Saat ini, jalan bareng sahabat bagi ku hal yang sangat mahal. Sebegitu mahalnya hingga tak bisa di nilai dengan uang. Seiring berjalannya waktu, jarak dan kesibukan adalah kendala utama kami untuk berjumpa.
Hingga suatu ketika, moment langka ini terjadi. Aku, Sani, Ari, Kemal dan Khairil berkumpul di Banda Aceh. Kami berlima berkumpul dan hanya ada waktu satu hari saja. Rasanya bosan jika hanya duduk di kedai kopi, akhirnya moment spesial ini, kami rayakan dengan berjalan sejauh 67 Km, Banda Aceh - Puncak Geurutee.
Matahari sudah tinggi, sisa hujan pagi tadi memberi sentuhan kesejukan perjalanan kami. Perjalanan kami pun di mulai. Tadabur alam Aceh dalam satu hari.
Lets Get Lost
1. Pantai Kuala Cut Km 11
Letaknya bersebelahan dengan pantai Lampuuk, Pantai ini lebih privasi dan tenang. Landscape laut yang biru dan perbukitan Lhoknga, sangat menawan hati. Sekelompok pemain Kite Surfing hilir mudik menaklukkan angin menambah semarak suasana pantai. Kami duduk di atas pasir, membiarkan sang mentari menerpa wajah kami. Mengenang kisah masa yang telah lampau yang pernah kami lalui.
2. Pantai Lhoknga Km 17
Pantai ini tak bisa untuk tidak disinggahi. Dulu pantai ini menjadi tepat favorit kami bermain-main dengan ombak dan bermain bola pantai sambil menunggu matahari tenggelam. Pantai ini tidak banyak berubah, dan kami pun berjalan menyusuri pantai Lhoknga yang penuh nostalgia.
3. Jembatan Leupung Km 24
Jika sudah bersama, semua tempat terlihat menarik. Jembatan Leupung dengan view bukit- bukit yang berpadu dengan Sungai atau Krueng, tak bisa kita bilang tidak indah. Kami pun berhenti sejenak, sekedar untuk menikmati setitik keindahan karya Tuhan.
4. Rumah Makan Kaki Kulu Km 43
Makan siang di rumah makan ini memang sudah kami rencanakan. Meski rumah makan ini tampak sederhana, tapi hidangan yang sisajikan menggugah selera. Bumbu rempah Aceh, membuat masakan di sini sangat khas. Ikan bakar, gulai ikan asam keu'ung, tumis ikan keumamah dan tentu makanan yang menjadi favorit ku, Gulai Pliek U Cue.
4. Hutan Cemara Pasie Raya Jantang Km 46
Jika perut sudah kenyang, matapun ingin terpejam. Kami memutuskan untuk berteduh di bawah hutan cemara laut di pantai Pasie Raya Jantang sambil menyeruput kopi hitam khas Aceh. Semilir angin dan nyanyian ranting cemara mengiringi ombrolan santai kami. Suasana pantai nelayan. Tampak dikejauahan nelayan menarik pukat dan menebar jala. Di Teluk Jantang ini memang terkenal sebagai penghasil ikan Tuna.
5. Air Terjun Suhom Km 47
Air tumpah ruah. Aliran sungainya meluap-luap. Sudah lama tak menyapa air terjun ini, seolah ia marah dengan kami. Air terjun jernih dan tenang yang dulu adalah tempat kami mandi, terlihat keruh sekali. Debit airnya cukup banyak, tapi berwarna coklat. Tadi malam hingga pagi hujan cukup deras, mungkin itulah penyebabnya. Sekedar menyapa, tak lama kami melanjutkan perjalanan.
6. Persawahan Lamsujen Km 56
Perjalanan kami berlanjut. Perbincangan hangat masih mengiringi perjalanan ini. Belum jauh berjalan, Sani tiba-tiba menghentikan mobil. Dengan senyuman yang khas dia berkata,
"Coba lihat persawahan itu, padi sudah menguning, burung tampak bergerombol terbang kian kemari. Masih ingatkah dulu kita selalu mengusir burung jika padi mulai menguning?"
Rasanya baru kemarin kita berlarian di pematang sawah mengejar burung. Waktu memang cepat berlalu. Kami turun sejenak, melihat lebih dekat sawah, mencium aroma pohon padi, yang sudah lama tak kami rasakan.
7. Puncak Geurutee Km 67
Geurutee, adalah ujung perjalanan kami. Penatapan menawarkan pemandangan sangat mempesona. Pulau Ujong Seudun dan pulau Keluang menambah keindahan penatapan ini. Kami berhenti disalah satu kedai. Duduk menatap ke arah lautan. Obrolan kami ditemani oleh pisang goreng hangat. Waktu bergulir membawa senja. Meski enggan beranjak, tapi kami harus pulang. Kembali ke dunia kami masing masing dan entah kapan kisah seperti ini terulang kembali.
Salam Kaki Lasak, Kemanapun Kaki Dilangkahkan
Follow Me :
Steemit @ kakilasak
Facebook @ husaini_sani
Instagram @ ucok_silampung & @ kaki_lasak
Whatsapp +6282166076131