Bocah kecil itu berkeliling dari satu meja ke meja lain. Ia menyentuh lengan setiap orang yang didatanginya. Saat orang yang disentuh melihat ke arahnya, ia menengadahkan tangan, pertanda meminta belas sejumlah uang. Anak ini terlalu kecil untuk menjadi pengemis. Hati saya tersentuh setiap kali melihatnya berkeling meja di kedai tempat saya biasa nongkrong bersama rekan.
Suatu kali saya bertanya padanya, siapa yang menyuruhnya meminta-minta seperti itu. Ia lugas menjawab, tak ada yang menyuruhnya. Apa yang Ia lakukan murni keinginannya sendiri agar punya jajan untuk bersekolah.
Saya punm bertanya, kemana ayahnya. Ia mengatakan ayahnya sudah lama meninggal. Ia punya seorang kakak yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Sementara dirinya masih kelas dua.
“Ayah sudah meninggal. Mamak sakit ginjal sekarang di rumah nenek. Kami semua tinggal di rumah nenek di belakang supermarket,” katanya menyebutkan nama sebuah supermarket yang ada di Kota Lhokseumawe.
Teman yang duduk di sebelah saya tersenyum. Ia berbisik ke kuping saya, pasti anak itu sudah diajarkan untuk mengarang cerita. Tapi entah mengapa, saya merasa sebaliknya. Saya merasa anak ini sangat polos saat menjawab. Tak terlihat Ia mengarang cerita sama sekali.
Tiba-tiba saya tidak menyalahkan anak ini. Saya bertanya dalam hati, kemana pemerintah? Bukankah fakir miskin dan anak telantar, menjadi tanggungan negara? Bila anak sekecil ini harus mengemis, saya merasakan pemerintah tidak hadir di tengah kehidupan warganya yang miskin. Lebih lagi anak ini anak yatim.
Kemana pengelola baitulmal? Begitu banyak lembaga yang dibentuk negara untuk mengurus anak-anak seperti ini, tetapi dimana mereka? Dalam satu hari, ada puluhan pengemis dan orang cacat yang terlihat meminta belas kasihan. Bahkan, kami pernah menghitung dalam tempo dua jam ada sekitar 9-10 orang pengemis yang menghampiri meja kami.
Begitu memprihatinkan, dari hari ke hari semakin banyak pengemis di kota ini. Semoga ke depan, ada aksi nyata yang dilakukan oleh pemerintah melalui instansi terkait untuk mengurus fakir miskin dan anak-anak telantar.