris kalimat yang kurus kering tanpa karakter. Hanya menyampaikan informasi yang hanya banyak kutipan, tapi tandus dalam metafora, konotasi, dan alegori. Jika ada nilai susastra dalam artikel-artikel saya, itu memang buah kesengajaan, dipelajari dari membaca karya-karya sastra, terutama cerpen.
Kini sang sahabat itu sedang meringkuk dalam sunyi. Tidak ada sorak-sorai audiens yang menyemangati. Tidak ada aplaus yang menunjukkan kecemerlangan idenya. Ia seperti ditingggalkan.
Saya tak akan mengutuknya. Saya mendoakan semoga ia kuat menghadapi laluan hidup. Seperti keberaniannya melawan mainstream ketika berada di puncak “keartisannya” sebagai kolumnis dan pemikir independen, tapi memilih jalur partai politik. Endorsement saya di buku memoarnya tentang kekalahan-kekalahan politik juga menunjukkan sikap yang menyayangkan.
"Keputusan .... memasuki politik dengan menjadi kader Golkar menyebabkan ia seperti seseorang yang terlalu lama tidur siang dan bangun di kepekatan senja sehingga menyangka telah pagi. Dunia baru itu sangat disorientatif dan manipulatif, padahal dunia kata-kata adalah orkrestra terbaik baginya."
Jika bisa memaksa, saya tidak ingin ia masuk ke partai politik, apalagi partai itu mutan Orde Baru. Ada seorang aktivis Aceh yang juga dulunya aktivis kiri. Namun setelah masuk partai pohon kuning tua itu yang mulai terseok-seok itu, dia pun mengambil jarak dengan saya. Mungkin malu hati. Dulu bisa acung tangan kiri. Kini harus sodor jempol kanan, karena kiri berarti tidak sopan.
Saat itu saya menyesali juga, tapi saya tidak menyalahkannya. Ada pilihan yang tentu tak mudah. Ia mungkin sedang melalui satu pertapaan, dari dunia pengamat menjadi dunia pelaku. Meskipun tidak ada satu pun tesis pun yang berhak mengatakan bahwa dunia idealisme pemikiran lebih rendah dibandingkan dunia pragmatisme politik yang meremukkan kekuasaan. Atau sebaliknya.
Dalam dunia peradaban hal itu juga dilalui dengan penuh martabat oleh orang-orang yang memilihnya. Ada Aristoteles yang tetap di dunia pikir dan ada Aleksander yang Agung di dunia kekuasaan. Ada Cicero yang mengingatkan dan ada Julius Caesar yang melakukan. Ada Ayatullah Khomeini yang menjalankan revolusi dan ada Ali Syariati yang menjaga kata agar revolusi tak memakan anak kandung sendiri. Ada pemikir dan ada pelaku.
Apapun situasimu saat ini Sobat, jalanilah dengan penuh sabar dan tawakal. Ini mungkin jalan hijrah baru yang ditunjukkan Allah, bahwa kita harus berdiri tegak setelah dihempas ombak ke tepian. Kau sudah pasti kuat, karena Kau anak Pariaman yang sendirian datang ke Jakarta dan menaklukkkan bengisnya ibukota, hingga berhasil menancapkan sejarah di salah satu ceruknya.
Doaku selalu untukmu!
16 September 2017