ENG
Assalamu'alaikum, do Steemian friends still remember this song? "From Sabang to merauke lined up the islands, connect so that one is Indonesia". The title of this mandatory song is From Sabang to Merauke which is a creation from R. Suharjo. This song is very often we hear especially for those who take basic education in Indonesia.
Here I will discuss a little about the monument Zero Kilometer which is the most western tip of Indonesia is the island of Sabang. Zero Kilometer monument is a building that was inaugurated by Vice President Try Sutrisno on September 9, 1997. Initially Zero Kilometer monument is not like this, but after the rehab makes this monument more fascinating. Just information Steemian friends, recently I heard the news that the outermost island is actually still there Lhee Blah island, the island is fairly small. But I still have not found the answer why the zero kilometer monument is not built there.
According to information I know this monument has several philosophies among others. This building consists of four pillars that look made to support the monument, these four pillars are reported to symbolize the four regions in Indonesia the outermost from Sabang to Merauke and from Mianggas to the island of Rote. These four regions are the outer limits of the sovereignty of the State of Indonesia.
In the monument there is also a very visible circle shape, this form of circle is as an analogy of the number zero in accordance with the purpose of which is to be conveyed by this monument. On the four sides of the pillar there are also four rencong, rencong is a weapon used by the people of Aceh against the invaders, rencong also often used as a logo peculiarity in Aceh. Because each region of course has its own unique weapon.
Rencong is seen in the sarong, I initially wonder why the tip of rencong is not pointy. It turns out that the rencong is in a sarong, based on the information I can turn out this symbolizes that the fight against the invaders has been completed. On the pillars beside rencong there are also octagonal stars that show the development of the teachings of Islam.
Zero Kilometer monument is located not far from the city of Sabang, to get to this monument we only takes about one hour, this is because the road to the monument is winding, but the air on the trip is very cool this because in this area of trees - trees are still very shady.
There is a little thing I love my friends Steemian, when I visit this monument, I see very many graffiti on the wall. I think it just happened in the old monument, it turns out when the new monument was built there are also jail hand that pollute this amazing place.
If friends are in front of this zero kilometer monument, friends can breathe in the air and feel the breeze from the Indian Ocean directly, the water is very blue, even if friends of friends can see sunset here. But make sure friends are not alone because when turning from this monument friends must pass a lonely road, so be careful.
INA
Assalamu’alaikum, apakah Teman-teman Steemian masih mengingat sebait lagu ini ? ”Dari Sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia”. Judul lagu wajib ini adalah Dari Sabang Sampai Merauke yang merupakan ciptaan dari R. Suharjo. Lagu ini sangat sering kita dengar khususnya bagi kita yang menempuh pendidikan dasar di Indonesia.
Berikut saya akan sedikit membahas tentang tugu Nol Kilometer yang ada ujung paling barat Indonesia yaitu Pulau Sabang. Tugu Nol Kilometer ini adalah bangunan yang diresmikan oleh Wakil Presiden Try Sutrisno pada tanggal 9 September 1997. Awalnya Tugu Nol Kilometer ini bukan seperti ini, namun setelah di rehab menjadikan tugu ini semakin mempesona. Sekedar informasi teman-teman Steemian, baru-baru ini saya mendengar kabar bahwa pulau terluar sebenarnya masih ada pulau Lhee Blah, pulau ini terbilang sangat kecil. Namun saya masih belum menemukan jawaban mengapa tugu nol kilometer tidak di bangun disana.
Menurut informasi yang saya ketahui monumen ini memiliki beberapa filosofi antara lain. Bangunan ini terdiri dari empat pilar yang terlihat dibuat untuk menyokong tugu, empat pilar ini kabarnya untuk melambangkan empat daerah di Indonesia yang terluar yaitu dari Sabang sampai Merauke dan dari Mianggas sampai pulau Rote. Empat daerah ini adalah batas terluar kedaulatan Negara Indonesia.
Pada tugu tersebut juga terdapat bentuk lingkaran yang sangat terlihat, bentuk lingkarang ini adalah sebagai analogi dari angka nol sesuai dengan tujuan dari yang ingin disampaikan oleh Tugu ini. Pada ke empat sisi pilar juga terdapat empat rencong, rencong adalah senjata yang digunakan oleh masyarakat Aceh untuk melawan penjajah, rencong juga sering dijadikan logo kekhasan di Aceh. Karena setiap daerah tentu memiliki senjata khasnya.
Rencong ini terlihat berada dalam sarung, awalnya saya heran mengapa ujung dari rencong ini tidak runcing. Ternyata rencong tersebut berada dalam sarung, berdasarkan informasi yang saya dapat ternyata ini melambangkan bahwa perjuangan melawan penjajah telah selesai. Pada pilar di samping rencong juga terdapat bintang-bintang segi delapan yang menunjukkan pengembangan ajaran islam.
Tugu Nol Kilometer ini terletak tidak jauh dari Kota Sabang, untuk bisa sampai tugu ini kita hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam saja, hal ini karena jalan menuju ke tugu ini berliku-liku, namun udara di perjalanan sangat sejuk hal ini karena di daerah ini pohon-pohon masih sangat rindang.
Ada hal yang sedikit saya sayangkan teman-teman Steemian, ketika saya mengunjungi Tugu ini, saya melihat sangat banyak coretan-coretan di dinding. Saya pikir hal tersebut hanya terjadi di tugu yang dulu, ternyata saat sudah di bangun tugu yang baru masih juga ada tangan-tangan jail yang mengotori tempat yang menakjubkan ini.
Jika teman-teman berada di depan Tugu nol kilometer ini, teman-teman dapat menghirup udara dan merasakan hembusan angin dari samudera Hindia langsung, airnya sangat biru, bahkan jika teman-teman berutung teman-teman dapat melihat matahari terbenam di sini. Namun pastikan teman-teman tidak sendirian karena ketika balik dari tugu ini teman-teman harus melewati jalan yang sepi, sehingga berhati-hatilah.