Aceh secara khusus dan Indonesia secara umum, merupakan lumbung rempah andalan dunia dari sejak zaman lampau hingga kini. Tanah subur dengan iklim tropis yang mendukung mejadikan rempah-rempah sebagai harta karung tak ternilai hingga sampai generasi kini di buat bangga karena kakek buyutnya dulu adalah saudagar rempah yang kaya raya di dunia.
Keragaman rempah-rempah laksana taburan intan yang berserakan di seluruh negeri yang terhampar dari sabang sampai marauke. Ukiran sejarah yang tidak dapat dihapus bahwa bangsa ini berdiri gagah dan mecapai martabat tingginya melalui hubungan dangang yang diwakili oleh kehadiran rempah-rempah berkualitas di pasar International.
Sepanjang abad ke-16 dan 17, bangsa-bangsa lain di dunia seperti Spanyol, Portugis, Arab, Belanda, India dan banyak lagi. Jauh-jauh berlayar ke nusantara hanya untuk dapat menguasai rempah-rempah nan masyur di tanah tanah air. Pada saat itu rempah adalah produk utama perdagangan, hingga seperti bunga lawang (cengkeh) sempat menjadi alat tukar yang harganya setara emas pada saat itu.
Aceh pada saat itu kaya akan pala, kayu manis, cengkeh, lada, minyak nilam dan jahe. Namun sampai tulisan ini saya tampilkan, penulis sungguh kekurangan kabar dimana rempah saat ini berada dan kenapa dia tidak lagi menghantam sombongnya dunia dengan produk plastik dan teknologi malasnya...
Teman-teman ada yang tahu...? Kabari saya ya..
Dan sampaikan pada dunia bahwa gunung rempah-rempah kita masih sehebat dulu.