I am still hunting bedug wherever I go during the month of Ramadan. This time I found a bedug in the mall Thamrin City, Jakarta, on Saturday June 10, 2017. There is a unique with the bedug. Normally, I see a drum with dried goat skin and feathers have fallen out. However, this bedug actually preserves the beauty of goat hairs. Perhaps later let be modeled when sounded.
As in my previous short article, bedug is a medium for delivering messages to a number of ethnic groups in Indonesia. In many places, the time for breaking the fast is marked with a hammering sound. In Aceh, people also use bedugs to preach the news of death.
Bahasa:
Saya masih memburu bedug di mana pun saya singgah selama bulan Ramadhan. Kali ini saya menemukan bedug di mall Thamrin City, Jakarta, pada Sabtu 10 Juni 2017. Ada yang unik dengan bedug tersebut. Biasanya, saya melihat bedug dengan kulit kambing yang sudah dikeringkan dan bulu-bulunya sudah rontok. Namun, bedug ini justru mempertahankan keindahan bulu-bulu kambing. Barangkali nanti dibiarkan rontoh ketika ditabuh.
Seperti dalam tulisan singkat saya sebelumnya, bedug merupakan media penyampaian pesan bagi di sejumlah etnis di Indonesia. Di banyak tempat, waktu berbuka puasa ditandai dengan suara bedug yang bertalu-talu. Di Aceh, masyarakat juga menggunakan bedug untuk mengabarkan berita kematian.[]