Seperti yang pernah saya tuliskan tentang petualangan kami di Pulau Bunta di postingan berjudul Got Lost in Pulau Bunta -
atau kamu juga bisa membaca kepingan kenangan saya yang lain di blogpost berjudul Kelap-kelip di Langit dan Laut Pulau Bunta-, pulau ini telah memberikan kesan yang mendalam dan kenangan yang tak terlupakan selama otak saya tak bermasalah.
Pulau Bunta telah mempesona saya begitu parah sampai selalu ada rindu yang menyelinap dan hadir di relung hati saat mengingat kunjungan saya ke pulau ini. Saya tak bisa melupakan kenangan melihat kelap-kelip binatang bioluminescent di sepanjang pinggiran pantai di depan kemah kami. Di saat yang bersamaan, langit pun memamerkan pemandangan hits-nya yang mencuri perhatian. Saya mendongak ke langit selama beberapa menit lalu menunduk ke deburan ombak di pantai selama beberapa menit pula untuk melihat kerlip hijau yang dipermainkan arus. Wajar saja Pulau Bunta membuat saya terpukau begini rupa. Alamnya keren!
Mengelilingi pulau yang nyaris tak berpenghuni ini (ada beberapa rumah tapi hanya ditinggali sementara) sangat menyenangkan. Bagi pencinta botani, zoologi, ornitologi, entologi, geologi, dan segala ilmu yang berhubungan dengan alam, tempat ini surga banget deh. Meski jarang penduduk, tak perlu takut kesasar, jauhi saja dataran tinggi. Dan selama kita masih melihat laut, semua akan aman-aman saja.
Saya paling senang ketika menyusuri jalan-jalan utama di daerah pemukiman di Pulau Bunta. Rumah-rumah panggung dari papan dan beratapkan seng atau daun rumbia terletak saling berjauhan. Tak semua rumah dilengkapi sumur. Namun ada sebuah MCK umum yang tersedia. Salah satu rumah yang saya temukan saat berjalan-jalan, sumurnya berada di halaman depan rumah. Sumur ini dibiarkan terbuka begitu saja. Untuk menghalangi dedaunan yang gugur masuk ke dalam sumur, bagian atasnya dibentangkan jaring-jaring dari benang nilon.
Jalan-jalan setapak di beberapa lokasi membuat kita seperti berada di negeri dongeng. Ranting-ranting belukar setinggi lebih dari 2 meter membentuk lorong panjang yang memberi kesan misterius, membangkitkan rasa penasaran ke mana lorong ini akan berakhir?
Bagi yang senang dengan geologi, di Pulau Bunta ini kita bisa menyaksikan lempengan bumi yang terdorong naik dan membentuk tebing yang eksotis. Salah satu tebing ini menjadi tangga yang cukup mendebarkan ketika dipanjat. Di puncak tebing, terdapat jalur yang bisa dilalui untuk menuju Mercusuar Ujong Eumpe. Melewati jalur di pinggir tebing ini juga tak kalah mendebarkan. Jika salah melangkah, tubuh bisa terjun bebas ke dalam laut dan menimpa batu karang di bawah.
Antre memanjat tebing
Salah satu makhluk hidup yang tinggal di dasar tebing Ujong Eumpe, Pulau Bunta
Jika saya punya banyak uang, yah andai hasil menulis di Steemit ini nanti bisa menghasilkan uang ratusan juta (insya Allah), saya ingin memiliki sepetak tanah di pulau ini dan mendirikan rumah sederhana yang menghadap laut. Punya sumur berair jernih di samping rumah, ada kebun kecil di belakang rumah yang sudah saya pagari agar babi hutan tak merusak sayuran yang saya tanam. Di bagian depan ada pondok kecil bermeja untuk leyeh-leyeh, membaca buku, sarapan dan makan siang. Akan ada pohon yang cukup besar untuk saya gantungkan ayunan dan hammock di samping pondok. Ada satu atau dua kursi untuk berjemur di pantai. Setelah rumah itu terealisasi, saya akan belajar mengelola dan mendaur ulang sampah. Setiap sore, saya bisa jogging di pantai atau di sepanjang jalan setapak mengeliling pulau.
Entah kapan cita-cita ini dapat tercapai. So far, saya hanya mampu menuliskan ini dulu sebagai doa dan semoga Allah mengabulkan. Doakan saya ya. :D
Kalau kamu, apa impian di masa depan yang ingin kamu capai?