Selamat pagi wahai pengusa negeri
Melalui sajak ini kusampaikan pada penguasa negeri
Di negeri kami abrasi terus terjadi
Tanah dan rumah terus di habisi
Puluhan kuburan orang mati harus dievakuasi
Mengapa penguasa negeri ini seakan tidak peduli
Kutuliskan kata puisi ini karena tidak ada lagi kata yang bisa membuka hati
Para penguasa negeri sudah semakin tidak mampu mengerti nasib kami seperti ini
Abrasi terus melanda di negeri kami
Penguasa hanya sibuk sendiri mengurus kepentingan sendiri menjelang pesta demokrasi
Dimana hati nurani para penguasa negeri?
Apa kesalahan negeri ini, sehingga menjadi anak tiri, masihkah desa kami ini bagian dari negeri ini?
Sedih bercampur emosi
Sementara penguasa negeri hanya bisa berjanji
Nanti akan kami atasi
Nanti kami akan berbagi
Ini lagi prosesi
Hari terus berganti
Kian hari tanah dan rumah terus digali
Mungkin hidup kami tidak begitu berarti, kami memang bukan investasi bagi para penguasa negeri
Tapi paling tidak ingatlah akan jasa kami
Kutuliskan untaian kata ini sebagai lembaran surat cinta kepada penguasa negeri
Semoga nurani kian mengerti
Bahwa kami juga ingin menikmati
Hari-hari tanpa rasa gundah akan kehilangan rumah dan tanah kami
Wahai para penguasa negeri
Masih adakah nyali?
Masih adakah nurani?
Masih adakah janji-janji?
Melihat kondisi seperti ni