27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meledakkan dirinya. Gemuruhnya memekakkan telinga. Bumi ikut bergetar. Siang berubah bak malam. Ribuan korban meninggal. Peristiwa itu sudah 134 tahun berlalu, tetapi kengeriannya tetap terngiang. Cerita kedahyatannya turun temurun diwariskan. Tak lain supaya kita peduli, tidak lupa dan tak terlena.
Matahari telah tinggi, sebuah perahu kayu berkapasitas 35 orang yang berlabuh di dermaga Canti memberi aba-aba agar para penumpang segera naik. Aku berbaur dengan rombongan memasuki perahu. Riuh dan riang mengiringi perjalanan kami. Perjalananku sebenarnya menemani seorang sahabatku Bayu. Ia seorang backpacker dari Surabaya. Dia datang ke kota tercintaku, Kalianda. memintaku menemaninya mengeksplor pulau Sebesi. Meski dalam hati takut, tapi rasa malu sebagai putra daerahlah yang akhirnya mengiyakan ajakannya.
Pulau Sebesi. Hari itu adalah pertamaku kesana. Dua jam di dalam perahu terasa sangat lama. Meski dekat, dulu tak pernah terbesit untuk kesana. Maklumlah, pulau tersebut adalah pulau terdekat dengan Anak Gunung Krakatau yang tak lain adalah penerus Gunung Krakatau. Kisah meletusnya sang legenda menjadi trauma bagi kami. Seiring waktu, trauma terkikis oleh rasa ingin bersahabat, bukankah jika kita berbuat baik dengan alam, sang alam pun akan baik dengan kita? Sekedar kata pengibur diri, kuberanikan mengikuti perjalanan ini.
Pulau Sebesi, Ds. Tejang, Kec. Rajabasa, Kab. Lampung Selatan, Indonesia
Ketakutanku sirna oleh sambutan ramah penduduk. Pulau sebesi yang ada dalam fikiranku sangat berbeda dengan kenyataan. Pulau ini sangat subur. Pohon nyiur dan pisang terlihat dimana mana. Penduduk telah ramai, geliat kehidupan desa sangat kental. Tanpak nelayan menebar jala, ibu-ibu menjemur ikan, anak-anak bermain pasir. Lalu kamipun menuju sebuah cottage sederhana, dekat pelabuhan pulau.
"Senja sebentar lagi datang, mari kita berkeliling mencari spot sunset"
Ajakan Bayu membuyarkan lamunanku. Kami pun berkeliling dan bergabung dengan rombongan lain. Kala weekend memang pulau ini ramai oleh pelancong dari barbagai daerah, kebanyakan mereka dari pulau Jawa. Kami. Membaur dan berkenalan. Suasanapun akrab.
Lembayung menampakkan warnanya. Dengan camera SLR dan tripotnya ia tampak serius membidik. Aku hanyut dalam keindahan pulau. Bayang ketakutanku berubah menjadi kenyamanan. Dan siapa sangka, di bawah lembayung senja pulau Sebesi, kini aku berdiri.
Sebuah Kenangan Bersama Indonesian Backpacker Community
Salam Kaki Lasak, Kemanapun Kaki Dilangkahkan
Follow Me :
Steemit @ kakilasak
Facebook @ husaini_sani
Instagram @ ucok_silampung & @ kaki_lasak
Whatsapp +6282166076131