Kopi kocok, Durian, dalam satu pemburuan
Ceritanya tahun lalu, tidak berselang 2 hari sepulang saya dari daratan tinggi Takengon untuk berburu biji kopi khas daerah itu. Saya kembali di ajak untuk berburu lagi, tapi yang ini bukan berburu biji kopi, melainkan berburu durian yang saat itu sedang datang musimnya, untuk hal ini saya fikir semua orang tidak akan berfikir panjang. Berburu durian yang hanya bisa kita lakukan pada saat musimnya saja, sangat tidak rela untuk di tolak. Tidak hanya itu yang menjadi plan A kami, satu lagi, kopi, lagi-lagi kopi juga menjadi paln B dalam rencana perjalanan kami kali ini.
Malam yang kami habiskan dengan kopi di sebuah cafe yang berada di kota Banda aceh menjadi titik awal untuk membuat rencana matang perjalanan kami. Tange satu daerah yang berada di pedalaman Pidie Aceh menjadi daerah tujuan perburuan durian yang kami rencanakan. Segala rencana sudah kami rancang untuk bisa sampai di Tangse mulai dari dana yang kami semua perlukan, kendaraan, dan yang paling penting dan tidak kami sangka, ada seorang teman yang orang tuanya memiliki kebun durian di daerah Tangse.
Menggunakan mobil double cabin, saya, dan empat lainya, Iwan, Fajri, Vojol, juga Aziz, memulai perjalanan dari kota Banda aceh sekitaran pukul 10 pagi menuju Pidie. Tidak terlalu buru-buru karena memang hari waktu kami melakukan perjalanan kebetulan hari minggu, ini baru perjalan sesama lajang menjalang, cuaca dan udara hari itu juga tidak terlalu terik, melewati gunung selawah sempat beberapa kali kami berhenti untuk membeli kebutuhan dalam perjalanan. Berhubung siang tiba perut kami mulai marah, meminta untuk didisi ulang, kami berhenti di Sigli yang merupakan ibu kota Kabupaten Pidie di sebuah pondok makan lasehan untuk makan siang.
Perut mulai bersahabat kembali, perjalanan kami lanjutkan, yang akan memakan waktu lebih kurang satu setengah jam lagi agar kami bisa tiba di Tangse yang menjadi daerah tujuan awl kami. Perjalanan dari Kota Sigli ke Tangse waktu itu kita tidak akan melulu menemukan jalan mulus, tapi mobil double cabin yang kami kendarain waktu itu membuat perjalanan sedikit mulus, luas jalan waktu itu juga untuk dapat tiba di Tangse tidak begitu lebar, namun itu bisa terhapus karena sisi kiri dan kanan sepanjang perjalanan kita bisa menemukan pemandangan yang begitu menduhkan mata mungkin juga hati, udaranya pun begitu sejuk menusuk relung ha-ha-ha.
Satu jam setengah sudah kami lalui, kami tiba di Tangse yang sudah ditunggu tiga teman yang tinggal di Tangse, yang satunya pemilik kebun durian, asikk asoii. Tak lama beristirahat untuk mengembalikan energi yang tertinggal di sepanjang perjalanan tadi, kami langsung berjalan masih mengendarai kendaraan langsung ke kebun durian. Tidak begitu jauh namun jalan nya cukup terjal yang hanya bisa di lalui satu kendaraan saja. Ini baru benar-benar tiba, tapi ada satu kendala, kami harus memikirkan cara memutar balik mobil yang kami kendarain, untuk menuju arah pulang setelah kami dari kebun nanti. Kami anak muda lajang sejati lagi, tidak boleh menyerah, singkat ceritanya kami berhasil. Perjalanan selanjutnya harus di tempuh dengan berjalan kaki.
Perburuan durian langsung kami mulai setelah sampai di sebuah yang lumanyan besar untuk disebut gubuk. Keseruan yang tiada terbilang berhasil membelai kami dalam perburuan durian itu, tidak begitu banyak yang kami dapatkan di kebun langsung, durian memang hakikatnya tidak bisa di petik, hanya menunggu jatuh dari pohonnya apabila sudah matang. Satu buah untuk satu orang kami rasa cukup. Hari yang sebentar lagi akan menghadirkan senja, membuat kami harus balik kanan, teman yang memiliki kebun durian itu berbisisk,”ada kejutan di rumah nanti jangan pulang dulu”, dipikiran saya yang pertama terlintas kejutan itu adalah “bunga desa”. Baiklah kami jalan pulang. Dan benar adanya , di rumah ada kejutan tapi bukan bunga desa, melibihi itu bahkan, itu dia tumpukan durian yang di simpan di gudang dan siap untuk dimakan sepuasnya. Aduhh kejutan yang tidak bisa dielak.
Makan besar durian berhasil memuaskan kami yang datang lumanyan jauh dari banda aceh, tapi mengenai bunga desa yang sempat saya fikirkan tadi benar adanya, dan lupakan, ini area berbahaya. Plan B kopi kocok, saya dan empat teman lainnya pamit pulang yang juga sudah menunjukkan malam dan harus menuju rencana selanjutnya unruk menikmati kopi kocok yang cukup terkenal di Sigli. Sampai disana suasana warung kopi sederhana itu masih sepi, karena memang kebetulan, susana saat itu kami tiba bertepatan sesaat setelah waktu magrib. Tidak lama kopi kocok langsung datang, kami tidak perlu memesan, pelayan disitu hanya menghitung jumlah kami langsung meracik kopi kocok tersebut, dan itu satu-satunya menu minuman yang ada di warung itu waktu itu, juga yang berkunjung kesitu khusus untuk meneguk kopi kocok.
Setelah puas menikmati kopi dan berfoto sebagai kenangan kami, kami memutuskan untuk kembali pulang, rencana pemburuan kami lengkap terasa sempurna. Kopi kocok, durian, dalam satu pemburuan menjadi belaian lenkap yang tak pernah terlupakan.
Kopi dan Air Mata
Keep calm and steem on
Salam Komunitas Steemit Indonesia