Long way to reach this well known historical place, that is located in Mugoe Rayeuk, Panteu Reu West Aceh, Indonesia, approximately 40 kilometers from Meulaboh downtown. It was such a wonderful time touching with the respected ground. The ground where the bravery man was buried. This grave has been well known as the historical object by the locals. Teuku Umar, a hero died in dignity. Here, where his body was buried. He was the leader of a guerrilla campaign against the Dutch during the Aceh War. On my last day in Meulaboh, I sought for a good chance to visit his grave.
Perjalanan yang lumayan jauh ke tempat bersejarah yang terkenal ini, yang terletak di Mugoe Rayeuk, Panteu Reu Aceh Barat, Indonesia, sekitar 40 kilometer dari pusat kota Meulaboh. Itu adalah saat yang sangat indah bisa bersentuhan dengan tempat yang terhormat ini. Tempat dimana seorang lelaki pemberani dikuburkan. Makam ini telah dikenal sebagai objek sejarah. Teuku Umar, pahlawan yang gugur bermartabat. Dia adalah pemimpin komplotan gerilya melawan Belanda selama Perang Aceh. Pada hari terakhir saya di Meulaboh, saya mencari kesempatan yang baik untuk mengunjungi makamnya.
Entering the cemetery we must walk down heavily, the silence flashing fragments arouse from the side of the forest, on that day, only four of us dominated this graveyard under the good weather; no wind, no cloud, a quite temperatures accompanied our steps.
Memasuki pemakaman,kami harus berjalan turun, keheningan yang memancar dari sisi hutan, pada hari itu, hanya empat dari kami mendominasi tempat ini di bawah cuaca yang baik; tidak ada angin, tidak ada awan, suhu yang cukup menyertai langkah kami.
Before reaching the graveyard, we found a simple wooden house that was built close to the main entrance of the grave and on the wall, we could find a lot of the historical records of Teuku Umar. The house itself followed the style of Achenesse Traditional House. If you want to reads about his story, you must pass a few wooden stair to lead you up.
Sebelum kami sampai ke makam, kami menemukan sebuah rumah kayu sederhana yang dibangun di dekat pintu masuk utama. Di dinding rumah ini, kita bisa menemukan banyak catatan sejarah Teuku Umar. Rumah itu sendiri mengikuti gaya Rumah Adat Achenesse. Jika Anda ingin membaca tentang ceritanya, Anda harus melewati beberapa tangga kayu untuk sampai ke atas.
The grave was built with the ceramic stuff. It stood there with its youthful glow, strong, erect, ready to last twenty years or more and it showed a great honor upon his service and struggle to freed this country. There, a noble body was buried and during the weekdays many visitors come to pray.
Makam tersebut dibangun dengan keramik. Terlihat di sana dengan cahaya mudanya, kuat, tegak, siap untuk bertahan dua puluh tahun atau lebih dan itu menunjukkan penuh rasa hormat atas jasa dan perjuangan untuk membebaskan negara ini. Di sana, tubuh mulia dimakamkan, dan selama hari kerja banyak pengunjung datang untuk berdoa.
Beside the grave, there is golden color water crock where it provided the washing water, the visitors use this water to wash their face over the grave. I wish I could find the grave guard to know about its age but he was seemingly on break.
Di samping makam, ada tempayan air berwarna emas, para pengunjung menggunakan air ini untuk membasuh wajah mereka di atas kuburan. Saya berharap bisa menemukan penjaga makam untuk mengetahui tentang umurnya tapi sepertinya dia sedang istirahat.
Down to the graveyard, there is praying place that was built for the visitor who need to rest and do some worships. The authority facilitated this kind of praying hall so the visitors may feel comfortable doing their pray. On that day, I found no visitor come to this place, it is normally crowded on Saturday and Sunday.
Di bawah lokasi pemakaman terdapat sebuah musalla yang dibangun untuk pengunjung untuk beristirahat atau bersembahyang. Yang berwenang memfasilitasi tempat sembahyang semacam ini supaya pengunjung merasa nyaman saat berkunjung. Pada hari itu, saya tidak melihat pengunjung yang datang ke tempat ini selain kami, menurut kawan saya, tempat ini biasanya ramai pada hari Sabtu dan Minggu.
Soon I arrived in the yard, I rushed to walk toward the grave, which was a few meter before me. While I was close to the grave, I recalled about the hard time of his struggle. As today generation, we must respect his struggle and hardship in the past because of effort, we now live in peace. It was about an hour, I was sunk in the memory of hundred years ago, where this war leader gave his life to the war. In the next one hour, we left the graveyard, and I felt so enlightened by the sad reality of all of humanity: a century from now, you and I, and everyone else on earth will be dead and buried in different places.
Sesampai saya di halaman ini, saya bergegas berjalan menuju makam, yang tinggal beberapa meter lagi. Ketika saya dekat dengan kuburan, saya teringat tentang masa-masa sulit perjuangannya. Sebagai generasi sekarang, kita harus menghormati perjuangan dan kesulitannya di masa lalu karena upaya beliau, kita sekarang hidup dalam damai. Sekitar satu jam, saya tenggelam dalam memori ratusan tahun yang lalu, di mana pemimpin perang ini menyerahkan hidupnya untuk perang. Setelah satu kemudian jam berada di sana, kami beranjak pergi, saya diterangi oleh kenyataan yang menyedihkan dari seluruh umat manusia: satu abad dari sekarang, Anda dan saya, dan semua orang di dunia ini akan mati dan dikubur di tempat yang berbeda.